Poll

Silaturahim

Popular Posts

Labels

Label

Google +

Latest Post

CUMA MAKAN MIE BISA JADI JUARA

Written By Admin on Minggu, 12 Februari 2012 | 17.43



Artikel ini dimuat di Tabloid Intajiyah 1 tahun (Maret 2011) yang lalu, diposting kembali sebagai cerita awal untuk melanjutkan kisahnya ...

SECANGKIR KOPI
(Sebuah pengantar dari penulis)

Beberapa pekan yang lalu saya mendapatkan surat undangan Lomba Pengguna Komputer Pelajar (LPKP) Ke-7 yang diselenggarakan di SMAN 1 Tambun Selatan (SMANTAS). Surat yang memang ditunggu setiap tahunnya, karena terus terang event-event lomba komputer semacam ini jarang sekali terdengar di wilayah kabupaten Bekasi. Mulai dari saat itu pula kisah ini ditulis.

Alasan paling utama kenapa saya menulis adalah agar moment ini terdokumentasikan secara tertulis sebagai gambaran perjalanan lomba mulai dari persiapan hingga mencapai kemenangan disamping terdokumentasikan secara visual. Sebenarnya beberapa tahun yang lalu saya sempat menulis kisah semirip ini dengan moment yang sama yaitu pada saat mendapatkan juara 2 & 3 pada LPKP ke-4 tahun 2008 dan terdokumentasikan dialamat www.smpit-thariq.com. Namun justru dokumentasi tersebut hilang terkubur bersama wafatnya website tersebut 2 tahun lalu dan saya belum sempat mem-backup-nya.

Cara penulisan yang akan saya sajikan adalah dengan perspektif (sudut pandang) saya sendiri. Ini dimaksudkan agar jalan ceritanya mengalir sesuai dengan angle yang saya dapatkan walaupun dengan alur maju mundur. Di sini akan sangat terkesan ke-egois-an dari penulis. Saya yakin akan ada banyak kritikan dan kekurangsukaan dan saya telah siap menerimanya dengan besar hati dan bertanggung jawab. Justru itulah yang jadi feedback nilai tambah untuk saya sendiri sebagai “penulis amatir”. Saya butuh koreksi, kritik, dan saran semua.


SURAT CINTA ITUPUN DATANG

“Assalamu’alaikum Pak Adi, ada Pak Faisal?”, tanya seorang berseragam SMA dengan badge SMAN 1 Tambun Selatan. “Oo kamu Gus, ada apa?”, jawab saya. “Ini Pak mau ngasih surat”, lanjutnya. Seorang alumni SMPIT TBZ yang masih saya kenal dan ingat namanya, Bagus Wilar Nugroho mengantarkan amplop putih yang ternyata berisi surat undangan lomba komputer yang akhirnya langsung diserahkan kepada saya karena kebetulan saya guru TIK-nya. Sepucuk surat yang bagi saya bagaikan “surat cinta” yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Rasa penasaran dan semangat yang menggeloralah yang membuat saya mensetarakan itu seperti surat cinta karena setiap tahun surat itu sampai dan setiap tahun event lomba ini kami ikuti, kami hanya bisa puas dengan juara 2 atau juara 3.

Sejarah LPKP bagi saya adalah “eksis”, jargon yang sering digunakan anak-anak jaman sekarang. Eksistensi seorang guru yang ingin sekali mengantarkan anak didiknya berprestasi dan berada di puncak kemenangan dalam sejarah pengabdiannya. Sejarah itu dimulai dari tahun pertama LPKP diselenggarakan. Secara singkat dapat dideskripsikan sebagai berikut. LPKP pertama tahun 2005, tahun ketiga saya mengajar, SMPIT Thariq Bin Ziyad hanya bisa jadi partisipan, sebuah pelajaran berharga untuk memupuk mental juara. LPKP ke-2, SMPIT TBZ tidak ikut serta karena tidak ada undangan yg kami terima, entah apa sebabnya. LPKP ke-3, sejarah menjadi partisipan kembali terulang, namun kali ini lebih terencana. Di tahun ini 2 orang peserta yang kami kirim adalah 2 orang yang akan saya bina selama 1 tahun setelahnya untuk dapat meraih juara ditahun berikutnya. LPKP ke-4, sejarah pertama terukir. Rencana dan strategi yang telah dibuat berbuah, juara 2 dan juara 3  diraih sekaligus. Kisah inilah yang saya tulis dan saya gunakan sebagai motivasi bagi para calon-calon juara selanjutnya. Namun sayang tulisan tersebut kini sudah terkubur (sedih -> mode ON). Mari kita lanjutkan, LPKP ke-5, SMPIT TBZ meraih Juara 3. LPKP ke-6, sama, Juara 3. Maka jadilah rasa penasaran itu muncul dan menggunung, penasaran untuk bisa menjadi JUARA 1. Itu sebabnya kabar kedatangan surat undangan LPKP menjadi surat cinta bagi saya.


RAHASIA YANG INGIN SAYA UNGKAP

Sebenarnya ini adalah rahasia, makanya jangan bilang siapa-siapa. Tapi sesungguhnya ini adalah hal sederhana yang bisa dilakukan siapa saja namun memang butuh kesabaran. Dari mulai LPKP ke-4 sampai sekarang SMPIT TBZ langganan membawa pulang piala juara, ini rahasianya. Mulai dari saat itu saya mengirimkan peserta lomba dari semua level, kelas 7, 8 dan 9 yang sudah saya bina dan persiapkan secara khusus. Mental juara harus disiapkan sejak dini. Maka jadilah semua peserta yang saya ikut sertakan memiliki tugas yang berbeda-beda. Kelas 7 bertugas menyiapkan mental juara, mengamati medan tempur, merasakan pertempuran, menyerap sebanyak-banyaknya pengalaman, dan siap kalah. Kelas 8 bertugas mengokohkan mental juara, bertempur semaksimal mungkin, menjadi kompetitor bagi rekannya sendiri kelas 9, namun harus siap menang dan siap kalah. Kelas 9 bertugas menjadi pemenang, dengan tetap ksatria jika ada lawan yang lebih tangguh dan jadi kalah , karena semua telah tercatat dan menjadi bagian ketentuan Allah SWT.


TEORI ARCHIMEDES

“Hari Ahad Jam 7 teng disekolah !!!, jangan terlambat !”, seru saya kepada siswa-siswa SMPIT TBZ yang akan ikut serta dalam LPKP ke-7 pada Jumat siang itu.
 “Hari ini sengaja tidak ada materi pembinaan lagi, terakhir Kamis kemarin. Hari ini, besok dan Ahad adalah masa INKUBASI dan ga usah bawa buku pada saat hari H nanti”, perintah sekaligus nasehat saya pada mereka.

Apa itu INKUBASI ? mari kita bahas sedikit.
Sekitar abad 3 SM, Archimedes diminta oleh raja Hiero II untuk menentukan apakah mahkotanya 100 % terbuat dari emas murni atau ada campuran logam lain. Archimedes berada dalam kondisi kritis. Ia berpikir, sel-sel otak mulai mengorganisasi diri. Menurut Fisikawan abad 19 Hermann von Helmholtz, dalam menyelesaikan suatu masalah sulit otak kita bekerja dalam tiga tahap: saturasi (pengumpulan ide), inkubasi (pengeraman ide), dan iluminasi (pencerahan). Otak akan mengalami tahap saturasi ketika ia menerima banyak input-input untuk menyelesaikan masalah ini. Input-input ini bisa berupa pengalaman-pengalaman berbagai orang, bisa berupa buku-buku, teori-teori dan sebagainya. Setelah menerima input-input itu otak akan mengalami masa inkubasi. Di masa inkubasi ini, aktivitas otak terus berlangsung tetapi hanya di alam bawah sadar. Setelah lewat masa inkubasi muncullah ide kreatif yang memberikan pencerahan untuk pemecahan masalah tersebut.

Suatu hari Archimedes berendam di bak mandi, dia melihat ada air yang tumpah. Tiba-tiba ia mendapat pencerahan. Ia melihat bahwa air tumpah karena ada benda yang lebih ringan dari air masuk dalam bak tersebut.

Ya, benda ringan volumenya lebih besar! Inilah jawaban dari persoalan mahkota raja Hiero! Di depan Raja Hiero, Archimedes mengambil suatu bongkahan emas asli yang beratnya sama dengan berat mahkota. Ia menaruh bongkahan tersebut dalam sebuah mangkok. Kemudian mangkok tersebut diisi air hingga penuh. Selanjutnya, emas bongkahan dikeluarkan dari dalam mangkok dan tempatnya digantikan dengan mahkota yang akan diuji keasliannya. Jika permukaan air tepat di bibir mangkok (tidak ada air yang tumpah) berarti emas pada mahkota itu adalah emas utuh, artinya, tidak ada campuran logam di dalamnya. Tetapi jika ada air yang tumpah berarti ada campuran logam ringan di dalam mahkota itu, karena logam ringan volumenya lebih besar. Konon, begitu menemukan solusi ini, Archimedes melompat dari bak mandinya dan berteriak-teriak "eureka... eureka!" (saya sudah temukan!) di jalan raya tanpa mengenakan pakaian (bagian ini jangan ditiru, BAHAYA).

Begitulah saya berpesan kepada mereka. Saya tidak ingin mereka terbebani dan masih pusing dengan soal-soal dan materi lomba. Pembinaan sudah selesai pada H-3, dan inkubasi itu menjadi penting bagi saya untuk mereka. “Santai aja, istirahat, jaga kondisi. Ga usah belajar lagi”, kata saya mengakhiri pesan dan nasihat terakhir pada Jum’at siang itu tanpa lupa menitipkan saran agar bisa Qiyamullail untuk mohon petunjuk dan pertolongan Allah SWT.
Jadi Teori Archimedes lahir lewat proses inkubasi juga. Dan mereka mengerti apa yang saya maksud.


EMPAT LAWAN TUJUH BELAS

Pukul 08.00  tepat kami tiba di SMANTAS. Anak-anak SMPIT TBZ kebetulan diantar ayahnya Firell dengan Panther yang kebetulan juga memang tidak ada mobil yang mengantar mereka karena tadinya akan ada 4 motor yang sedianya membawa 4 orang ini menuju medan tempur. Sebenarnya 4 motor yang sudah direncanakan, awalnya jadi bagian dalam membangun mental pejuang yang tidak mengeluh saat  perjuangan menghadapi rintangan. Tapi, Panther lumayan juga supaya mereka bisa aman dan nyaman sampai tujuan (kebetulan.com).

Rupanya kami adalah peserta terakhir yang tiba ditempat lomba. Seluruh peserta telah hadir dan menempati ruangan yang akan digunakan untuk acara pembukaan. Tapi memang suasananya sedikit berbeda dengan pesan yang saya sampaikan ke anak-anak TBZ. Pagi itu sebagian besar peserta tengah sibuk dengan buku-buku dan contoh-contoh soal ditangan mereka sesaat sebelum acara pembukaan dimulai. Lomba yang tinggal beberapa menit lagi dimulai belum menjadi fokus mereka, tapi kertas-kertas berisi tulisan dan angka-angka yang memusingkan kepala justru jadi sarapan pagi mereka. Itu yang tidak boleh terjadi pada siswa-siswa binaan saya.

Sepuluh menit acara pembukaan berlangsung. Ketika ketua panitia melaporkan jumlah peserta, ada hal yang membuat saya kaget. SMP yang menjadi juara umum dua tahun berturut-turut mengirimkan siswanya sebanyak 17 orang. Ini angka fantastis dan terbanyak sepanjang kegiatan LPKP diselenggarakan, satu sekolah mengirimkan 17 orang sekaligus dan hal ini sempat membuat saya agak khawatir juga kalau-kalau pulang dengan tangan hampa tahun ini. Namun kekhawatiran itu segera saya tepis agar tidak menular kepada siswa-siswa binaan saya. Walaupun kami hanya mengirimkan 4 orang dan  2 diantaranya benar-benar pemula namun tidak boleh menyurutkan api semangat kemenangan yang telah disulut dan tengah berkobar. Bagi saya ini adalah pertarungan 4 lawan 17. Jumlah sisanya tidak masuk hitungan, karena saya yakin kemampuan siswa-siswa binaan saya.


BABAK PENYISIHAN

Semua peserta LPKP sudah masuk ke ruangan tes untuk babak penyisihan. Babak penyisihan menggunakan metode soal teori tertulis pilihan ganda 60 soal. Jawaban benar dikali 2 dan jawaban salah dikurang 1 dengan menggunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK). Ketika semua peserta sudah siap dengan segala amunisinya dan beberapa saat lagi panitia membagikan soal, saya justru meminta anak-anak TBZ untuk keluar ruangan tes. “Tadi Pak Adi sempet kasih tahu kalian, jangan buru-buru masuk ruang tes, kita ke Masjid dulu sholat Dhuha, eehh Dadan buru-buru masuk semangat banget”, ujar saya setelah mereka keluar ruangan. Saya hanya ingin menyampaikan disaat-saat terakhir ketika lomba akan dimulai untuk dapat menyerahkan segalanya kepada Allah SWT . Shalat Dhuha juga bukan ingin berdoa memperolah kemenangan, tapi untuk tetap menjaga kebiasaan baik yang sudah dilakukan setiap harinya sebagaimana disekolah.

Lima menit cukup bagi saya untuk mengokohkan semangat dan mempersiapkan mental mereka. Dan dengan yakin mereka masuk kembali ke ruang tes dan memulai babak penyisihan. Tinggal saya harus sabar menunggu dengan perut yang belum terisi sama sekali semenjak pagi karena ba’da Shubuh sudah harus berangkat menghadiri agenda pekanan. Akhirnya Opera Mini dan semangkuk mie instan jadi teman menunggu dikantin sekolah itu.


MAKAN MIE

Dua jam telah terlewati, babak penyisihan usai. Sambil sedikit membahas soal, kami menuju kantin. Siang itu saya “terpaksa” makan mie instan dua kali. Satu kali untuk sarapan 2 jam yang lalu, dan sekarang untuk makan siang. Anak-anak TBZ juga ikutan terpaksa makan mie instan karena pilihan makanan yang terbatas  dikantin itu. “Ayo pesan saja, sama minumnya sekalian, Pak Adi yang bayar”, ujar saya bersemangat. Baru kali ini LPKP tidak memberikan makan siang bagi peserta, biasanya minimal nasi padang. Allahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar … Semoga doa makan bisa juga jadi doa kemenangan dan juara walau cuma makan mie.


UPDATE FACEBOOK

“Sesuai prediksi, 2 masuk final, berharap dengan sangat Juara 1 dan 2 dapat disabet/dipecut/dicambuk, apa aja deh yg penting JUARA. Selamat Berjuang nak...”
Demikian kalimat yg terupdate di account facebook saya melalui telepon selular pada pukul 13.27 Ahad siang itu, disertai sejumput harapan dan doa buat mereka. Dua orang kelas 7 SMPIT TBZ harus duluan pulang karena nilai dibabak penyisihan kurang dari angka TUJUH. Peraturan dari juri yang berhak masuk ke babak final adalah yang hasil tes teori tertulis minimal nilai tujuh. Hanya lima belas orang yang berhak bertempur di final. Maka jadilah Farhan Pradika dan Aghnizar Nafirell harus gugur ditengah pertempuran dan langsung dijemput oleh malaikat bermobil panther yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayahnya Firell.

DADAN YANG CEMERLANG

“Gimana ?”, tanya saya penasaran sesaat setelah Dadan dan Saqfi keluar ruang Lab Komputer. Saya khawatir mereka berdua banyak menemukan kesulitan. “Tenang Pak … saya sudah upload ke internet”, jawab Dadan dengan santai. Sebuah jawaban yang diluar konteks pertanyaan saya tapi bisa langsung saya tangkap maksudnya. Ternyata disela mengerjakan soal final Microsoft Word dan Excel, Dadan sempat mengupload hasil pekerjaannya ke internet karena kebetulan komputer yang digunakan terkoneksi internet. Ide yang saya yakin tidak terpikirkan peserta lain karena sibuk berkutat menyelesaikan soal. “Ok, kita download lagi !”, ujar saya bersegera. Dengan berbekal Acer Aspire One 10inch yang Dadan bawa serta Nokia 3120 Classic ponsel kesayangannya koneksi internet dapat tersambung tanpa perlu menggunakan kabel apapun. Bluetooth + GPRS. Setelah sukses mendownload langsung saja kami bertiga membahasnya secara singkat. Tak ada kesulitan berarti yang mereka hadapi. “Semua hampir sama dengan latihan Pak !”, jawab Dadan yakin. Namun Saqfi sedikit mengkoreksi hasil pekerjaan Dadan yang menurutnya kurang sempurna dan terdapat kesalahan walaupun Dadan sedikit membela diri. Saya menyimpulkan berarti salah satu diantara mereka betul-betul mengerjakan dengan betul.



BUAH KESABARAN

Jam digital di tangan saya menunjukkan pukul 16.10 WIB. “Kalo jam setengah lima belum dimulai, kita pulang aja yuk, Pak Adi udah bete nih…”, ucap saya dengan wajah yang sudah mulai kusut. Bagaimana tidak, dari pukul 9 pagi setelah peserta mulai lomba sampai jam 4 sore pekerjaan utama saya hari itu adalah menunggu. Tapi pengumuman pemenang baru diumumkan dan dimulai pukul 16.15 WIB.

Dari mulai MC membuka acara pengumuman sekaligus penutupan saya sudah bersikap agak santai, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang harap-harap cemas. Mungkin faktor keletihan dan kebetean membuat saya tidak begitu antusias lagi dengan kata-kata yang yang mengalir dari mulut MC. Tapi kesabaran memang tidak ada batasnya, makanya sebete apapun saya menunggu tetap harus sabar.

Tanpa banyak basa-basi ketua panitia LPKP ke-7 langsung to the point membacakan hasil final karena waktu yang sudah semakin petang. ”Juara ke-3 dengan total nilai 504 diraih oleh peserta dengan nomor 001 atas nama Putra Perdana Haryana dari SMPIT Thariq Bin Ziyad”, ujar ketua panitia disertai gemuruh tepuk tangan peserta lomba yang lain. Entah kenapa hati saya tidak terlalu surprise dengan kalimat tersebut, mungkin karena bukan Juara 3 yang saya targetkan walaupun tetap bersyukur karena minimal pulang tidak dengan tangan hampa. Memang Juara 3 tidak lagi special karena sudah jadi langganan sebagaimana saya ceritakan sebelumnya. Ketua panitia melanjutkan dengan juara 2 yang ternyata diraih oleh SMPN 1 Tambun Selatan yang jadi Juara Umum 2 tahun berturut-turut sebelumnya. Hati dan otak saya langsung bekerja sepersekian detik menganalisa kejadian-kejadian sebelumnya untuk lalu mengambil kesimpulan sederhana. Allah SWT memang sungguh menakjubkan menciptakan manusia yang dilengkapi dengan akal pikiran yang juga luar biasa sehingga otak manusia mampu merefresh kejadian-kejadian sebelumnya dengan sangat cepat. Analisa sederhana saya dalam sepersekian detik itu adalah, kalau saat diskusi ringan pasca keluar Lab Komputer Saqfi sempat mengkoreksi pekerjaan Dadan yang menurutnya kurang sempurna, maka secara logika pekerjaan Saqfi lebih baik dari Dadan. Dadan sudah positif Juara 3, dan Saqfi bukan Juara 2. Secara reflek pula saya langsung memukul pundak Saqfi dengan bergumam, “Saqfi kamu Juara 1 !”. Saqfi Ahmad Rabbani, salah seorang siswa terbaik diantara banyak siswa terbaik di SMPIT Thariq Bin Ziyad lainnya hanya bisa tertegun bingung mendengar vonis dari saya. Pengalamannya menang diberbagai kompetisi bahkan sampai menginjakan kakinya di negeri ginseng Korea tetap membuatnya belum bisa rileks mendengarkan pengumuman pemenang. Dari Juara 3 dan Juara 2 yang telah dibacakan sangat terlihat jelas wajahnya pucat pasi dan keringat dingin ditambah deg-degan dikali salah tingkah dibagi grogi pangkat  gelisah. Kemudian, ”Juara Pertama dengan total nilai 562 diraih oleh peserta dengan nomor 004 dan berhak atas Trophy Juara sekaligus JUARA UMUM LPKP ke-7 se-Jabodetabek tahun 2011 atas nama … Saqfi Ahmad Rabbani … dari SMPIT Thariq Bin Ziyad”, ujar ketua panitia bersemangat disertai lagi dengan gemuruh tepuk tangan peserta lomba yang lain. Bagi saya gemuruh tepuk tangan itu seperti bernada dan berirama melantunkan lagu “We Are The Champion” dari grup band aslinya Queen. Selama TUJUH tahun kalimat ini saya tunggu dan ingin sekali saya dengar semenjak LPKP ke-1 tahun 2005 diadakan, dan sekarang seakan nyaring terdengar di gendang telinga saya sekaligus meluluskan rasa penasaran saya akan Juara 1 sekaligus JUARA UMUM pada event tahun ini.

Alhamdulillah … Kesabaran itupun akhirnya berbuah. Selain Trophy Juara, kami pun berhak membawa pulang piala bergilir yang ukuran tingginya sepinggang orang dewasa dan dibingkai kaca, padahal cuma ada motor yang saya siapkan untuk pulang dan tidak mungkin dibawa menggunakan motor tersebut. Masalahnya sekarang adalah, bagaimana membawa piala sebesar itu ???...

Kamus istilah :

LPKP
:
Lomba Pengguna Komputer Pelajar
SMANTAS
:
SMAN 1 TAmbun Selatan
Backup  
:
Membuat cadangan data
Angle     
:
Sudut pandang, posisi pandangan
Eksis
:
istilah yang diambil dari kata Eksistensi
Inkubasi
:
Pengeraman ide
Archimedes
:
Seorang matematikawan, astronom, filsuf, fisikawan, dan insinyur berbangsa Yunani penemu Hukum Archimedes
Panther                 
:
Macan Kumbang yang dijadikan tipe mobil merk Isuzu
Opera Mini           
:
Aplikasi browser internet yang digunakan di telepon selular
Upload                  
:
Mengirimkan file dari komputer kite ke internet
Download             
:
Mengambil file dari internet ke komputer kita
Microsoft Word   
:
Aplikasi pengolah kata
Microsoft Excel     
:
Aplikasi pengolah angka
Acer Aspire One   
:
Jenis Netbook buatan Acer
Bete                       
:
BT = BoringTerus = Bosan
MC         
:
Master of Ceremony / Pembawa Acara
To the point
:
Langsung ke pokok persoalan
Surprice 
:
Kejutan
Refresh                  
:
Menyegarkan kembali
                               


Penulis :
Syahruddin Setiadi
Guru TIK (Teknologi Informasi & Komunikasi)
SMPIT Thariq Bin Ziyad

Ternyata Facebook sudah “Diramalkan” sejak 14 Abad Silam

Written By Admin on Rabu, 08 Februari 2012 | 20.12

palingseru.com - Suatu ketika selepas Ashar di Masjid Al Hikam. Di salah satu pojok masjid tersebut terdapat Ranid dengan dua orang temannya yakni Ahmad dan Ilmi yang terlihat sedang mendiskusikan sesuatu. Kali ini tema yang diangkat seputar masalah I’jazul Quran (Mukjizat Al Quran). Diskusi yang berjalan cukup santai namun sarat akan ilmu.

Ahmad adalah seorang mahasiswa salah satu PTS di Jakarta dengan program studi Matematika. Seorang calon pengabdi masyarakat dengan ilmunya. Ahmad selalu berupaya mengaitkan Al-Qur’an dengan bidang studinya matematika. Ahmad sering berkutat dengan angka-angka dalam Al-Qur’an.


Ahmad pun memulai diskusi. “Subhanallah alquran itu bener-bener mukjizat. gw pernah baca di Internet bahwa ternyata kata Yaum (hari) di dalam alquran sebanyak 365 kata sama seperti jumlah hari dalam satu tahun, kata syahr (bulan) disebutin 12 kali sama kayak jumlah bulan dalam satu tahun, sab’u (minggu) disebutin 7 kali sama dengan jumlah hari per minggu. Belum lagi kata-kata yang berlawan kata. Misalnya ad dunya 115 kali, al akhiroh juga 115 kali. Malaikat 88 kali sedangkan asy syayathin 88 kali juga. Al hayat 145 kali begitupun dengan Al Maut yang juga 145 kali. Belum lagi angka 19 yang disebutin dalam alquran surat Al Mudatsir ayat 30. Sebetulnya masih banyak tapi mending antum liat di internet aja nafsi-nafsi, tinggal tanya mbah google ketik key word nya keajaiban angka dalam alquran,” Celoteh Ahmad sekaligus mengakhiri presentasinya.

[IMG]

Tiba giliran Ranid memaparkan pengetahuannya seputar masalah mukjizat Quran. Ranid memang sangat menyenangi diskusi-diskusi tentang kajian Islam berhubung program studi Ranid adalah bahasa Arab yang ia geluti di salah satu Ma’had Lughoh di Jakarta. Maka ia akan memaparkan sepengetahuannya tentang I’jazul Quran dari sudut pandang bahasa.

Setelah mengucapkan basmalah seraya memuji Allah dengan hamdalah, serta sholawat kepada Nabi SAW. Ranid pun mulai berkata “Mumtaz! ustadz Ahmad mantep dah penjelasannya, giliran ane ya? Gini jadi mukjizat kalo diliat dari segi bahasa maka secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘senjata’ untuk melemahkan terhadap tantangan dakwah yang ada. Contoh di zaman nabi Musa AS berhubung waktu itu sihir sedang ngetrend-ngetrendnya maka Allah kasih mukjizat nabi Musa AS ‘menyerupai’ sihir, tapi bukan sihir, dengan tongkatnya yang terkenal. Bisa berubah jadi ular, ngebelah lautan, dsb. Trus di zaman nabi Isa AS berhubung waktu itu ilmu kedokteran lagi maju-majunya maka Allah kasih kepada nabi Isa AS mukjizat yang berhubungan dengan dunia pengobatan. Nah, di zaman Rasul SAW pada masa itu kaum jahiliyyah terkenal akan syairnya yang luar biasa Indahnya. Maka Allah pun memberikan kepada Nabi SAW berupa alquran sebuah mukjizat yang begitu sangat tinggi dan sarat akan nilai sastranya.”

Ranid masih melanjutkan pemaparannya “bahkan Allah nantangin mereka kaum kafir untuk buat satu surat saja yang semisal dengan alquran. Coba ente berdua buka Al-Baqoroh ayat 23
‘dan jika kamu meragukan Al-Quran yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) maka buatlah satu surat semisalnya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang yang benar,’
dan dilanjutan ayatnya, bahwa Allah sudah kasih garansi, mereka pasti gak akan mampu ngebuatnya. Pernah ada kisah tentang Musailamah Al-Kadzdzab yang coba-coba buat alquran tandingan. Salah satu suratnya niru-niru al-fiil. Dan surat gadungan itu ditertawakan banyak orang karena diliat dari sisi bahasa dan maknanya betul-betul jelek. Dan satu hal lagi cuma alquran kitab suci yang bisa dihafal oleh jutaan manusia walaupun manusianya itu sendiri pun tidak mengetahui arti alquran. Bahkan uniknya juga, hafalannya tersebut lengkap sampai titik dan komanya. Subhanallah maha benar Allah dalam firmanNya ‘dan sungguh Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan’ Al-Qomar ayat 17,” Ranid pun mengakhiri makalah yang dibawakannya.

Selanjutnya giliran Ilmi yang mendapat giliran menjelaskan mukjizat quran berdasarkan studi yang ia geluti. Ilmi adalah seorang mahasiswa IT di salah satu PTS di Jakarta. Berbeda dengan kedua orang sahabatnya tadi, Ikhwan lajang ini tengah mengerjakan tugas akhir dalam perkuliahannya. Hal ini dikarenakan Ilmi terlebih dahulu kuliah selepas SMA daripada Ahmad dan Ranid yang sempat menunda jenjang akademisnya.

Lengkap dengan stelan kacamata khas para hacker di film Hollywood, Ilmi pun memulai pembicaraannya. “sebenernya ane belum mau mengatakan ini mukjizat atau gak? terus terang ane gak berani. Tapi salah satu point yang pernah ane dengar dalam seminar Qur’an bahwa kenapa Qur’an disebut mukjizat tak lain dan tak bukan adalah karena kebenarannya dalam ‘meramal’ masa depan. Betul gak Ran?” Ilmi bertanya pada Ranid. Ranid pun mengiyakan pernyataan Ilmi dengan mengaggukan kepala, seolah tak mau kehilangan pemaparan dari Ilmi sahabatnya.

Ilmi melanjutkan “surat al-lahab contohnya, di situ Allah memastikan bahwa Abu Lahab bakalan tetep kafir dan masuk neraka. Dan ketika surat itu turun di Mekkah, Abu Lahab ternyata masih hidup. Sekarang coba antum bayangin kalo seandainya Abu Lahab itu tergerak hatinya untuk masuk Islam atau pun pura-pura masuk Islam maka Al-Quran akan dipertanyakan kebenarannya dari dulu sampai sekarang. Ataupun di surat Ar-Rum di situ dijelaskan bahwa Romawi bakalan menang melawan Persia. Dan itu subhanallah terjadi beberpa tahun kemudian. Setelah pada peperangan yang sebelumnya Romawi kalah maka pada peperangan selanjutnya Romawi menang telak.

Dan satu lagi peristiwa fathul Mekkah di surat Al-Fath. Allah memastikan kaum Muslimin akan memasuki Mekkah setelah sekian lama hijrah ke Madinah. Dan subhanallah hal itu terbukti.”

Fenomena Al-Fisbukiyyah dalam Al-Qur’an

“Ah itu mah dari aspek sejarah Mi, coba dari aspek IT sesuai sama studi ente?” Tanya Ranid seolah menantang Ilmi. “Weitss, tenang-tenang ane kan belum selesai jelasinnya, ana lanjut ya!” Jawab Ilmi. “Nah berhubung tadi ane bilang ana gak berani nyebut ini mukjizat atau nggak, maka ane akan bilang ini kehebatan Quran.” Ilmi masih melanjutkan, sementara kedua rekannya Ahmad dan Ranid masih terus diam dan menyimak kata per kata yang akan terlontar dari mulut Ilmi. “ente berdua tau gak, bahwa sejak 1400 tahun yang lalu alquran sudah menyinggung tentang Facebook dan kawan-kawannya?!” Ahmad sang Cagur (Calon Guru) tertegun diiringi dengan tertawa kecil seolah tak percaya statmen Ilmi. Lain lagi dengan Ranid yang masih berpikir dan mencari-cari bahwa apakah benar kata Facebook ada di dalam alquran. Dengan mencoba mentashrif pola-pola fi’il.

Ilmi meneruskan kembali pemaparannya “Ahmad, coba ente berdua buka surat Al-Ma’arij ayat 19-21

“‘Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan dia jadi kikir.’

Ayat ini menjelaskan fenomena jama’ah “Al-Fisbukiyyah” secara umum. Coba ente-ente liat wirid-wirid mereka.

Kebanyakan isinya keluh kesah. Temanya udah mirip sinetron mendayu-dayu sampai bikin air mata keluar. Sakit dari mulai bisul, cantengan, jerawat, sampai ayan di update di status. Cuaca juga gak ketinggalan. Dikasih hujan, ngeluh gak bisa kemana-mana. Dikasih panas ngeluh kepanasan. Segala maksiat juga disebarin di muka umum. Masalah duit abis, rezeki seret terus dan terus di suguhkan. Ibadah juga ada beberapa yang dipublikasikan puasa, sedekah, tapi alhamdulillah ane belum menemukan ada orang yang lagi sholat update status ‘lagi roka’at dua nih’ naudzubillah kalo sampai ada!” canda Ilmi.

Ahmad dan Ranid pun tertawa dan mengaminkan ucapan Ilmi. “Terus di ayat setelahnya dikatakan ‘apabila dapat kebaikan maka ia kikir.’ Ane rasa betul ayat tersebut. Coba ente berdua hitung ada beberapa orang yang update status semisal alhamdulillah dapet rezeki, buat yang mau ditraktir harap tunggu di depan masjid. Kira-kira ada gak status kayak gitu. Giliran dapat rezeki yang melimpah pada pelit gak mau orang lain pada tau, tapi giliran ditimpa musibah di share kemana-mana.”

“Ah, lo iri aja kali jangan sok jaim deh?!” Kali ini Ahmad yang bertanya kepada Ilmi. Ilmi pun menjawab “ane rasa jaim itu perlu, dalam konteks JAIM, Jaga-Iman berkaitan dengan hal malu, ane tidak mengharamkan update status, akan tetapi alangkah baiknya update-nya itu yang baik-baik pokoknya temanya mengajak kebaikan dari quran, hadits, sahabat, ataupun salafush sholih. Inget akh dalam hadits riwayat Bukhori dikatakan Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu. Ulama bilang bahwa jika kita udah gak malu sama Allah dan tidak merasa diawasinya maka tunaikan saja hawa nafsumu dan lakukan apa yang kau inginkan.” Jawab Ilmi.

Ranid tak menyangka sahabatnya Ilmi dapat menarik dan mengaitkan surat Al-Ma’arij ayat 20-22 dengan fenomena Facebookers yang bergentayangan di dunia maya. Alhamdulillah bertambah satu lagi pengetahuan Ranid pada hari itu. Sungguh Ranid sejatinya sudah sering membaca atau bahkan menghafalkan surat ini. Namun dikarenakan kurang men-tadabbur-i ayat ini maka alangkah kagetnya ia mendengarkan penjelasan yang dipaparkan oleh sahabatnya Ilmi.

Diskusi kali ini pun berakhir seiring dikumandangkannya adzan maghrib sebagai pertanda masuknya waktu sholat maghrib.

Valentine’s Day; Ritual Cinta Yang Membodohi Remaja

Written By Admin on Selasa, 07 Februari 2012 | 19.24


dakwatuna.com – Tanggal 14 Februari telah menjadi hari special yang ditunggu-tunggu oleh para remaja di dunia, tak terkecuali remaja di Indonesia. Mereka terlanjur meyakini hari ini sebagai hari kasih sayang yang harus diisi dengan perayaan istimewa. Mulai dari saling tukar kado, menyatakan cinta, ciuman, sampai seks bebas merupakan aktivitas yang turut mewarnai valentine’s day.



Sejarah Valentine’s Day

Valentine’s Day yang kini dimaknai sebagai hari kasih sayang, tidak muncul dan diperingati begitu saja. Terdapat beberapa versi tentang asal-usul lahirnya Valentine’s Day. Versi pertama, menurut catatan The World Book Encyclopedia (1998) disebutkan bahwa sejarah Valentine’s Day bermula dari sebuah kepercayaan di Eropa. Kepercayaan kuno ini menyebutkan bahwa cinta burung jantan dan betina mulai bersemi pada tanggal 14 Februari. Burung-burung memilih pasangannya pada hari itu. Berdasarkan kepercayaan kuno di kalangan masyarakat Eropa kala itu, lalu kemudian mereka menganjurkan agar pemuda-pemudi memilih pasangannya di hari yang sama seperti berseminya cinta burung jantan dan betina. Apalagi dalam bahasa Perancis Normandia terdapat kata Gelantine yang berarti cinta. Persamaan bunyi antara Gelantine dan Valentine inilah yang dijadikan dasar penetapan hari kasih sayang.

Versi kedua, menghubungkan Valentine’s Day ini dengan seorang pendeta. Menurut beberapa ahli sejarah bahwa Valentine’s Day diadopsi dari nama seorang pendeta bernama Saint Valentine. Dia ditangkap oleh kaisar Claudius II karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih. Dia juga menolak menyembah Tuhan-Tuhan orang Romawi. Kaisar lalu memerintahkan agar dia di penjara dan pada akhirnya dijatuhi hukuman gantung. Orang-orang yang bersimpati kepadanya, lalu menulis surat tentang kecintaan mereka kepada doa sang pendeta. Surat itu kemudian dipajang dan diikatkan di terali bekas penjaranya.

Sementara versi ketiga mengacu pada sebuah pesta yang dilakukan orang-orang Romawi kuno yang disebut Lupercalia. Inilah versi terkuat yang diyakini kebenarannya hingga saat ini. Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian pensucian di masa Romawi kuno. Upacara yang khusus dipersembahkan untuk mengenang dan mengagungkan dewi cinta (Queen of Feverish Love) yang bernama Juno Februata. Dalam pesta tersebut, para pemuda mengambil nama gadis di sebuah kotak secara acak. Nama gadis yang diambilnya tadi kemudian menjadi pendampingnya selama setahun untuk bersenang-senang.

Bergesernya Makna Valentine’s Day

Seiring berjalannya waktu, tahun 496 M Paus Gelasius I mengubah upacara ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day. Upacara untuk menghormati Saint Valentine yang mati digantung oleh kaisar Claudius. Dia digantung karena melanggar aturan kaisar yang melarang para pemuda untuk menikah. Kaisar Claudius berpendapat bahwa tentara yang masih muda dan berstatus bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan. Lelaki yang belum beristri lebih sabar bertahan dalam perang dibandingkan tentara yang sudah menikah. Oleh Karena itu, kaisar memerintahkan untuk melarang kaum laki-laki untuk menikah. Namun, Saint Valentine menentang kebijakan itu. Dia berpendapat bahwa pemuda-pemudi tetap harus mendapat ruang yang luas untuk melampiaskan hasrat cintanya. Dia lalu secara diam-diam menikahkan banyak pemuda.

Sejak orang-orang Romawi kuno mengenal agama Nasrani, maka pesta jamuan kasih sayang ini (pesta Lupercalia) lalu dikaitkan dengan upacara kematian Saint Valentine. Setelah Paus Gelasius menetapkan tanggal 14 Februari sebagai tanggal penghormatan buat Saint Valentine, maka akhirnya perayaan ini berlangsung secara terus menerus setiap tahunnya hingga sekarang. Hari ini dijadikan sebagai momen untuk saling tukar menukar pesan kasih dan menempatkan Saint Valentine sebagai simbol dari para penabur kasih. Hari Valentine ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga, coklat, dan gua-gula. Hari Valentine juga diisi dengan acara kumpul-kumpul, pesta dansa, minum-minuman alkohol hingga pesta seks. Singkatnya perayaan kasih sayang ini dipersembahkan untuk mengagungkan Saint Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, kepasrahan, dan keberanian dalam memperjuangkan cinta.

Sikap Seorang Remaja

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kaum remaja khususnya pemuda-pemudi Islam? Haruskah mereka ikut hanyut dalam perayaan itu? Tentu jawabannya tidak. Karena Valentine’s Day bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Valentine’s Day bersumber dari paganisme orang musyrik penyembah berhala. Valentine’s Day justru telah merendahkan dan mempersempit makna cinta. Cinta dihargai sebatas coklat, bunga mawar, greeting card, ciuman dan seks bebas. Valentine’s Day juga menyempitkan kasih sayang hanya sehari saja. Padahal dalam Islam, kasih sayang itu perlu diaktualisasikan setiap saat dan di setiap tempat. Bahkan kita diperintahkan untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh manusia.

Perayaan Valentine’s Day juga menggiring remaja untuk melakukan seks. Hal itu dapat kita saksikan dengan jelas dari propaganda mereka. Seorang pakar kesehatan di Inggris bahkan menganjurkan seks di hari Valentine. Direktur kesehatan British Heart Foundation yakni Prof. Charles George mengungkapkan bahwa seks bebas tidak saja membakar 100 kalori dalam tubuh, tetapi juga sangat baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, dia menganjurkan agar masyarakat di manapun, baik tua maupun remaja, hendaknya mengisi perayaan hari Valentine dengan pesta seks.

Olehnya itu, penulis secara pribadi dan sebagai pendidik mengajak kepada seluruh remaja khususnya pemuda-pemudi Islam untuk menjauhi dan tidak ikut-ikutan dalam perayaan ini. Siapa yang ikut merayakan Valentine’s Day berarti dia telah merusak pribadinya sendiri sebagai muslim dan bahkan menjadi bagian dari mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud)

Strategi Pendidikan Karakter Rasulullah

Written By Admin on Senin, 06 Februari 2012 | 20.39


Maraknya kekerasan di Indonesia membuat banyak kalangan merasakan keresahan yang mendalam. Berbagai konflik, bencana dan masalah lain melanda Republik tercinta. Paling menyedihkan tentunya konflik antar kelompok beragama dan kalangan muda. Budaya tawuran antar kampung, pelajar, mahasiswa dan suku masih terjadi.

Kita pantas bertanya, mengapa Indonesia menghadapi krisis kronis dan mengalami erosi moralitas. Perilaku positif hilang termakan zaman digantikan produksi perilaku negatif yang cenderung destruktif. Harga manusia sangat rendah, penghilangan nyawa dianggap biasa dan budaya kecurigaan antar kelompok sangat tinggi.

Merespon fenomena itu, kita layak bertafakur dan merumuskan kembali sendi kehidupan agama dan kesalehan kolektif yang memudar. Salah satunya mengembalikan kembali posisi ajaran Islam yaitu Al Qur’an dan Hadits. Rasulullah secara proporsional, mengakar kuat dan mampu dirasakan sentuhannya dalam kehidupan masyarakat. Ada baiknya, kita juga kembali belajar membaca ulang bagaimana peri kehidupan teladan terbaik yaitu Rasulullah SAW.



Menumbuhkan Karakter Islami

Dalam kacamata kaum muslimin, gejala merusak yang ada di masyarakat terjadi akibat hilangnya karakter dan kepribadian Islam. Kita kecanduan produk Barat yang hedonistik, serba bebas dan berkiblat pada kesenangan duniawi. Konsep permissif itu berdampak rusaknya tatanan kehidupan sosial, kacaunya moralitas dan mengendurnya nilai kebersamaan antar individu.

Jelas, ini konsepsi yang bertentangan dengan nilai Islam yang mengatur tawazun (keseimbangan) kehidupan dunia dan akhirat. Rasulullah SAW dalam membentuk generasi pilihan sangat mengintensifkan tiga kecerdasan yaitu emosional, spritual dan intelektul. Hasilnya dapat dilihat dan dirasakan, dimana banyak dilahirkan pejuang Islam hebat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat lainnya. Ada beberapa prinsip strategis pembentukan karakter Rasulullah kepada para sahabat sebagai generasi penerusnya.

Pertama, Rasulullah SAW sangat fokus kepada pembinaan dan penyiapan kader. Fakta itu dapat dilihat sejak beliau mulai mendapatkan amanah dakwah. Tugas menyebarkan Islam dijalankan dengan mencari bibit kepemimpinan unggul dan berhati bersih. Dakwah beliau fokus tidak menyentuh segi kehidupan politik Makkah. Selain faktor instabilitas dan kekuatan politik, perjuangan dakwah memang difokuskan nilai pembinaan.

Beliau berusaha menanamkan karakter kenabian yaitu siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan fatonah (cerdas). Rumah Arqam bin Abil Arqam menjadi saksi bagaimana ahirnya kepemimpinan Islam dilahirkan. Point penting pertama pendidikan karakter adalah fokus, bertahap dan konsisten terhadap pembinaan sejak dini.

Kedua, mengutamakan bahasa perbuatan lebih baik dari perkataan. Aisyah menyebut Rasulullah SAW sebagai Al Qur’an yang berjalan. Sebutan itu tidak salah, mencermati Sirah Nabawiyah menjadikan kita menuai kesadaran rekonstruksi pemikiran dan tindakan Rasulullah SAW. Beliau berbuat dulu, baru menyerukan kepada kaumnya untuk mengikutinya. Keshalihan individu berhasil membentuk keshalihan kolektif di masyarakat Makkah dan Madinah.

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah saw. terdapat contoh tauladan bagi mereka yang menggantungkan harapannya kepada Allah dan Hari Akhirat serta banyak berzikir kepada Allah” (QS 33 : 21)

Ketika berdakwah di masyarakat Thaif dirinya mendapat perlakuan buruk dilempari kotoran. Pada saat itu datanglah Malaikat Jibril menawarkan jasa. “Hai muhammad jika engkau kehendaki gunung yang ada dihadapanmu ini untuk aku timpahkan kepada penduduk Thaif, niscaya sekarang juga aku lakukan.” Nabi menjawab “Jangan Jibril, semua itu dilakukan mereka karena ketidaktahuan mereka” kemudia nabi berdo’a “allâhumahdî qaumî fainnahû lâ ya’lamûn” “Ya Allah berikanlah hidayah kepada kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui” Alhamdulillah, Allah SWT mendengar doanya, masyarakat Thaif banyak menjadi pengikut Islam. Point penting kedua, berikan keteladanan baru mengajak orang lain mengikuti apa yang kita lakukan.

Ketiga, menanamkan keyakinan bersifat ideologis sehingga menghasilkan nilai moral dan etika dalam mengubah masyarakatnya. Beliau meluruskan kemusyrikan mereka dengan mengajarkan kalimat tauhid yakni meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Karakter tauhid menghasilkan pergerakan manusia yang dilandasi syariat Islam dalam menjalankan kehidupan. Mengutip Nur Faizin (Republika, 13/10) Pendidikan karakter yang terpenting adalah pendidikan moral dan etika. Rasulallah SAW sendiri pun menegaskan hal itu dalam sabdanya, “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak karimah.” (HR Ahmad dan yang lain). Menumbuhkan kembali akhlak karimah haruslah menjadi kompetensi dalam proses pendidikan karakter setiap bangsa.

Akhirnya karakter itu harus memadukan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Rasulullah SAW sudah memberikan teladan itu dengan membangun pendidikan berbasis moral dan etik. Pembangunan pendidikan dapat dimulai dari Pesantren, Kampus dan Sekolah sebagai tempat subur pembinaan sekaligus pemberdayaan karakter generasi muda. Karena dengan moral yang baik dan etika yang berlandaskan ideologi yang benar akan membentuk komunitas masyarakt bangsa yang rahmatan lil alamin.


Oleh: Inggar Saputra
Pengurus Pusat KAMMI dan Peneliti Institute For Sustainable Reform (Insure)

Pendidikan Karakter Ala Rasululloh


Pada dasarnya manusia dilahirkan memiliki karakter yang fitrah. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah.” (HR Bukhari Muslim). Allah SWT juga menegaskan bahwa setiap jiwa manusia telah berjanji untuk beriman kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. Firman Allah: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): `Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: `Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’.”(QS al-A`raf [7]: 172)


Namun, fitrah manusia tidak selamanya dapat dijaga sehingga setiap Muslim dapat menjadi pribadi-pribadi yang bersih dan jujur serta berakhlak karimah. Kemurnian fitrah manusia dapat dengan mudah terkontaminasi oleh pendidikan yang diberikan orang tua, masyarakat sekitar, dan bahkan sistem yang mendukung seseorang menjadi pribadi yang kehilangan karakternya.

Pribadi-pribadi yang kehilangan fitrahnya akan membentuk komunitas yang tidak berkarakter; mereka akan menjadi masyarakat jahiliyah dan cenderung plagiasi. Dalam konteks seperti itulah Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW kepada orang-orang jahiliyah yang hidupnya hanya mengikuti nenek moyang mereka yang tersesat dan menyembah berhala.

Rasulullah SAW mulai mendidik karakter jahiliyah masyarakat Arab waktu itu dengan meluruskan ideologi atau keyakinannya. Beliau meluruskan kemusyrikan mereka dengan paradigma tauhid, yaitu meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan yang berhak disembah dan menjadi tujuan hidup seluruh manusia di muka bumi. Karakter tauhid inilah yang menjadi landasan pendidikan karakter yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam seluruh ajaran-ajarannya. Syariat atau aturan serta undang-undang tidak serta-merta diterapkan oleh Rasulallah SAW. Undang-undang atau sistem yang tidak dilandasi oleh ideologi atau paradigma yang lurus pasti tidak efektif. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW baru mendirikan suatu komunitas setelah beliau mampu mendidik generasi Muhajirin dan Anshar yang berkarakter di Madinah.

Pendidikan karakter yang terpenting adalah pendidikan moral dan etika. Rasulullah SAW sendiri pun menegaskan hal itu dalam sabdanya, “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak karimah.” (HR Ahmad dan yang lain). Menumbuhkan kembali akhlak karimah haruslah menjadi kompetensi dalam proses pendidikan karakter setiap bangsa.

Strategi Rasulullah SAW tersebut patut dijadikan teladan oleh bangsa kita. Tanpa paradigma yang tepat tentang hidup dan tujuannya, undang-undang dan sistem apa pun yang dibuat menjadi sia-sia belaka. Kita semestinya mampu menjaga kemurnian karakter, meluruskannya jika salah, membentuk sistem yang tidak merusaknya, serta mengawasinya dengan sebaik-baiknya. Wallahu a`lam.

Sebelumnya pendidikan karakter yang bakal gencar dilaksanakan di dunia pendidikan Indonesia semestinya dilaksanakan dalam rangka membentuk dan memperkuat karakter bangsa. Karena itu, pendidikan karakter perlu dipersiapkan dengan matang dan dilaksanakan secara bertahap supaya tidak menjadi sekadar pengetahuan atau indoktrinasi.

Selain itu, pendidikan karakter yang dikembangkan sudah seharusnya berakar dari budaya bangsa Indonesia yang menyepakati Bhineka Tunggal Ika. Pendidikan karakter yang ditanamkan pada anak-anak lewat pendidikan formal meliputi nilai-nilai yang khas Indonesia dan nilai-nilai universal.

kata HAR Tilaar, Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dalam diskusi terbatas sejumlah pemerhati masalah pendidikan di Jakarta. “Tidak bisa pemerintah mau gampang saja soal pendidikan karakter. Harus dipersiapkan dulu dasarnya dan bagaimana nanti bisa melaksanakannya dengan baik. Jangan sampai pendidikan karakter yang sebenarnya bagus itu nasibnya sama seperti Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) di masa Orde Baru yang bentuknya indoktrinasi,”

Tilaar juga mengatakan, Bhineka Tunggal Ika mampu menjadi keunikan negara dan bangsa Indonesia di tengah arus globalisasi. Keberhasilan Indonesia membentuk karakter anak-anak bangsa yang mampu hidup berdampingan dalam beragamnya suku bangsa, agama, ras, dan antargolongan akan menjadi kontribusi terbesar bangsa ini di kancah global.

Charlotte K Priatna, Direktur Sekolah Athalia, menjelaskan mudah saja untuk menyampaikan pendidikan karakter dalam teori atau mata pelajaran. Namun, sekolah yang memang berkomitmen untuk membentuk anak-anak yang cerdas dan berkarakter justru harus mampu membudayakannya di dalam diri anak-anak yang didukung semua anggota komunitas sekolah.

“Jangan pendidikan karakter itu cuma letupan-letupan saja. Seperti kantin jujur yang bagus, kini hampir tak lagi terdengar gaungnya. Kita harus komitmen untuk menjalankan pendidikan karakter di setiap sekolah,” kata Charlotte.

Sekolah yang terdiri dari prasekolah hingga SMA tersebut selama 15 tahun menerapkan pendidikan karakter yang berkesinambungan. Di SD, misalnya pendidikan karakter untuk menjadikan siswa yang mandiri bertanggung jawab, sedangkan di SMP membentuk siswa yang peduli dan berbagi. Sementara di SMA diperkuat dengan pembentukan karakter yang mampu memberi pengaruh pada orang lain lewat kepemimpinan serta berkontribusi pada lingkungannya.

Menurut Charlotte, pendidikan karakter untuk anak mesti dibangun dengan memperkuat komunitas sekolah. Orang tua atau keluarga juga mesti terlibat dengan adanya program parenting class yang diadakan di sekolah.

media.kompasiana.com

Pendahuluan, Adab Guru & Murid

Written By Admin on Kamis, 02 Februari 2012 | 16.57


(Said Hawwa). Warisan kenabian adalah acuan pembaruan yang benar, karena misi utama para Rasul alaihimussalam adalah tadzkir, ta’lim, dan tazkiyah. Karena itu, pewaris kenabian yang utuh adalah orang yang mampu menjaga hal-hal ini tetap utuh dan sempurna, melaksanakannya, dan menunaikan hak-hak Allah padanya. Jarang sekali tiga hal ini berhimpun pada seseorang. Ada seorang yang piawai dalam menyampaikan nasihat tetapi tidak banyak berilmu; ada seorang yang banyak berilmu tetapi tidak piawai dalam menyampaikan nasihat; ada seorang yang berilmu dan piawai dalam menyampaikan nasihat tetapi tidak mampu melakukan tazkiyah. Siapa yang memiliki ketiga hal ini maka dia telah memiliki “obat mujarab” kehidupan. Jika tidak maka proses tajdid tetap harus berlangsung di kalangan mereka yang menginginkan dan yang melaksanakannya.

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian nasihat para pemberi nasihat adalah mengingatkan (tadzkirah) kepada ayat-ayat Allah di ufuk dan di jiwa; mengingatkan kepada perbuatan dan hari-hari Allah; mengingatkan kepada berbagai hukuman dan sanksiNya; mengingatkan kepada apa yang dijanjikan, disiapkan, dan diancamkan Allah kepada orang-orang yang bermaksiat atau ta’at kepadaNya.

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian ta’lim para ulama ialah ta’lim Al Qur’an dan As Sunnah yang merupakan penjelasan Al Quran.

“Akan tetapi (Dia Berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Ali Imran: 79)

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian tarbiyah para murabbi ialah memperbaiki hati dan perilaku:

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (Al-Baqarah: 151)

Setiap zaman punya penyakit dan masalah tersendiri, dan sepanjang zaman juga punya penyakit dan masalah tersendiri, sedangkan seorang ‘alim yang rabbani ialah orang yang mampu mengobati penyakit-penyakit kontemporer dan penyakit-penyakit sepanjang zaman. Itulah tanda keberhasilannya dalam tazkiyah.

Semenjak abad pertama telah muncul aliran irja’ (Murji’ah), tasyayyu’ (Syi’ah), kharijiyah (Khawarij), dan i’tizal (Mu’tazilah). Inti ajaran irja’ ialah meninggalkan amal; inti tasyayyu’ ialah berlebihan dalam masalah ahlul bait Rasulullah saw; inti ajaran Khawarij ialah ketumpulan akal, terburu-buru mengkafirkan, tidak menghormati orang yang memiliki keutamaan, dan iman mereka yang tidak melampaui kerongkongan mereka; dan inti ajaran i’tizal adalah terburu-buru melakukan ta’wil yang tidak ilmiah. Aliran-aliran seperti ini dianggap sebagai penyakit sepanjang zaman yang bisa muncul terus-menerus. Demikian pula penyakit yang memiliki sifat langgeng dalam kemunculannya.

“Menjalar di antara kalian penyakit-penyakit ummat sebelum kalian yaitu dengki dan permusuhan…” (HR Ahmad dan Tirmidzi, Hadits ini Shahih)

Selain itu, setiap zaman punya penyakit tersendiri. Di antara penyakit zaman kita ialah apa yang diisyaratkan oleh beberapa nash:

“Ilmu yang pertama kali diangkat dari bumi adalah kekhusyu’an.” (HR Thabrani, hadits ini hasan)

“Tetapi kalian seperti buih banjir…dan sungguh Allah akan menanamkan wahn di hati kalian…cinta dunia dan takut mati.” (HR Abud Dawud, hadits ini hasan)

Anda lihat bahwa zaman kita sekarang ini adalah zaman dimana kekhusyu’an sangat sedikit tetapi cinta dunia dan takut mati sangat mendominasi. Karena itu, seorang ‘alim (guru atau syaikh) yang tidak berhasil menghilangkan penyakit-penyakit ini maka ia tidak banyak bisa melakukan tajdid. Seorang ‘alim harus memiliki kemampuan seperti ini sehingga para murid bisa merasakannya.

Seorang guru dan da’i harus menyelenggarakan berbagai majlis nasihat, majlis ilmu, dan majlis tazkiyah, sehingga mungkin bisa menggabungkan antara yang satu dengan yang lain, atau membuat majlis umum untuk nasihat dan majlis khusus untuk tazkiyah yang menyelenggarakan dzikir dan mudzakarah fardiyah atau jama’iyah dengan membaca sesuatu yang paling cocok dalam hal ini. Sementara itu diadakan pula majlis-majlis yang lain untuk ilmu-ilmu yang rinci seperti tilawah, tajwid, As Sunnah dan ilmu-ilmunya, tafsir, ilmu-ilmu Al Qur’an, fiqh, ushul fiqh dan lain sebagainya.

Titik awal keberhasilan amal ini adalah adab yang mengatur guru dan murid. Selagi tidak ada adab yang mengikat murid dengan gurunya maka tidak akan bisa berlanjut dalam perjalanan. Selagi guru tidak melaksanakan adab ta’lim (mengajarkan ilmu) maka keberhasilannya sangat ditentukan oleh sejauh mana ia melaksanakan adab-adab tersebut. Oleh karena itu, mengetahui adab guru dan murid termasuk hal yang sangat penting dalam perjalanan kepada Allah, bahkan untuk menegakkan agama dan dunia.

Gerakan da’wah yang paling berhasil dalam sejarah Islam adalah gerakan yang menekankan sejak awal pada:
Kepercayaan (tsiqah) kepada pimpinan dan pemimpin, kepercayaan yang menumbuhkan ketaatan hati.
Dzikir terus-menerus dan ilmu yang menyeluruh, yang diperlukan dan yang sesuai .
Keakraban dengan lingkungan yang baik, menghadiri pertemuan-pertemuan –dzikir,ilmu dan lainnya- dan memperkuat berbagai hubungan antar-anggotanya
Penumbuhan adab-adab hubungan yang baik antara dirinya dan manusia secara umum
Pelaksanaan public service (Khidmah ‘aammah) dengan penuh semangat dan perhatian

Gerakan yang menghimpun nilai-nilai ini pada para pemulanya adalah gerakan yang mampu hidup dan tambah. Oleh karena itu, para ulama aktivis harus menekankan nilai-nilai ini agar bisa diserap dan dihayati oleh para pemula sejak awal.

Nuh as. menyeru kaumnya seraya berkata:

“Sembahlah Allah, bertaqwalah kepadaNya dan ta’atlah kepadaku.” (Nuh: 3)

Setiap Rasul menyeru kaumnya kepada hal yang sama.

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (Al Anbiya: 25)

Nabi Hud, Shalih, Syu’aib dan lainnya juga berseru “Bertaqwalah kalian kepada Allah dan ta’atlah kepadaku”

Selama seorang murabbi tidak berhasil menumbuhkan keta’atan yang penuh kesadaran dari seorang murid, membiasakannya melakukan ibadah, dan merealisasikan ketaqwaannya maka sesungguhnya ia belum berbuat sesuatu. Titik awal hal ini terletak pada ihtiram (penghormatan) dan tsiqoh (kepercayaan) seorang murid kepada gurunya, dan kelayakan guru mendapatkan hal tersebut. Semua ini membuat kami harus memulai kajian di dengan Adab Guru dan Murid dari kitab Ilya’. Marilah kita ikuti keterangan Al Ghazali secara langsung.

Koneksi Internet untuk Laboratorium Hasil Kloning

Written By Admin on Rabu, 01 Februari 2012 | 23.20

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari tulisan sebelumnya yang bertajuk 'Kanibalisme dan Kloning, Kiat Hadapi Keterbatasan Fasilitas'.

Sementara itu, ketika saya mulai menikmati ide yang mudah-mudahan bisa jadi inspirasi "cemerlang" -menurut saya- karena muncul sebuah fenomena di kalangan guru komputer/TIK. Tanpa mengurangi rasa hormat dan tanpa bermaksud merendahkan teman-teman guru, ternyata sebagian dari guru komputer teman-teman saya banyak yang tidak mengetahui tentang teori/praktek LAN apalagi PC Cloning.

Selain itu, tidak sedikit yang belum menguasai seluk beluk hardware komputer. Mungkin wajar, semua itu kembali kepada sarana dan prasarana pendukung pada saat belajar TI dulu. Solusinya adalah "belajar lagi" dengan guru-guru komputer yang memang menguasai materi LAN maupun hardware.

Saya dan teman-teman guru komputer memiliki wadah -sama seperti mata pelajaran lain- untuk bisa berdiskusi, berbagi pengalaman dan membuat program peningkatan mutu pendidikan, yaitu MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Dalam wadah itulah kami berusaha berbagi ilmu tentang TI dan saling melengkapi. Salah satu programnya adalah pelatihan LAN dan hardware bagi guru-guru komputer yang belum atau kurang menguasainya.

Tahun kedua mengajar, segalanya berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Berbagai kemudahan ditemui dengan menggunakan PC Cloning. Mulai dari komputer Pentium 1 yang tidak lagi lambat, dapat nge-print langsung karena semua komputer terhubung dalam satu jaringan, dapat berbagi file, dapat berkomunikasi dengan komputer lain, hingga -saya pribadi- dapat belajar membangun situs sederhana dan mengujicobakan dalam jaringan lokal. Subhanallah...

Waktu terus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi dan penyempurnaan kurikulum. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, walaupun KBK sekarang sudah tidak diberlakukan, memuat materi yang menurut saya menjadi beban bagi guru maupun pihak sekolah. Materi tersebut adalah internet yang harus diberikan/diajarkan di kelas 9.

Internet dipandang menjadi beban karena 2 hal; Pertama belum menjadi konsumsi yang umum dimasyarakat dan hanya dikonsumsi oleh kalangan yang terbatas termasuk gurunya. Kedua tidak diimbangi dengan fasilitas atau paling tidak diberikan kemudahan untuk menyediakan fasilitas internet untuk sekolah.

Dua hal di atas menjadi kendala yang menyebabkan materi tersebut sulit untuk disampaikan secara ideal. Salah satu solusi adalah dengan mengajarkannya secara offline dengan segala keterbatasannya. Namun untuk memberikan serta mencerminkan peningkatan kualitas pendidikan hal tersebut, internet cepat atau lambat menjadi sebuah keharusan dan menjadi bagian dari sistem pendidikan.

Melihat tuntutan kurikulum dan perkembangan teknologi komunikasi disertai tanggung jawab sebagai seorang guru komputer/TIK, saya tidak bisa tinggal diam dengan situasi yang tengah terjadi. Maka mulailah saya mencari informasi sebanyak-banyaknya, seperti dahulu mencari informasi PC Cloning, mengenai internet, ISP, instalasi, layanan, tarif, kelebihan, manfaat dan sebagainya. Dengan modal Rp. 4.000 cukuplah untuk mendapatkan informasi yang saya butuhkan di warnet.

Dengan informasi yang diperoleh saya akhirnya memutuskan untuk kembali mengajukan permohonan agar pihak sekolah menyediakan koneksi internet guna keberlangsungan proses belajar mengajar -komputer/TIK- yang ideal. Asumsi awal yang dibangun terhadap pihak sekolah adalah bahwa hal tersebut tidak akan merugikan secara materi pihak sekolah.

Kenapa bisa demikian? Karena selain untuk belajar koneksi internet juga dimanfaatkan sebagai warnet pada jam istirahat belajar. Pemasukan dari hasil warnet dapat menutupi biaya akses internet per bulannya walaupun cuma impas. Dengan asumsi awal tersebut pihak sekolah bersedia mengabulkan permohonan saya.

Alumni STM yang sebelumnya saya ceritakanlah yang akhirnya kembali membantu saya untuk membuat Lab. Komputer saya sekarang untuk bisa terkoneksi dengan internet. Tugasnya adalah men-setting dan menginstalasi, sedangkan saya sebelumnya harus mengurus registrasi koneksi internet hingga selesai. Dari mulai registrasi hingga koneksi tersambung ke semua komputer hanya memakan waktu sepekan dan semuanya bisa langsung dimanfaatkan, karena sebelumnya sudah merupakan LAN (Local Area Network). Jadilah Lab. Komputer yang ada sekarang bertambah lengkap dengan koneksi internet. Alhamdulillah...

Sebagai pelengkap informasi, hal-hal yang perlu diantisipasi dari awal adalah; Pertama, membatasi pemakaian, dalam hal ini download dan upload, karena berhubungan dengan biaya. Saya menggunakan layanan yang masih limited karena keterbatasan anggaran, kecuali jika mampu untuk menggunakan layanan unlimited.

Kedua, menghitung tarif/biaya sewa agar dapat membayar biaya berlangganan setiap bulannya. Sekolah tempat saya mengajar menggunakan sistem full day school, dengan kata lain waktu yang dimiliki untuk menggunakan warnet pada jam istirahat sangat sedikit ditambah batasan pengguna yang boleh hanya kalangan internal sekolah. Sehingga harus benar-benar teliti dalam menghitung pemasukan dan pengeluaran agar tidak rugi. Ketiga, harus ada filter terhadap alamat situs yang berdampak negatif terhadap pengguna.

Singkat cerita, Lab. Komputer tempat saya bekerja sehari-hari kini telah berkembang jauh lebih baik dari pertama kali saya masuk ruangan tersebut. Kini Lab. Komputer sekolah yang saya kelola telah berubah menjadi ber-AC, berkarpet, bermeja komputer yang sangat bagus, berjumlah dua puluh unit Pentium 2, walaupun masih dengan teknologi PC Cloning, bermonitor baru, berserver dua unit, berprinter, berscanner, dan berinternet. Alhamdulillah.

http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/07/tgl/25/time/095727/idnews/642545/idkanal/450
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN
Copyright © 2011. Adi Scout - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger