Poll

Silaturahim

Popular Posts

Labels

Label

Google +

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Valentine’s Day; Ritual Cinta Yang Membodohi Remaja

Written By Admin on Selasa, 07 Februari 2012 | 19.24


dakwatuna.com – Tanggal 14 Februari telah menjadi hari special yang ditunggu-tunggu oleh para remaja di dunia, tak terkecuali remaja di Indonesia. Mereka terlanjur meyakini hari ini sebagai hari kasih sayang yang harus diisi dengan perayaan istimewa. Mulai dari saling tukar kado, menyatakan cinta, ciuman, sampai seks bebas merupakan aktivitas yang turut mewarnai valentine’s day.



Sejarah Valentine’s Day

Valentine’s Day yang kini dimaknai sebagai hari kasih sayang, tidak muncul dan diperingati begitu saja. Terdapat beberapa versi tentang asal-usul lahirnya Valentine’s Day. Versi pertama, menurut catatan The World Book Encyclopedia (1998) disebutkan bahwa sejarah Valentine’s Day bermula dari sebuah kepercayaan di Eropa. Kepercayaan kuno ini menyebutkan bahwa cinta burung jantan dan betina mulai bersemi pada tanggal 14 Februari. Burung-burung memilih pasangannya pada hari itu. Berdasarkan kepercayaan kuno di kalangan masyarakat Eropa kala itu, lalu kemudian mereka menganjurkan agar pemuda-pemudi memilih pasangannya di hari yang sama seperti berseminya cinta burung jantan dan betina. Apalagi dalam bahasa Perancis Normandia terdapat kata Gelantine yang berarti cinta. Persamaan bunyi antara Gelantine dan Valentine inilah yang dijadikan dasar penetapan hari kasih sayang.

Versi kedua, menghubungkan Valentine’s Day ini dengan seorang pendeta. Menurut beberapa ahli sejarah bahwa Valentine’s Day diadopsi dari nama seorang pendeta bernama Saint Valentine. Dia ditangkap oleh kaisar Claudius II karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih. Dia juga menolak menyembah Tuhan-Tuhan orang Romawi. Kaisar lalu memerintahkan agar dia di penjara dan pada akhirnya dijatuhi hukuman gantung. Orang-orang yang bersimpati kepadanya, lalu menulis surat tentang kecintaan mereka kepada doa sang pendeta. Surat itu kemudian dipajang dan diikatkan di terali bekas penjaranya.

Sementara versi ketiga mengacu pada sebuah pesta yang dilakukan orang-orang Romawi kuno yang disebut Lupercalia. Inilah versi terkuat yang diyakini kebenarannya hingga saat ini. Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian pensucian di masa Romawi kuno. Upacara yang khusus dipersembahkan untuk mengenang dan mengagungkan dewi cinta (Queen of Feverish Love) yang bernama Juno Februata. Dalam pesta tersebut, para pemuda mengambil nama gadis di sebuah kotak secara acak. Nama gadis yang diambilnya tadi kemudian menjadi pendampingnya selama setahun untuk bersenang-senang.

Bergesernya Makna Valentine’s Day

Seiring berjalannya waktu, tahun 496 M Paus Gelasius I mengubah upacara ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day. Upacara untuk menghormati Saint Valentine yang mati digantung oleh kaisar Claudius. Dia digantung karena melanggar aturan kaisar yang melarang para pemuda untuk menikah. Kaisar Claudius berpendapat bahwa tentara yang masih muda dan berstatus bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan. Lelaki yang belum beristri lebih sabar bertahan dalam perang dibandingkan tentara yang sudah menikah. Oleh Karena itu, kaisar memerintahkan untuk melarang kaum laki-laki untuk menikah. Namun, Saint Valentine menentang kebijakan itu. Dia berpendapat bahwa pemuda-pemudi tetap harus mendapat ruang yang luas untuk melampiaskan hasrat cintanya. Dia lalu secara diam-diam menikahkan banyak pemuda.

Sejak orang-orang Romawi kuno mengenal agama Nasrani, maka pesta jamuan kasih sayang ini (pesta Lupercalia) lalu dikaitkan dengan upacara kematian Saint Valentine. Setelah Paus Gelasius menetapkan tanggal 14 Februari sebagai tanggal penghormatan buat Saint Valentine, maka akhirnya perayaan ini berlangsung secara terus menerus setiap tahunnya hingga sekarang. Hari ini dijadikan sebagai momen untuk saling tukar menukar pesan kasih dan menempatkan Saint Valentine sebagai simbol dari para penabur kasih. Hari Valentine ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga, coklat, dan gua-gula. Hari Valentine juga diisi dengan acara kumpul-kumpul, pesta dansa, minum-minuman alkohol hingga pesta seks. Singkatnya perayaan kasih sayang ini dipersembahkan untuk mengagungkan Saint Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, kepasrahan, dan keberanian dalam memperjuangkan cinta.

Sikap Seorang Remaja

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kaum remaja khususnya pemuda-pemudi Islam? Haruskah mereka ikut hanyut dalam perayaan itu? Tentu jawabannya tidak. Karena Valentine’s Day bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Valentine’s Day bersumber dari paganisme orang musyrik penyembah berhala. Valentine’s Day justru telah merendahkan dan mempersempit makna cinta. Cinta dihargai sebatas coklat, bunga mawar, greeting card, ciuman dan seks bebas. Valentine’s Day juga menyempitkan kasih sayang hanya sehari saja. Padahal dalam Islam, kasih sayang itu perlu diaktualisasikan setiap saat dan di setiap tempat. Bahkan kita diperintahkan untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh manusia.

Perayaan Valentine’s Day juga menggiring remaja untuk melakukan seks. Hal itu dapat kita saksikan dengan jelas dari propaganda mereka. Seorang pakar kesehatan di Inggris bahkan menganjurkan seks di hari Valentine. Direktur kesehatan British Heart Foundation yakni Prof. Charles George mengungkapkan bahwa seks bebas tidak saja membakar 100 kalori dalam tubuh, tetapi juga sangat baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, dia menganjurkan agar masyarakat di manapun, baik tua maupun remaja, hendaknya mengisi perayaan hari Valentine dengan pesta seks.

Olehnya itu, penulis secara pribadi dan sebagai pendidik mengajak kepada seluruh remaja khususnya pemuda-pemudi Islam untuk menjauhi dan tidak ikut-ikutan dalam perayaan ini. Siapa yang ikut merayakan Valentine’s Day berarti dia telah merusak pribadinya sendiri sebagai muslim dan bahkan menjadi bagian dari mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud)

Strategi Pendidikan Karakter Rasulullah

Written By Admin on Senin, 06 Februari 2012 | 20.39


Maraknya kekerasan di Indonesia membuat banyak kalangan merasakan keresahan yang mendalam. Berbagai konflik, bencana dan masalah lain melanda Republik tercinta. Paling menyedihkan tentunya konflik antar kelompok beragama dan kalangan muda. Budaya tawuran antar kampung, pelajar, mahasiswa dan suku masih terjadi.

Kita pantas bertanya, mengapa Indonesia menghadapi krisis kronis dan mengalami erosi moralitas. Perilaku positif hilang termakan zaman digantikan produksi perilaku negatif yang cenderung destruktif. Harga manusia sangat rendah, penghilangan nyawa dianggap biasa dan budaya kecurigaan antar kelompok sangat tinggi.

Merespon fenomena itu, kita layak bertafakur dan merumuskan kembali sendi kehidupan agama dan kesalehan kolektif yang memudar. Salah satunya mengembalikan kembali posisi ajaran Islam yaitu Al Qur’an dan Hadits. Rasulullah secara proporsional, mengakar kuat dan mampu dirasakan sentuhannya dalam kehidupan masyarakat. Ada baiknya, kita juga kembali belajar membaca ulang bagaimana peri kehidupan teladan terbaik yaitu Rasulullah SAW.



Menumbuhkan Karakter Islami

Dalam kacamata kaum muslimin, gejala merusak yang ada di masyarakat terjadi akibat hilangnya karakter dan kepribadian Islam. Kita kecanduan produk Barat yang hedonistik, serba bebas dan berkiblat pada kesenangan duniawi. Konsep permissif itu berdampak rusaknya tatanan kehidupan sosial, kacaunya moralitas dan mengendurnya nilai kebersamaan antar individu.

Jelas, ini konsepsi yang bertentangan dengan nilai Islam yang mengatur tawazun (keseimbangan) kehidupan dunia dan akhirat. Rasulullah SAW dalam membentuk generasi pilihan sangat mengintensifkan tiga kecerdasan yaitu emosional, spritual dan intelektul. Hasilnya dapat dilihat dan dirasakan, dimana banyak dilahirkan pejuang Islam hebat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat lainnya. Ada beberapa prinsip strategis pembentukan karakter Rasulullah kepada para sahabat sebagai generasi penerusnya.

Pertama, Rasulullah SAW sangat fokus kepada pembinaan dan penyiapan kader. Fakta itu dapat dilihat sejak beliau mulai mendapatkan amanah dakwah. Tugas menyebarkan Islam dijalankan dengan mencari bibit kepemimpinan unggul dan berhati bersih. Dakwah beliau fokus tidak menyentuh segi kehidupan politik Makkah. Selain faktor instabilitas dan kekuatan politik, perjuangan dakwah memang difokuskan nilai pembinaan.

Beliau berusaha menanamkan karakter kenabian yaitu siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan fatonah (cerdas). Rumah Arqam bin Abil Arqam menjadi saksi bagaimana ahirnya kepemimpinan Islam dilahirkan. Point penting pertama pendidikan karakter adalah fokus, bertahap dan konsisten terhadap pembinaan sejak dini.

Kedua, mengutamakan bahasa perbuatan lebih baik dari perkataan. Aisyah menyebut Rasulullah SAW sebagai Al Qur’an yang berjalan. Sebutan itu tidak salah, mencermati Sirah Nabawiyah menjadikan kita menuai kesadaran rekonstruksi pemikiran dan tindakan Rasulullah SAW. Beliau berbuat dulu, baru menyerukan kepada kaumnya untuk mengikutinya. Keshalihan individu berhasil membentuk keshalihan kolektif di masyarakat Makkah dan Madinah.

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah saw. terdapat contoh tauladan bagi mereka yang menggantungkan harapannya kepada Allah dan Hari Akhirat serta banyak berzikir kepada Allah” (QS 33 : 21)

Ketika berdakwah di masyarakat Thaif dirinya mendapat perlakuan buruk dilempari kotoran. Pada saat itu datanglah Malaikat Jibril menawarkan jasa. “Hai muhammad jika engkau kehendaki gunung yang ada dihadapanmu ini untuk aku timpahkan kepada penduduk Thaif, niscaya sekarang juga aku lakukan.” Nabi menjawab “Jangan Jibril, semua itu dilakukan mereka karena ketidaktahuan mereka” kemudia nabi berdo’a “allâhumahdî qaumî fainnahû lâ ya’lamûn” “Ya Allah berikanlah hidayah kepada kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui” Alhamdulillah, Allah SWT mendengar doanya, masyarakat Thaif banyak menjadi pengikut Islam. Point penting kedua, berikan keteladanan baru mengajak orang lain mengikuti apa yang kita lakukan.

Ketiga, menanamkan keyakinan bersifat ideologis sehingga menghasilkan nilai moral dan etika dalam mengubah masyarakatnya. Beliau meluruskan kemusyrikan mereka dengan mengajarkan kalimat tauhid yakni meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Karakter tauhid menghasilkan pergerakan manusia yang dilandasi syariat Islam dalam menjalankan kehidupan. Mengutip Nur Faizin (Republika, 13/10) Pendidikan karakter yang terpenting adalah pendidikan moral dan etika. Rasulallah SAW sendiri pun menegaskan hal itu dalam sabdanya, “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak karimah.” (HR Ahmad dan yang lain). Menumbuhkan kembali akhlak karimah haruslah menjadi kompetensi dalam proses pendidikan karakter setiap bangsa.

Akhirnya karakter itu harus memadukan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Rasulullah SAW sudah memberikan teladan itu dengan membangun pendidikan berbasis moral dan etik. Pembangunan pendidikan dapat dimulai dari Pesantren, Kampus dan Sekolah sebagai tempat subur pembinaan sekaligus pemberdayaan karakter generasi muda. Karena dengan moral yang baik dan etika yang berlandaskan ideologi yang benar akan membentuk komunitas masyarakt bangsa yang rahmatan lil alamin.


Oleh: Inggar Saputra
Pengurus Pusat KAMMI dan Peneliti Institute For Sustainable Reform (Insure)

Pendidikan Karakter Ala Rasululloh


Pada dasarnya manusia dilahirkan memiliki karakter yang fitrah. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah.” (HR Bukhari Muslim). Allah SWT juga menegaskan bahwa setiap jiwa manusia telah berjanji untuk beriman kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. Firman Allah: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): `Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: `Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’.”(QS al-A`raf [7]: 172)


Namun, fitrah manusia tidak selamanya dapat dijaga sehingga setiap Muslim dapat menjadi pribadi-pribadi yang bersih dan jujur serta berakhlak karimah. Kemurnian fitrah manusia dapat dengan mudah terkontaminasi oleh pendidikan yang diberikan orang tua, masyarakat sekitar, dan bahkan sistem yang mendukung seseorang menjadi pribadi yang kehilangan karakternya.

Pribadi-pribadi yang kehilangan fitrahnya akan membentuk komunitas yang tidak berkarakter; mereka akan menjadi masyarakat jahiliyah dan cenderung plagiasi. Dalam konteks seperti itulah Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW kepada orang-orang jahiliyah yang hidupnya hanya mengikuti nenek moyang mereka yang tersesat dan menyembah berhala.

Rasulullah SAW mulai mendidik karakter jahiliyah masyarakat Arab waktu itu dengan meluruskan ideologi atau keyakinannya. Beliau meluruskan kemusyrikan mereka dengan paradigma tauhid, yaitu meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan yang berhak disembah dan menjadi tujuan hidup seluruh manusia di muka bumi. Karakter tauhid inilah yang menjadi landasan pendidikan karakter yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam seluruh ajaran-ajarannya. Syariat atau aturan serta undang-undang tidak serta-merta diterapkan oleh Rasulallah SAW. Undang-undang atau sistem yang tidak dilandasi oleh ideologi atau paradigma yang lurus pasti tidak efektif. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW baru mendirikan suatu komunitas setelah beliau mampu mendidik generasi Muhajirin dan Anshar yang berkarakter di Madinah.

Pendidikan karakter yang terpenting adalah pendidikan moral dan etika. Rasulullah SAW sendiri pun menegaskan hal itu dalam sabdanya, “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak karimah.” (HR Ahmad dan yang lain). Menumbuhkan kembali akhlak karimah haruslah menjadi kompetensi dalam proses pendidikan karakter setiap bangsa.

Strategi Rasulullah SAW tersebut patut dijadikan teladan oleh bangsa kita. Tanpa paradigma yang tepat tentang hidup dan tujuannya, undang-undang dan sistem apa pun yang dibuat menjadi sia-sia belaka. Kita semestinya mampu menjaga kemurnian karakter, meluruskannya jika salah, membentuk sistem yang tidak merusaknya, serta mengawasinya dengan sebaik-baiknya. Wallahu a`lam.

Sebelumnya pendidikan karakter yang bakal gencar dilaksanakan di dunia pendidikan Indonesia semestinya dilaksanakan dalam rangka membentuk dan memperkuat karakter bangsa. Karena itu, pendidikan karakter perlu dipersiapkan dengan matang dan dilaksanakan secara bertahap supaya tidak menjadi sekadar pengetahuan atau indoktrinasi.

Selain itu, pendidikan karakter yang dikembangkan sudah seharusnya berakar dari budaya bangsa Indonesia yang menyepakati Bhineka Tunggal Ika. Pendidikan karakter yang ditanamkan pada anak-anak lewat pendidikan formal meliputi nilai-nilai yang khas Indonesia dan nilai-nilai universal.

kata HAR Tilaar, Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dalam diskusi terbatas sejumlah pemerhati masalah pendidikan di Jakarta. “Tidak bisa pemerintah mau gampang saja soal pendidikan karakter. Harus dipersiapkan dulu dasarnya dan bagaimana nanti bisa melaksanakannya dengan baik. Jangan sampai pendidikan karakter yang sebenarnya bagus itu nasibnya sama seperti Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) di masa Orde Baru yang bentuknya indoktrinasi,”

Tilaar juga mengatakan, Bhineka Tunggal Ika mampu menjadi keunikan negara dan bangsa Indonesia di tengah arus globalisasi. Keberhasilan Indonesia membentuk karakter anak-anak bangsa yang mampu hidup berdampingan dalam beragamnya suku bangsa, agama, ras, dan antargolongan akan menjadi kontribusi terbesar bangsa ini di kancah global.

Charlotte K Priatna, Direktur Sekolah Athalia, menjelaskan mudah saja untuk menyampaikan pendidikan karakter dalam teori atau mata pelajaran. Namun, sekolah yang memang berkomitmen untuk membentuk anak-anak yang cerdas dan berkarakter justru harus mampu membudayakannya di dalam diri anak-anak yang didukung semua anggota komunitas sekolah.

“Jangan pendidikan karakter itu cuma letupan-letupan saja. Seperti kantin jujur yang bagus, kini hampir tak lagi terdengar gaungnya. Kita harus komitmen untuk menjalankan pendidikan karakter di setiap sekolah,” kata Charlotte.

Sekolah yang terdiri dari prasekolah hingga SMA tersebut selama 15 tahun menerapkan pendidikan karakter yang berkesinambungan. Di SD, misalnya pendidikan karakter untuk menjadikan siswa yang mandiri bertanggung jawab, sedangkan di SMP membentuk siswa yang peduli dan berbagi. Sementara di SMA diperkuat dengan pembentukan karakter yang mampu memberi pengaruh pada orang lain lewat kepemimpinan serta berkontribusi pada lingkungannya.

Menurut Charlotte, pendidikan karakter untuk anak mesti dibangun dengan memperkuat komunitas sekolah. Orang tua atau keluarga juga mesti terlibat dengan adanya program parenting class yang diadakan di sekolah.

media.kompasiana.com

Pendahuluan, Adab Guru & Murid

Written By Admin on Kamis, 02 Februari 2012 | 16.57


(Said Hawwa). Warisan kenabian adalah acuan pembaruan yang benar, karena misi utama para Rasul alaihimussalam adalah tadzkir, ta’lim, dan tazkiyah. Karena itu, pewaris kenabian yang utuh adalah orang yang mampu menjaga hal-hal ini tetap utuh dan sempurna, melaksanakannya, dan menunaikan hak-hak Allah padanya. Jarang sekali tiga hal ini berhimpun pada seseorang. Ada seorang yang piawai dalam menyampaikan nasihat tetapi tidak banyak berilmu; ada seorang yang banyak berilmu tetapi tidak piawai dalam menyampaikan nasihat; ada seorang yang berilmu dan piawai dalam menyampaikan nasihat tetapi tidak mampu melakukan tazkiyah. Siapa yang memiliki ketiga hal ini maka dia telah memiliki “obat mujarab” kehidupan. Jika tidak maka proses tajdid tetap harus berlangsung di kalangan mereka yang menginginkan dan yang melaksanakannya.

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian nasihat para pemberi nasihat adalah mengingatkan (tadzkirah) kepada ayat-ayat Allah di ufuk dan di jiwa; mengingatkan kepada perbuatan dan hari-hari Allah; mengingatkan kepada berbagai hukuman dan sanksiNya; mengingatkan kepada apa yang dijanjikan, disiapkan, dan diancamkan Allah kepada orang-orang yang bermaksiat atau ta’at kepadaNya.

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian ta’lim para ulama ialah ta’lim Al Qur’an dan As Sunnah yang merupakan penjelasan Al Quran.

“Akan tetapi (Dia Berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Ali Imran: 79)

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian tarbiyah para murabbi ialah memperbaiki hati dan perilaku:

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (Al-Baqarah: 151)

Setiap zaman punya penyakit dan masalah tersendiri, dan sepanjang zaman juga punya penyakit dan masalah tersendiri, sedangkan seorang ‘alim yang rabbani ialah orang yang mampu mengobati penyakit-penyakit kontemporer dan penyakit-penyakit sepanjang zaman. Itulah tanda keberhasilannya dalam tazkiyah.

Semenjak abad pertama telah muncul aliran irja’ (Murji’ah), tasyayyu’ (Syi’ah), kharijiyah (Khawarij), dan i’tizal (Mu’tazilah). Inti ajaran irja’ ialah meninggalkan amal; inti tasyayyu’ ialah berlebihan dalam masalah ahlul bait Rasulullah saw; inti ajaran Khawarij ialah ketumpulan akal, terburu-buru mengkafirkan, tidak menghormati orang yang memiliki keutamaan, dan iman mereka yang tidak melampaui kerongkongan mereka; dan inti ajaran i’tizal adalah terburu-buru melakukan ta’wil yang tidak ilmiah. Aliran-aliran seperti ini dianggap sebagai penyakit sepanjang zaman yang bisa muncul terus-menerus. Demikian pula penyakit yang memiliki sifat langgeng dalam kemunculannya.

“Menjalar di antara kalian penyakit-penyakit ummat sebelum kalian yaitu dengki dan permusuhan…” (HR Ahmad dan Tirmidzi, Hadits ini Shahih)

Selain itu, setiap zaman punya penyakit tersendiri. Di antara penyakit zaman kita ialah apa yang diisyaratkan oleh beberapa nash:

“Ilmu yang pertama kali diangkat dari bumi adalah kekhusyu’an.” (HR Thabrani, hadits ini hasan)

“Tetapi kalian seperti buih banjir…dan sungguh Allah akan menanamkan wahn di hati kalian…cinta dunia dan takut mati.” (HR Abud Dawud, hadits ini hasan)

Anda lihat bahwa zaman kita sekarang ini adalah zaman dimana kekhusyu’an sangat sedikit tetapi cinta dunia dan takut mati sangat mendominasi. Karena itu, seorang ‘alim (guru atau syaikh) yang tidak berhasil menghilangkan penyakit-penyakit ini maka ia tidak banyak bisa melakukan tajdid. Seorang ‘alim harus memiliki kemampuan seperti ini sehingga para murid bisa merasakannya.

Seorang guru dan da’i harus menyelenggarakan berbagai majlis nasihat, majlis ilmu, dan majlis tazkiyah, sehingga mungkin bisa menggabungkan antara yang satu dengan yang lain, atau membuat majlis umum untuk nasihat dan majlis khusus untuk tazkiyah yang menyelenggarakan dzikir dan mudzakarah fardiyah atau jama’iyah dengan membaca sesuatu yang paling cocok dalam hal ini. Sementara itu diadakan pula majlis-majlis yang lain untuk ilmu-ilmu yang rinci seperti tilawah, tajwid, As Sunnah dan ilmu-ilmunya, tafsir, ilmu-ilmu Al Qur’an, fiqh, ushul fiqh dan lain sebagainya.

Titik awal keberhasilan amal ini adalah adab yang mengatur guru dan murid. Selagi tidak ada adab yang mengikat murid dengan gurunya maka tidak akan bisa berlanjut dalam perjalanan. Selagi guru tidak melaksanakan adab ta’lim (mengajarkan ilmu) maka keberhasilannya sangat ditentukan oleh sejauh mana ia melaksanakan adab-adab tersebut. Oleh karena itu, mengetahui adab guru dan murid termasuk hal yang sangat penting dalam perjalanan kepada Allah, bahkan untuk menegakkan agama dan dunia.

Gerakan da’wah yang paling berhasil dalam sejarah Islam adalah gerakan yang menekankan sejak awal pada:
Kepercayaan (tsiqah) kepada pimpinan dan pemimpin, kepercayaan yang menumbuhkan ketaatan hati.
Dzikir terus-menerus dan ilmu yang menyeluruh, yang diperlukan dan yang sesuai .
Keakraban dengan lingkungan yang baik, menghadiri pertemuan-pertemuan –dzikir,ilmu dan lainnya- dan memperkuat berbagai hubungan antar-anggotanya
Penumbuhan adab-adab hubungan yang baik antara dirinya dan manusia secara umum
Pelaksanaan public service (Khidmah ‘aammah) dengan penuh semangat dan perhatian

Gerakan yang menghimpun nilai-nilai ini pada para pemulanya adalah gerakan yang mampu hidup dan tambah. Oleh karena itu, para ulama aktivis harus menekankan nilai-nilai ini agar bisa diserap dan dihayati oleh para pemula sejak awal.

Nuh as. menyeru kaumnya seraya berkata:

“Sembahlah Allah, bertaqwalah kepadaNya dan ta’atlah kepadaku.” (Nuh: 3)

Setiap Rasul menyeru kaumnya kepada hal yang sama.

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (Al Anbiya: 25)

Nabi Hud, Shalih, Syu’aib dan lainnya juga berseru “Bertaqwalah kalian kepada Allah dan ta’atlah kepadaku”

Selama seorang murabbi tidak berhasil menumbuhkan keta’atan yang penuh kesadaran dari seorang murid, membiasakannya melakukan ibadah, dan merealisasikan ketaqwaannya maka sesungguhnya ia belum berbuat sesuatu. Titik awal hal ini terletak pada ihtiram (penghormatan) dan tsiqoh (kepercayaan) seorang murid kepada gurunya, dan kelayakan guru mendapatkan hal tersebut. Semua ini membuat kami harus memulai kajian di dengan Adab Guru dan Murid dari kitab Ilya’. Marilah kita ikuti keterangan Al Ghazali secara langsung.

Bersama Amal Thulabi Membangun Peradaban

Written By Admin on Rabu, 01 Februari 2012 | 21.08

Guru! Apa yang masih menarik dari sebutan ini di saat ummat mengalami keterpurukan moral? Ketahuilah, Hasan Al Bana, sang pendiri Ikhwanul Muslimun, menjadikan kata “guru” sebagai predikat akhir dari perjuanga nya. Beliau menggariskan bahwa tujuan akhir dari murotibul amal yang disusunnya adalah ustadziyatul alam; menjadi guru peradaban. Tujuan akhir ini memang tidak lebih sering diucapkan dibanding tujuan-tujuan antaranya. Namun di masa depan, kata “guru” secara proporsional harus dikembalikan kewibawaannya. Hingga segenap aktivis harakah memahami benar tujuan hakiki dari tertib amal yang sedang ditekuninya.

Perbincangan seputar wacana guru juga akan segera mengingatkan para aktivis harakah tentang inti sebuah peradaban; manusia. Lebih khusus lagi wacana ini akan membentangkan betapa luasnya lahan pembinaan generasi muda, dan betapa masih jauhnya perjalanan dakwah untuk itu. Bagaimanapun istimroriyatudda’wah (kesinambungan dakwah) amat sangat tergantung pada keberhasilan guru-guru yang mampu mewariskan sifat-sifat kenabian dari generasi ke generasi.

Kemanakah guru-guru di jajaran harakah Islamiyah seharusnya membidik barisan inti perjuangannya? Jawabnya adalah ke kaum terpelajar. Merekalah SDM (Sumber Daya Manusia) strategis peradaban di zaman ini. Mereka pulalah yang potensial mengemban misi kenabian di masa-masa yang akan datang. Mereka katakanlah, semacam “nabi kolektif” yang memberi pengharapan terhadap ummat tentang masa depan yang cerah.

Buku setebal 249 halaman ini kebetulan mengisahkan tentang bagaimana sebuah perubahan diusung oleh elit terpelajar yang disebutnya sebagai “thullaby.” Kisah tentang bagaimana sifat-sifat kenabian itu diwariskan melalui sebuah manajemen dakwah di kalangan generasi muda terpelajar. Buku ini mengukuhkan amal thullaby (dakwah kampus) sebagai lingkaran dakwah pertama yang menjadi inti harakah islamiyah — kemudian amal mihany (dakwah profesi) dan akhirnya amal siyasi (dakwah partai politik). Urut-urutan amal ini seolah telah menjadi khittah perjuangan dunia Islam yang tengah mengalami keterpurukan semenjak runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani di awal abad 20.

Tesis tentang elit terpelajar sebagai anashirut taghyir (agent of change) memang bukan hanya milik dunia Islam. Perubahan di berbagai negeri di seganjang abad 20 telah menjadikan kaum terpelajar secara historis sebagai dalil perubahan. Meski bukan satu-satunya kekuatan perubah namun elit dari sebuah pergerakan mestilah kaum terpelajar. Di Indonesia, fenomena lahirnya kaum terpelajar di berbagai perguruan tinggi telah mendorong lahirnya organ-organ pergerakan kemerdekaan di awal abad 20. Tokoh-tokoh penting pergerakan itu kemudian menjadifoundingfathers Republik Indonesia.

Seorang Indonesianis menyebut lahirnya kaum terpelajar di perguruan tinggi-perguruan tinggi itu sebagai elit modern. Istilah elit modern sesungguhnya menandai pengaruh gelombang modernisasi di dunia Islam. Kepemimpinan tradisional yang semula dipegang oleh kaum bangsawan dan kaum ulama bergeser ke model kepemimpinan baru yang berasal dari perguruan tinggi-perguruan tinggi modern. Seiring dengan itu wacana kenegaraan pun berubah di dunia Islam. Ketika satu per satu dunia Islam membebaskan diri dari penjajahan Barat dan kemudian memerdekakan diri, bermunculanlah negara-negara modern dengan warna Barat yang sekuler.

Sepintas penjajah Barat telah berhasil menyapih negeri-negeri jajahannya untuk merdeka dengan model kepemimpinan dan negara modern ala Barat yang sekuler. Namun wacana kemoderenan di sisi lain ternyata mengandung sunnah-sunnah kehidupan yang objektif, yang apabila ditafsirkan sebagai hukum-hukum kekuatan dan kemajuan sebuah peradaban menjadi sesuatu yang bisa diadopsi dan diadaptasi ke dalam dunia Islam. Perdebatan tentang wacana ini misalnya telah melahirkan berbagai pendapat di seputar islamisasi science. Di Indonesia perdebatan ini dijembatani dengan memadukan iptek (ilmu pengetahuan teknologi) dan imtaq (iman dan taqwa). Diam-diam dunia Islam seperti menyepakati adanya nilai-nilai objektif dari kemoderenan. Bak mutiara yang hilang, nilai-nilai itu harus direbut kembali sebagai syarat-syarat yang tak terelakan dari sebuah supremasi peradaban.

Dalam konteks inilah strategi harakah islamiyah dapat mengambil manfaat dari tumbuh berkembangnya perguruan tinggi-perguruan tinggi dan bahkan negara modern yang dirancang Barat. Meski warna perguruan tinggi-perguruan tinggi dan negara di dunia Islam terimbas oleh sekularisme Barat, namun ada yang tetap tak mampu dijarah oleh Barat; aqidah. Dengan kekuatan aqidah kaum muslimin bahkan dapat “menikmati” perguruan tinggi dan negara rancangan Barat itu sebagai semata-mata sarana dakwah. Dengan kekuatan aqidah itu pula kaum muslimin dapat membangun kembali peradabannya tanpa harus menjadi sekuler atau menjadi Barat.

Bagi harakah islamiyah tidak semua yang datangnya dari Barat serta merta haram dan tidak pula serta merta halal. Mungkin saja permasalahannya bukan soal halal dan haram, tapi lebih merupakan hal-hal yang bersifat taktis. Dengan moderasi semacam itu harakah islamiyah dapat menuai hasil dakwahnya dari waktu ke waktu. Perlahan tapi pasti satu jenjang marhalah ke jenjang marhalah berikutnya ditapaki. Dari satu mihwar ke mihwar yang lebih luas cakupannya pun diraih.

Kembali pada buku ini, sungguh di dalamnya sarat berbagai pengalaman dakwah di negeri-negeri Islam dalam mengelola ruang-ruang yang semula seperti sempit menghimpit gerak dakwah menjadi peluang yang mendatangkan gelombang dakwah. Kiat-kiat praktis amal thullaby dipaparkan dengan sangat detail satu per satu. Buku ini seolah-olah ingin merangkum seluruh pertanyaan seputar amal thullaby dan seperti tidak merasa perlu banyak uraian lagi karena pembacanya sudah sangat ingin berkerja. Kumpulan gagasan yang terhimpun di buku ini bagai sebuah juklak yang tersusun secara sistematis mulai dari problem filosofis hingga teknis. Para aktivis dakwah terutama di kampus-kampus dan sekolah dapat menjadikannya sebagai buku pegangan dalam mengelola amal thullaby.

Sukses dakwah kampus yang ditandai oleh gelombang-gelombang perubahan ke arah cita-cita Islam pada gilirannya akan membangun kekuatan di masa depan. Semakin massif dan intensifnya dakwah Islam di kalangan terpelajar akan menciptakan kelas menengah yang siap mengusung perubahan secara mendasar dan menyeluruh. Dunia Islam sepertinya harus bersiap-siap menuai sebuah revolusi global yang akan menggusur rezim otoriter pewaris feodalisme pra Islam yang masih bercokol di negeri-negeri Islam; mungkin lebih dramatis dari Revolusi Prancis. Dunia Islam sepertinya juga harus bersiap-siap untuk menuai sebuah revolusi peradaban yang akan mengejar ketertinggalannya dari Barat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi; mungkin lebih spektakuler dibanding Revolusi Industri. Bila semua itu benar-benar terjadi, atas izin Allah segenap dunia Islam satu per satu akan menapak ketinggian peradabannya di era pasca modern; di mana dunia benar-benar menjadi tanpa tapal batas, ummat menjadi guru peradaban, dan Islam menjadi rahmatan lil alamin.

Jakarta, 14 Agustus 2002

Mustafa Kamal

Belajar Pendidikan Karakter Dari Sepak Bola

Pendidikan karakter itu bukanlah sesuatu yang muluk-muluk atau sulit. Pendidikan
karakter sebenarnya sudah ada dimana-mana. Sudah ada dikeluarga, dilingkungan
sosial, sekolah, tempat hiburan dan lainnya. Tapi kali ini kita akan belajar
sesuatu inti yang penting tentang pendidikan karakter dari sepak bola.

Ya, kenapa sepak bola karena kondisi atau contoh ini akan sangat mudah di
analogikan (disamakan) dengan kondisi dan bagaimana mendidik karakter di dalam
sekolah dan rumah. Pada dasarnya pendidikan karakter adalah memberikan aturan
main dalam kehidupan dan lingkungan sosial disertai dengan konsekuensi yang
berlaku didalamnya. Lalu hubungan dengan sepak bola? Mudah, dalam sepak bola
sudah berlaku aturan yang sangat baku dan jelas. Ada aturan main dan konsekuensi.
Jika melanggar ada kartu kuning (peringatan), kartu merah (keluar dari permainan),
free kick, penalty, corner kick, bahkan denda uang bagi pemain dan team. Bahkan
yang lebih “sadis” lagi jika team tersebut harus turun kasta ke liga yang lebih
rendah lagi.

Sebagai pecinta sepak bola, saya sangat senang dan berulang kali menggunakan
contoh ini kepada guru dan orang tua yang ingin tahu tentang bagaimana mendidik
karakter anak dengan menggunakan contoh ini. Seorang anak perlu mengembangkan
pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja, mempelajari “aturan
main” segala aspek yang ada di dunia ini dan “hidup” didunia ini. Nah,
masalahnya anak pada saat lahir dia tidak memiliki “konsep sosial” didalam
kepalanya, oleh karena itu anak perlu tahu bagaimana aturan – aturan yang ada
didalam dunia ini. Inilah Pendidikan Karakter, mudah kan?

Supaya tidak kena kartu kuning, jangan melanggar. Jika melanggar lagi ya kartu
merah. Sehingga banyak dari pemain sepak bola jika kesal terhadap team lawan
selalu berusaha menjaga sikap dengan berusaha menghormati wasit dan tetap
mengeluarkan uneg-uneg nya. Ya inilah dunia manusia, terkadang ada yang sesuai
dan tidak tetapi diperlukan aturan untuk membuat semuanya teratur.

Dalam permainan sepak bola pemain inti dalam sebuah pertandingan adalah wasit.
Banyangkan jika bermain tidak ada wasit maka kemungkinan besar bukan
pertandingan sepak bola lagi yang kita lihat. Tetapi UFC (Ultimate Fighting
Championship) di lapangan sepak bola, alias tarung bebas dilapangan sepak bola.
Sama dalam dunia pendidikan di sekolah perlau ada figure yang berperan seperti
wasit dalam pertandingan sepak bola yang menjadi “penjaga” aturan di sekolah.
Dan seringkali hal inilah yang menjadi kelemahan, wasit di sekolahnya tidak
berfungsi dengan baik. Sama halnya dirumah, orang tua kurang dapat menjadi wasit
dengan baik. Sehingga pendidikan karakter kurang dapat berjalan dengan maksimal.

Perlu kita ketahui semua, pendidikan karakter bukan semata-mata memberikan
pengetahuan semata tetapi menetapkan aturan dan konsekuensi dilingkungan sekolah
dan dirumah. Dalam peraturan sekolah misal: anak tidak bawa buku pelajaran maka
konsekuensinya mendapatkan tugas tambahan. Ini harus jelas dan konsisten, serta
dikomunikasikan kepada semua pihak termasuk orang tua.

Jika kita melanggar aturan lalu lintas maka jelas kita kena tilang, dan kita
bisa pilih mau slip merah atau biru. Merah bayar di tempat, jika biru kita bayar
di tempat yang ditunjuk untuk mengurusi tilang (Bank BRI). Dan ini konsisten dan
semua masyarakat Indonesia yang menggunakan kendaran bermotor sudah tahu. Inilah
dasar dari pendidikan karakter. Ada aturan yang jelas dan konsekuensi.

Berikutnya, memang sebaiknya seorang yang bertanggung jawab dibidang pendidikan
karakter adalah seorang yang memiliki minat, dalam dunia “kemanusian” tidak
mesti psikolog. Kenapa sebab ini berkaitan dengan menata aturan dan konsekuensi
bagi anak didik. Tentunya aturan ini harus ditata berdasarkan jenjang dan usia
dan skala pelanggaran. Misal: hukuman anak yang mencuri atau merusak dengan
sengaja property sekolah tentunya akan berbeda dengan anak yang lupa membawa
alat tulis, atau tidak membawa catatan.

Nah, yang terpenting bagi kita semua bahwa pendidikan karakter bukanlah sesuatu
yang rumit. Ini sangat mudah dan ada banyak sekali contohnya disekitar kita,
tinggal kita mau apa tidak. Perlu upaya untuk menerapkan ini, kita perlu
mengetahui dan belajar tentang seluk beluk manusia dan bagaimana mengatasinya.
Sebab manusia saat dilahirkan tidak disertai manual book-nya, lain seperti Black
Berry yang kita beli dan sudah disertakan manual book-nya dan ada petunjuk
bagaimana menggunakannya. (pendidikankarakter.com)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN
Copyright © 2011. Adi Scout - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger