Poll

Silaturahim

Popular Posts

Labels

Label

Google +

Latest Post

Pendahuluan, Adab Guru & Murid

Written By Admin on Kamis, 02 Februari 2012 | 16.57


(Said Hawwa). Warisan kenabian adalah acuan pembaruan yang benar, karena misi utama para Rasul alaihimussalam adalah tadzkir, ta’lim, dan tazkiyah. Karena itu, pewaris kenabian yang utuh adalah orang yang mampu menjaga hal-hal ini tetap utuh dan sempurna, melaksanakannya, dan menunaikan hak-hak Allah padanya. Jarang sekali tiga hal ini berhimpun pada seseorang. Ada seorang yang piawai dalam menyampaikan nasihat tetapi tidak banyak berilmu; ada seorang yang banyak berilmu tetapi tidak piawai dalam menyampaikan nasihat; ada seorang yang berilmu dan piawai dalam menyampaikan nasihat tetapi tidak mampu melakukan tazkiyah. Siapa yang memiliki ketiga hal ini maka dia telah memiliki “obat mujarab” kehidupan. Jika tidak maka proses tajdid tetap harus berlangsung di kalangan mereka yang menginginkan dan yang melaksanakannya.

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian nasihat para pemberi nasihat adalah mengingatkan (tadzkirah) kepada ayat-ayat Allah di ufuk dan di jiwa; mengingatkan kepada perbuatan dan hari-hari Allah; mengingatkan kepada berbagai hukuman dan sanksiNya; mengingatkan kepada apa yang dijanjikan, disiapkan, dan diancamkan Allah kepada orang-orang yang bermaksiat atau ta’at kepadaNya.

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian ta’lim para ulama ialah ta’lim Al Qur’an dan As Sunnah yang merupakan penjelasan Al Quran.

“Akan tetapi (Dia Berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Ali Imran: 79)

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian tarbiyah para murabbi ialah memperbaiki hati dan perilaku:

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (Al-Baqarah: 151)

Setiap zaman punya penyakit dan masalah tersendiri, dan sepanjang zaman juga punya penyakit dan masalah tersendiri, sedangkan seorang ‘alim yang rabbani ialah orang yang mampu mengobati penyakit-penyakit kontemporer dan penyakit-penyakit sepanjang zaman. Itulah tanda keberhasilannya dalam tazkiyah.

Semenjak abad pertama telah muncul aliran irja’ (Murji’ah), tasyayyu’ (Syi’ah), kharijiyah (Khawarij), dan i’tizal (Mu’tazilah). Inti ajaran irja’ ialah meninggalkan amal; inti tasyayyu’ ialah berlebihan dalam masalah ahlul bait Rasulullah saw; inti ajaran Khawarij ialah ketumpulan akal, terburu-buru mengkafirkan, tidak menghormati orang yang memiliki keutamaan, dan iman mereka yang tidak melampaui kerongkongan mereka; dan inti ajaran i’tizal adalah terburu-buru melakukan ta’wil yang tidak ilmiah. Aliran-aliran seperti ini dianggap sebagai penyakit sepanjang zaman yang bisa muncul terus-menerus. Demikian pula penyakit yang memiliki sifat langgeng dalam kemunculannya.

“Menjalar di antara kalian penyakit-penyakit ummat sebelum kalian yaitu dengki dan permusuhan…” (HR Ahmad dan Tirmidzi, Hadits ini Shahih)

Selain itu, setiap zaman punya penyakit tersendiri. Di antara penyakit zaman kita ialah apa yang diisyaratkan oleh beberapa nash:

“Ilmu yang pertama kali diangkat dari bumi adalah kekhusyu’an.” (HR Thabrani, hadits ini hasan)

“Tetapi kalian seperti buih banjir…dan sungguh Allah akan menanamkan wahn di hati kalian…cinta dunia dan takut mati.” (HR Abud Dawud, hadits ini hasan)

Anda lihat bahwa zaman kita sekarang ini adalah zaman dimana kekhusyu’an sangat sedikit tetapi cinta dunia dan takut mati sangat mendominasi. Karena itu, seorang ‘alim (guru atau syaikh) yang tidak berhasil menghilangkan penyakit-penyakit ini maka ia tidak banyak bisa melakukan tajdid. Seorang ‘alim harus memiliki kemampuan seperti ini sehingga para murid bisa merasakannya.

Seorang guru dan da’i harus menyelenggarakan berbagai majlis nasihat, majlis ilmu, dan majlis tazkiyah, sehingga mungkin bisa menggabungkan antara yang satu dengan yang lain, atau membuat majlis umum untuk nasihat dan majlis khusus untuk tazkiyah yang menyelenggarakan dzikir dan mudzakarah fardiyah atau jama’iyah dengan membaca sesuatu yang paling cocok dalam hal ini. Sementara itu diadakan pula majlis-majlis yang lain untuk ilmu-ilmu yang rinci seperti tilawah, tajwid, As Sunnah dan ilmu-ilmunya, tafsir, ilmu-ilmu Al Qur’an, fiqh, ushul fiqh dan lain sebagainya.

Titik awal keberhasilan amal ini adalah adab yang mengatur guru dan murid. Selagi tidak ada adab yang mengikat murid dengan gurunya maka tidak akan bisa berlanjut dalam perjalanan. Selagi guru tidak melaksanakan adab ta’lim (mengajarkan ilmu) maka keberhasilannya sangat ditentukan oleh sejauh mana ia melaksanakan adab-adab tersebut. Oleh karena itu, mengetahui adab guru dan murid termasuk hal yang sangat penting dalam perjalanan kepada Allah, bahkan untuk menegakkan agama dan dunia.

Gerakan da’wah yang paling berhasil dalam sejarah Islam adalah gerakan yang menekankan sejak awal pada:
Kepercayaan (tsiqah) kepada pimpinan dan pemimpin, kepercayaan yang menumbuhkan ketaatan hati.
Dzikir terus-menerus dan ilmu yang menyeluruh, yang diperlukan dan yang sesuai .
Keakraban dengan lingkungan yang baik, menghadiri pertemuan-pertemuan –dzikir,ilmu dan lainnya- dan memperkuat berbagai hubungan antar-anggotanya
Penumbuhan adab-adab hubungan yang baik antara dirinya dan manusia secara umum
Pelaksanaan public service (Khidmah ‘aammah) dengan penuh semangat dan perhatian

Gerakan yang menghimpun nilai-nilai ini pada para pemulanya adalah gerakan yang mampu hidup dan tambah. Oleh karena itu, para ulama aktivis harus menekankan nilai-nilai ini agar bisa diserap dan dihayati oleh para pemula sejak awal.

Nuh as. menyeru kaumnya seraya berkata:

“Sembahlah Allah, bertaqwalah kepadaNya dan ta’atlah kepadaku.” (Nuh: 3)

Setiap Rasul menyeru kaumnya kepada hal yang sama.

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (Al Anbiya: 25)

Nabi Hud, Shalih, Syu’aib dan lainnya juga berseru “Bertaqwalah kalian kepada Allah dan ta’atlah kepadaku”

Selama seorang murabbi tidak berhasil menumbuhkan keta’atan yang penuh kesadaran dari seorang murid, membiasakannya melakukan ibadah, dan merealisasikan ketaqwaannya maka sesungguhnya ia belum berbuat sesuatu. Titik awal hal ini terletak pada ihtiram (penghormatan) dan tsiqoh (kepercayaan) seorang murid kepada gurunya, dan kelayakan guru mendapatkan hal tersebut. Semua ini membuat kami harus memulai kajian di dengan Adab Guru dan Murid dari kitab Ilya’. Marilah kita ikuti keterangan Al Ghazali secara langsung.

Koneksi Internet untuk Laboratorium Hasil Kloning

Written By Admin on Rabu, 01 Februari 2012 | 23.20

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari tulisan sebelumnya yang bertajuk 'Kanibalisme dan Kloning, Kiat Hadapi Keterbatasan Fasilitas'.

Sementara itu, ketika saya mulai menikmati ide yang mudah-mudahan bisa jadi inspirasi "cemerlang" -menurut saya- karena muncul sebuah fenomena di kalangan guru komputer/TIK. Tanpa mengurangi rasa hormat dan tanpa bermaksud merendahkan teman-teman guru, ternyata sebagian dari guru komputer teman-teman saya banyak yang tidak mengetahui tentang teori/praktek LAN apalagi PC Cloning.

Selain itu, tidak sedikit yang belum menguasai seluk beluk hardware komputer. Mungkin wajar, semua itu kembali kepada sarana dan prasarana pendukung pada saat belajar TI dulu. Solusinya adalah "belajar lagi" dengan guru-guru komputer yang memang menguasai materi LAN maupun hardware.

Saya dan teman-teman guru komputer memiliki wadah -sama seperti mata pelajaran lain- untuk bisa berdiskusi, berbagi pengalaman dan membuat program peningkatan mutu pendidikan, yaitu MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Dalam wadah itulah kami berusaha berbagi ilmu tentang TI dan saling melengkapi. Salah satu programnya adalah pelatihan LAN dan hardware bagi guru-guru komputer yang belum atau kurang menguasainya.

Tahun kedua mengajar, segalanya berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Berbagai kemudahan ditemui dengan menggunakan PC Cloning. Mulai dari komputer Pentium 1 yang tidak lagi lambat, dapat nge-print langsung karena semua komputer terhubung dalam satu jaringan, dapat berbagi file, dapat berkomunikasi dengan komputer lain, hingga -saya pribadi- dapat belajar membangun situs sederhana dan mengujicobakan dalam jaringan lokal. Subhanallah...

Waktu terus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi dan penyempurnaan kurikulum. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, walaupun KBK sekarang sudah tidak diberlakukan, memuat materi yang menurut saya menjadi beban bagi guru maupun pihak sekolah. Materi tersebut adalah internet yang harus diberikan/diajarkan di kelas 9.

Internet dipandang menjadi beban karena 2 hal; Pertama belum menjadi konsumsi yang umum dimasyarakat dan hanya dikonsumsi oleh kalangan yang terbatas termasuk gurunya. Kedua tidak diimbangi dengan fasilitas atau paling tidak diberikan kemudahan untuk menyediakan fasilitas internet untuk sekolah.

Dua hal di atas menjadi kendala yang menyebabkan materi tersebut sulit untuk disampaikan secara ideal. Salah satu solusi adalah dengan mengajarkannya secara offline dengan segala keterbatasannya. Namun untuk memberikan serta mencerminkan peningkatan kualitas pendidikan hal tersebut, internet cepat atau lambat menjadi sebuah keharusan dan menjadi bagian dari sistem pendidikan.

Melihat tuntutan kurikulum dan perkembangan teknologi komunikasi disertai tanggung jawab sebagai seorang guru komputer/TIK, saya tidak bisa tinggal diam dengan situasi yang tengah terjadi. Maka mulailah saya mencari informasi sebanyak-banyaknya, seperti dahulu mencari informasi PC Cloning, mengenai internet, ISP, instalasi, layanan, tarif, kelebihan, manfaat dan sebagainya. Dengan modal Rp. 4.000 cukuplah untuk mendapatkan informasi yang saya butuhkan di warnet.

Dengan informasi yang diperoleh saya akhirnya memutuskan untuk kembali mengajukan permohonan agar pihak sekolah menyediakan koneksi internet guna keberlangsungan proses belajar mengajar -komputer/TIK- yang ideal. Asumsi awal yang dibangun terhadap pihak sekolah adalah bahwa hal tersebut tidak akan merugikan secara materi pihak sekolah.

Kenapa bisa demikian? Karena selain untuk belajar koneksi internet juga dimanfaatkan sebagai warnet pada jam istirahat belajar. Pemasukan dari hasil warnet dapat menutupi biaya akses internet per bulannya walaupun cuma impas. Dengan asumsi awal tersebut pihak sekolah bersedia mengabulkan permohonan saya.

Alumni STM yang sebelumnya saya ceritakanlah yang akhirnya kembali membantu saya untuk membuat Lab. Komputer saya sekarang untuk bisa terkoneksi dengan internet. Tugasnya adalah men-setting dan menginstalasi, sedangkan saya sebelumnya harus mengurus registrasi koneksi internet hingga selesai. Dari mulai registrasi hingga koneksi tersambung ke semua komputer hanya memakan waktu sepekan dan semuanya bisa langsung dimanfaatkan, karena sebelumnya sudah merupakan LAN (Local Area Network). Jadilah Lab. Komputer yang ada sekarang bertambah lengkap dengan koneksi internet. Alhamdulillah...

Sebagai pelengkap informasi, hal-hal yang perlu diantisipasi dari awal adalah; Pertama, membatasi pemakaian, dalam hal ini download dan upload, karena berhubungan dengan biaya. Saya menggunakan layanan yang masih limited karena keterbatasan anggaran, kecuali jika mampu untuk menggunakan layanan unlimited.

Kedua, menghitung tarif/biaya sewa agar dapat membayar biaya berlangganan setiap bulannya. Sekolah tempat saya mengajar menggunakan sistem full day school, dengan kata lain waktu yang dimiliki untuk menggunakan warnet pada jam istirahat sangat sedikit ditambah batasan pengguna yang boleh hanya kalangan internal sekolah. Sehingga harus benar-benar teliti dalam menghitung pemasukan dan pengeluaran agar tidak rugi. Ketiga, harus ada filter terhadap alamat situs yang berdampak negatif terhadap pengguna.

Singkat cerita, Lab. Komputer tempat saya bekerja sehari-hari kini telah berkembang jauh lebih baik dari pertama kali saya masuk ruangan tersebut. Kini Lab. Komputer sekolah yang saya kelola telah berubah menjadi ber-AC, berkarpet, bermeja komputer yang sangat bagus, berjumlah dua puluh unit Pentium 2, walaupun masih dengan teknologi PC Cloning, bermonitor baru, berserver dua unit, berprinter, berscanner, dan berinternet. Alhamdulillah.

http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/07/tgl/25/time/095727/idnews/642545/idkanal/450

Kanibalisme dan Kloning, Kiat Hadapi Keterbatasan Fasilitas

(Artikel ini di-publish pada tahun 2006 di detik.com sebagai salah satu tulisan terbaik dalam program "Smart Teacher").

Cerita ini berawal ketika tiga tahun lalu saya mulai bekerja sebagai seorang staf pengajar alias guru komputer atau dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), guru teknologi informasi & komunikasi (TIK) pada sebuah SMP Islam Terpadu di kawasan Bekasi. Sebuah sekolah yang notabene cukup ternama dan terpandang di Bekasi.

Namun sebagaimana sekolah lain yang juga sama-sama sedang berkembang fasilitas sarana belajar yang dimiliki boleh dibilang belum memadai. Sesungguhnya komentar tersebut telontar dari sudut pandang seorang guru komputer baru, yang harus mengajar dengan tiga buah komputer Pentium 1 second di ruangan yang sedikit berdebu karena sudah lama tidak aktif.

Sebenarnya ada sepuluh unit komputer Pentium 1 second berbagai merk beserta monitor dan meja komputer desain sendiri, namun dari sepuluh unit tersebut hanya tiga unit yang dapat berfungsi dengan baik, sisanya harus menempuh proses "kanibal" untuk dapat kembali "hidup".
Pekerjaan pertama saya sebagai guru baru adalah membuat "hidup" tujuh unit komputer yang sedang "mati suri". Akhirnya dengan bekal pelatihan merakit komputer sewaktu masih kuliah, Alhamdulillah berhasil menghidupkan empat unit komputer, sedangkan tiga unit lainnya terpaksa jadi barang rongsokan.

Untuk dapat mengajar dengan baik, sementara ini dibutuhkan tiga unit lagi untuk menggenapkannya menjadi sepuluh unit, karena rata-rata jumlah siswa per kelas adalah tiga puluh orang siswa, jadi paling tidak satu unit komputer dapat dipakai tiga orang siswa. Tiga unit kekurangannya saya minta dilengkapi supaya proses belajar mengajar dapat berjalan dengan "nyaman".

Tanpa menunggu waktu yang lama Pentium 1 second sebanyak tiga buah akhirnya melengkapi laboratorium komputer saya. Oh, ya. Saya bangga juga sekarang sudah punya ruangan yang bisa disebut sebagai laboratorium walau sedikit berdebu karena tanpa AC juga karena jarang dibersihkan oleh bagian kebersihan.

Tahun pertama mengajar, ya menggunakan sepuluh unit komputer yang stand alone itu. Sebuah kesulitan tersendiri karena banyak siswa yang cukup antusias dengan teknologi komputer sementara sarana terbatas. Yang melengkapi kesulitannya adalah, rata-rata siswa memiliki komputer setara Pentium 4 di rumahnya, sehingga muncul suara riuh saat mengajar manakala komputer mulai "lemot".

"Pak, Pak, gimana nih, kok lambat sih..."

"Ngelek nih..." celetuk mereka. Wuih, berat juga rasanya mengajar dengan kondisi seperti itu, sendiri pula. Bolak-balik kesana kemari.

"Pak, Pak... kalo ini caranya, gimana... Pak, Pak... seperti ini betul kan ? Pak, Pak, ke sini dong, ajarin, nggak tau nih, kok bisa begini sih..."

Muncul pikiran dalam benak bahwa kondisi seperti ini tidak boleh terus berlanjut, tapi mau gimana? Hingga suatu saat terlintas sebuah ide, "PC Cloning". Sebuah teknologi yang kurang familiar bagi sebagian orang, tapi mungkin bisa jadi solusi.

PC Cloning adalah membuat komputer menjadi lebih "ngebut" dengan dibantu sebuah server sebagai induknya. Pentium 1 bisa jadi secepat Pentium 4 jika induknya Pentium 4. Kalo tidak salah, katanya sih begitu, tapi siapa yang bisa ya? Berapa biayanya?

Sebagai ilustrasi tambahan, harga 1 unit komputer Pentium 4 adalah sekitar Rp. 5 juta, 10 unit berarti Rp 50 juta, wow banyak juga. Kalo di Cloning, harga 1 unit "server-serveran" sekitar Rp. 7 juta, instalasi dll sekitar Rp. 3 juta, total 10 juta berarti bisa hemat 40 juta, wow bisa buat beli rumah tipe 21 nih. Hitungan sederhana, tapi mudah-mudahan tidak jauh meleset dari perkiraan.

Berbekal koneksi kenalan dan teman-teman yang mengerti komputer, mulailah saya mencari informasi tentang PC Cloning dan ahlinya. Sampai akhirnya dipertemukan dengan seorang alumni dari STM tempat saya sekolah dulu. Ternyata berbekal lulus STM (STM favorit di Rawamangun), dia katanya mampu belajar mandiri secara otodidak dalam mempelajari PC Cloning, luar biasa.

Mulailah saya berkonsultasi dan berdiskusi tentang ide dan realisasinya. Ternyata semua bisa diatur, tidak ada masalah dan yang tidak kalah luar biasa biayanya tidak jauh meleset dari perkiraan.

Tanpa banyak pertimbangan, saya mulai membuat rancangan proposal pengajuan dana tentang PC Cloning. Tidak lupa saya jelaskan kelebihan dan perbandingan, untuk memperkuat analisa ilmiah dalam isi proposal. Tanpa banyak pertimbangan pula ternyata proposal saya disetujui karena memang argumen dan analisanya sangat bisa dipertanggungjawabkan. Alhamdulillah.

Pekerjaan "menyulap" Pentium 1 jadi Pentium 4 pun dimulai. Belanja "server" Pentium 4, kabel UTP + connector RJ45, Switch, LAN Card yang ada Boot ROM-nya, dan lain-lain. Dalam 3 hari instalasi hardware dan software, termasuk LAN PC Cloning bagian dari teknologi jaringan atau LAN semuanya rampung dan sudah dapat diuji coba.

Dengan perasaan dag dig dug, harap-harap cemas bercampur senang, akhirnya komputer lawas dan berdebu, Pentium 1 second 166 Mhz dengan RAM 32 tanpa harddisk setelah di "sulap" ternyata mampu menjalankan Windows Xp dengan segala software pelengkap tanpa banyak keluhan bisa "ngebut". Luar biasa, Alhamdulillah.


(bersambung.....)

http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/07/tgl/18/time/120101/idnews/637911/idkanal/450

Panglima THARIQ BIN ZIYAD

Thariq bin Ziyad

Peletak Era Baru Islam di Spanyol

Setelah mendarat di wilayah pantai Spanyol, sambil memandang ke arah karang yang berada di bawah mereka dan kemudian dinamai dengan Jabal al-Tariq (Jibraltar), penakluknya, Thariq bin Ziyad, memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah membawa para pasukan Islam dari Afrika menyeberangi selat tersebut pada tahun 711 Masehi.

"Kenapa anda membakar kapal-kapal itu ?" bertanya para prajuritnya yang keheranan.

"Bagaimana kita kembali nanti?" sahut yang lainnya.

Thariq nampaknya tidak mengabaikan pertanyaan prajuritnya tersebut.

Sebagai jawabannya, ia mengungkapkan kata-katanya yang bersejarah, yang mampu membangkitkan semangat para prajurit muslim untuk berani. Dia berkata : "Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya mempunyai dua pilihan, menaklukkan negeri ini dan kemudian menetap di sini atau kita semua binasa di tangan musuh."

Iqbal menggubah syair yang membangkitkan semangat tentang peristiwa bersejarah itu dalam karya Persianya yang berjudul "Piyam-i-Mashriq" yang berbunyi:

"Tatkala Thariq membakar kapal-kapalnya di pantai Andalusia (Spanyol), prajurit-prajuritnya mengatakan bahwa tindakannya itu tidak bijaksana. Bagaimana mereka bisa kembali ke negeri asal mereka ?, dan perusakan peralatan adalah bertentangan dengan hukum Islam. Mendengar itu semua, Thariq menghunus pedangnya seraya mengatakan bahwa setiap negeri adalah kepunyaan Allah dan di situ juga kampung halaman kita."

Dicambuk oleh kata-kata ini, para pasukan Islam di bawah pimpinan Thariq menaklukkan pasukan Barat yang kuat dan membawa bendera Islam sampai ke balik tembok yang memagari kota Pyrennes.

Memang setelah wafatnya Rasulullah s.a.w., posisi kaum muslimin mulai terancam dari semua sisi. Kerajaan-kerajaan kuat seperti Romawi dan Persia yang bertetangga pada mulanya berkomplot untuk mengikis habis kekuatan Islam. Namun pada akhirnya, kaum muslimin mampu menaklukkan kedua kekaisaran terbesar tersebut dan dalam waktu kurang dari setengah abad, mereka (pasukan Islam) telah melebarkan wilayahnya di tiga benua terkenal.

Dasar-dasar agama Islam, persamaan, dan persaudaraan yang diterapkan memungkinkan bagi bangsa-bangsa yang telah ditaklukkan itu turut serta dalam pemerintahan bersama-sama dengan bangsawan-bangsawan Arab. Islam tidak mengenal adanya pembagian golongan (kasta) dan siap membantu siapa saja dalam usahanya menciptakan kehidupan yang harmonis, rukun, dan damai.

Thariq bin Ziyad -seorang budak Barbar- adalah bekas pembantu Musa bin Nushair, seorang raja muda Islam di Afrika. Pada saat itu, ketika Afrika sedang asyik menikmati suasana keadilan, toleransi yang tinggi dan kemakmuran di bawah pemerintahan Islam, tetangganya, Spanyol, sedang resah menghadapi kekejaman dan kekerasan raja Gotik dari Jerman. Kesucian para wanita terancam dan para petani dikenakan pajak yang mencekik. Raja dan antek-anteknya bersukaria dalam kemewahan sedangkan rakyat merintih kelaparan.

Sejumlah besar pengungsi dari Spanyol yang beragama Kristen dan Yahudi yang mendapat tekanan di bawah kekuasaan Gotik mendapat perlindungan dari orang-orang Islam Afrika. Salah seorang dari mereka adalah Julian, gubernur Ceuta yang putrinya telah dinodai oleh raja Roderick, raja bangsa Gotik. Mereka memohon kepada Musa untuk memerdekakan negeri mereka dari penindasan raja yang lalim itu.

Sementara itu, pertempuran paling seru terjadi di Eropa yang pada akhirnya membawa kemenangan di pihak Thariq. Dalam pertempuran tersebut, Musa bin Nushair, atasan Thariq turut serta. Selanjutnya kedua jenderal besar itu bergerak maju terus berdampingan dan dalam waktu kurang dari 2 tahun seluruh daratan Spanyol jatuh ke tangan Islam. Portugis ditaklukkan pula setelah beberapa tahun kemudian.

Phillip K. Hitti menulis, " Ini merupakan perjuangan besar yang terakhir dan paling sensasional bagi bangsa Arab, membawa masuknya wilayah Eropa yang sangat luas yang belum pernah mereka peroleh sebelumnya ke dalam kekuasaan Islam…..Kecepatan pelaksanaan dan kesempurnaan keberhasilan operasi ke Spanyol ini telah mendapat tempat yang unik di dalam sejarah peperangan abad pertengahan."

Musa dan Thariq pasti akan dapat dengan mudah menaklukkan seluruh Eropa. Tak seorangpun dapat menghentikan gerak laju mereka, tetapi Allah s.w.t. berkehendak lain. Ketika mereka merencanakan penyerbuan ke Eropa, mereka mendapat panggilan dari Khalifah untuk datang ke Damaskus. Mereka menunjukkan sikap disiplin yang tinggi dengan mematuhi perintah Khalifah. Setelah berusaha dapat tiba seawal mungkin di Damaskus, Thariq meninggal di sana beberapa saat kemudian.

Penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam membuka era baru bagi semenanjung tersebut. Hal ini mendorong timbulnya revolusi sosial dimana kebebasan beragama benar-benar diakui. Ketidaktoleransian dan penganiayaan yang biasa dilakukan oleh orang-orang Kristen, digantikan oleh toleransi yang tinggi dan kebaikan hati yang luar biasa. Kota-kota yang ditaklukkan menerima syarat-syarat yang menguntungkan yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Tentara Islam yang kedapatan melakukan tindakan kekerasan dikenakan hukuman yang berat. Tidak ada harta atau tanah milik rakyat yang disita dengan sewenang-wenang. Orang-orang Islam malahan memperkenalkan sistem perpajakan yang jitu dan dengan cepat membawa kemakmuran di semenanjung itu serta menjadikannya sebagai negeri teladan di Barat. Orang-orang Kristen dibiarkan memiliki hakim sendiri untuk memutuskan perkara-perkara mereka. Semua komunitas mendapat kesempatan yang sama dalam pelayanan umum.
Pemerintahan penguasa-penguasa Islam yang baik dan bijaksana ini membawa efek yang baik. Orang-orang Kristen, termasuk para pendetanya yang pada mulanya meninggalkan rumah mereka dalam keadaan ketakutan, kembali pulang dan menjalani kehidupan yang makmur dan bahagia. Seorang penulis Kristen terkenal menulis: " Muslim-muslim Arab itu mengorganisir kerajaan Kordoba dengan baik, yang merupakan keajaiban Abad Pertengahan. Merekalah yang memegang obor pengetahuan dan peradaban, kecemerlangan dan keistimewaan kepada dunia Barat di saat semua negara Eropa terperosok di dalam percekcokan dan kebodohan yang biadab".

PRINT '11 & Wisata IPTEK

GLADIAN NASIONAL PRAMUKA SIT

Pramuka S.I.T
prok prok prok INDONESIA
prok prok prok BERSIAP
prok prok prok SIAGALAH
prok prok prok JAYALAH

Demikian gemuruh tepuk Pramuka SIT yang dikomando langsung oleh Kak Fikri selaku Pimpinan Satuan Komunitas (PINSAKO) Pramuka SIT Nasional mensemangati peserta Gladian Nasional ke-2 Pramuka SIT di Pusdiklatnas Cibubur. Gladian kali ini diselenggarakan dalam rangka persiapan Perkemahan International 2011 (PRINT’11) yang digelar di Hutan Lipur Ulu Bendul Kuala Pilah, Negeri Sembilan, Malaysia. Pramuka SIT dari seluruh Indonesia berkumpul merekatkan ukhuwah dengan mengusung tema “Tingkatkan Wawasan Bentuk Kepribadian” menerima berbagai macam materi kePramukaan, antara lain : Wawasan Pramuka SIT, PBB, Beladiri Pramuka SIT, materi Leadership, Seni dan Aksi KePramukaan dan kegiatan menarik lainnya. Salah satu kegiatan yang menarik adalah belajar nasyid Mars Pramuka SIT yang dilatih langsung oleh Kak Faris sebagai vokalis pelantun Mars Pramuka SIT bersama tim nasyidnya Justice Voice yang baru akan di launching pada saat Perkemahan Ukhuwah Nasional (KEMNAS) ke-2 Januari 2012. Kekompakan dan kebersamaan demikian terasa ketika bersama-sama mengumandangkan Mars Pramuka SIT dengan teman-teman seluruh Indonesia.

PEMBERANGKATAN KE MALAYSIA

Pukul 05.10 WIB mobil Isuzu Elf yang berisi 8 orang peserta putra (Riva, Reza, Ezza, Kiki, Ulhaq, Ozan, Galang, Alil) dan 4 orang peserta putri (Mentari, Muthia, Aul, Hani) didampingi 1 orang Pembina (Kak Adi) meluncur menuju Bandara Soekarno Hatta diiringi gerimis pagi yang sejuk. Tidak lebih dari satu jam kami sampai di Soeta mengawali perjalanan menggali pengalaman di negeri jiran Malaysia. Pukul 14.40 (waktu Malaysia) kami tiba di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) dan langsung diantar Bas Persiaran ke Sekolah Menengah Teknik Tuanku Ja’afar untuk beristirahat di asramanya.

SHOLAT SHUBUH PERTAMA YANG LUCU

Pukul 04.30 kami sudah dibangunkan untuk persiapan Sholat Shubuh. Jam menunjukan pukul 05.15 ketika iqamat dikumandangkan disambut takbir sang imam. Tak ada yang aneh dan dan janggal dalam Shubuh kala itu. Selesai sholat dan berdzikir kami kembali ke asrama untuk persiapan pemberangkatan ke tempat perkemahan. Baru saja tiba duduk dan berbincang ringan dengan teman-teman di dalam asrama tiba-tiba berkumandang suara adzan lengkap dengan kalimat “Asholatu khairumminannaum…”, sementara jam menunjukan pukul 06.00 (kurang sedikit). Spontan kami kembali bangkit memotong perbincangan sambil saling memandang dengan raut wajah yang hampir sama heran dan bergegas kembali ke Surau menyadari kalau sholat Shubuh yang barusan dilakukan ternyata belum masuk waktunya. Perbedaan waktu Indonesia Malaysia terpaut 1 jam sehingga matahari baru mulai bertugas bersinar di Malaysia sekitar pukul 07.00. Jadilah sholat Shubuh pertama di Malaysia menjadi cerita lucu, unik dan jadi trending topic kami pagi itu.

LUK SUA THAILAND MENYAMBUT PRAMUKA SIT

Kumandang Mars Pramuka SIT menyambut kedatangan kami di Hutan Lipur Ulu Bendul disertai ucapan selamat datang melalui pengeras suara oleh urusetia. Sejenak kami tiba dan menghela nafas sesaat munculah pemuda-pemuda berseragam crem yang sebagian besarnya berbaret ungu sebagiannya lagi menggunakan tutup kepala layaknya veteran RI. Mereka adalah Luk Sua Thailand yang dengan hangatnya menyambut kehadiran kami. Walau masih canggung berkomunikasi dengan berbagai macam bahasa (Indonesia, Melayu, Thailand/Siam, Inggris termasuk bahasa isyarat) tapi pancaran ikatan persaudaraan Islam yang telah kami rasakan mengotomatisasi jiwa dan raga ini untuk berjabat erat. Bersalaman dan berfoto bersama menjadi momen pertama yang kami lakukan antara Pramuka SIT Indonesia dengan Luk Sua Thailand.

SUASANA PERKEMAHAN

Hutan Lipur Ulu Bendul adalah salah satu dari sekian banyak hutan wisata yang terdapat di Malaysia. Terletak ±60 Km dari Kuala Lumpur, Hutan Lipur Ulu Bendul memiliki berbagai fasilitas menarik diantaranya adalah Taman Ular Sawa, Taman Herba, Kolam Renang, Tapak Perkemahan, Arena Outbound, Wisata belanja dan kuliner, Hutan Lindung Angsi dan Gunung Angsi setinggi 825 mdpl. Lokasi tapak kemah kami terletak ditengah-tengah kawasan Hutan Lipur Ulu Bendul dengan tanah bercampur pasir putih yang jika hujan air segera meresap kedalam tanah dan tidak terlalu becek. Tujuh regu putra dan enam regu putri bergegas mendirikan tenda sesaat setelah urusetia memberikan sekitar 15 buah tenda untuk kemah kami selama 4 hari disana. Yang jadi tantangan saat berkemah adalah hujan yang menerpa kemah dan kegiatan kami setiap hari siang dan malam. Matahari tak kuasa menembus nakalnya awan dan tetesan air hujan yang sepanjang hari menghalangi, sehingga basah dan angin sejuk merupakan teman kami sehari-hari. Namun berbagai jenis kegiatan yang digelar oleh urusetia tetap kami ikuti. Mulai dari Senam Nusantara yang dengan luar biasa dipandu oleh kontingen dari Indonesia, pendakian gunung Angsi, menyaksikan Basic Self Defence (BaSeD) dan memperagakan bela diri dasar Pramuka SIT, menyaksikan Succes Story KRS Musleh dan mengenalkan Pramuka SIT, agenda internal (hiking, outbound, mengunjungi taman ular), menjadi pengisi kultum maghrib dan kuliah shubuh, serta menampilkan nasyid dalam malam pentas seni budaya. Bahkan tim nasyid Print Voice (kontingen Pramuka SIT Indonesia) yang tidak lebih dari sepekan dibentuk dan dilatih mendapatkan apresiasi dan penghargaan sebagai penghibur terbaik dalam kegiatan perkemahan kali ini.

BERTUKAR ATRIBUT, KIASAN SEBUAH PERSAUDARAAN

Upacara penutupan baru saja usai. Kak Sukro selaku Mabinas SAKO Pramuka SIT memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan, memberikan semangat kepada seluruh peserta sekaligus mengundang KRS Malaysia dan Luk Sua Thailand untuk hadir dalam Perkemahan Ukhuwah Nasional (KEMNAS) ke-2 yang akan digelar Januari 2012 di Cibubur.
Sebuah pemandangan unik usai acara penutupan dan bersalam-salaman berlangsung adalah cengkrama peserta dari tiga negara (Indonesia, Malaysia dan Thailand) saling bertukar atribut masing-masing. Baret, topi, pin, kacu, ring kacu, epaulette, bahkan ikat pinggang dan atribut lain kini sudah berpindah tempat dan pemilik. Keikhlasan mereka memberi apa yang saudaranya minta menjadi kiasan persaudaraan diantara mereka. Subhanallah…

ANTARA PRAMUKA SIT INDONESIA, KRS MUSLEH MALAYSIA DAN LUK SUA THAILAND

Pramuka SIT Indonesia merupakan Satuan Komunitas pertama di Indonesia yang meleburkan diri ke dalam wadah besar Gerakan Pramuka sebagai organisasi resmi kepanduan di Indonesia dan mengikuti seluruh aturan yang ada dalam Gerakan Pramuka. KRS (Kadet Remaja Sekolah) Musleh adalah bagian dari wadah besar KRS (Kadet Remaja Sekolah) Malaysia sebagai organisasi pemuda sejenis scout/pandu dibawah naungan pemerintah Malaysia. Luk Sua Thailand adalah organisasi resmi kepanduan Thailand yang juga merupakan anggota WOSM (World Organizatioan of the Scout Movement) seperti Gerakan Pramuka. Ketiga elemen ini bergabung dalam sebuah perkemahan diantaranya adalah atas dasar kesamaan fikroh keIslaman.
Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia, Pertubuhan IKRAM-MUSLEH Malaysia dan Jaringan Sekolah Bestari Thailand merupakan lembaga ber-genre sejenis yang seiring sejalan menanamkan dan menumbuhkan Syakhsiyah Islamiyah kepada pemuda-pemuda Islam. Ketiganya memiliki pemuda-pemuda tangguh dalam scout-nya masing-masing. Dan itu sudah dibuktikan dalam PRINT ’11. Kegiatan serupa akan terus berlanjut baik di Indonesia, Malaysia maupun Thailand.

WISATA IPTEK YANG MENYENANGKAN

Hari-hari terakhir kami di Malaysia adalah berwisata. Pengalaman yang sungguh luar biasa dan menyenangkan. Bas Persiaran yang nyaman, bilik hotel yang comfort, makanan yang enak dan pemandangan yang indah menjadi pelengkap pengembaraan kami di negeri jiran. Ilmu pengetahuan juga menjadi lebih mendalam dengan kunjungan kami ke Petrosains yang berada didalam menara kembar Petronas, pusat pemerintahan Malaysia di Putrajaya, Pusat Sains Negara dan diakhiri dengan naik SkyWay (kereta gantung) di Genting Highlands yang merupakan SkyWay terpanjang di asia tenggara, walaupun antrinya juga panjaaaang.

BERPISAH UNTUK BERTEMU KEMBALI

Rangkaian PRINT ’11 dan Wisata Iptek telah berakhir. Ditutup dengan malam perpisahan di Genting View Resort. Perpisahan yang akan mempertemukan dan mempererat kembali ukhuwah kami, merapatkan barisan di KEMNAS 2 InsyaAllah. Karena kami berazzam bahwa …
Kami generasi muda yang gigih
Bertekad kuat membangun negeri
Agar Indonesia membumbung tinggi
Harum semerbak seantero bumi
Pramuka SIT Indonesia
Dengan Islam kami terus melangkah
Pramuka SIT Indonesia
Dengan takwa kami meraih cita
Tangguh, tangkas, teguh di dalam jiwa
Pramuka SIT Indonesia

Tim Media
Pramuka SMPIT Thariq Bin Ziyad
http://pramukatbz.blogspot.com

Bersama Amal Thulabi Membangun Peradaban

Guru! Apa yang masih menarik dari sebutan ini di saat ummat mengalami keterpurukan moral? Ketahuilah, Hasan Al Bana, sang pendiri Ikhwanul Muslimun, menjadikan kata “guru” sebagai predikat akhir dari perjuanga nya. Beliau menggariskan bahwa tujuan akhir dari murotibul amal yang disusunnya adalah ustadziyatul alam; menjadi guru peradaban. Tujuan akhir ini memang tidak lebih sering diucapkan dibanding tujuan-tujuan antaranya. Namun di masa depan, kata “guru” secara proporsional harus dikembalikan kewibawaannya. Hingga segenap aktivis harakah memahami benar tujuan hakiki dari tertib amal yang sedang ditekuninya.

Perbincangan seputar wacana guru juga akan segera mengingatkan para aktivis harakah tentang inti sebuah peradaban; manusia. Lebih khusus lagi wacana ini akan membentangkan betapa luasnya lahan pembinaan generasi muda, dan betapa masih jauhnya perjalanan dakwah untuk itu. Bagaimanapun istimroriyatudda’wah (kesinambungan dakwah) amat sangat tergantung pada keberhasilan guru-guru yang mampu mewariskan sifat-sifat kenabian dari generasi ke generasi.

Kemanakah guru-guru di jajaran harakah Islamiyah seharusnya membidik barisan inti perjuangannya? Jawabnya adalah ke kaum terpelajar. Merekalah SDM (Sumber Daya Manusia) strategis peradaban di zaman ini. Mereka pulalah yang potensial mengemban misi kenabian di masa-masa yang akan datang. Mereka katakanlah, semacam “nabi kolektif” yang memberi pengharapan terhadap ummat tentang masa depan yang cerah.

Buku setebal 249 halaman ini kebetulan mengisahkan tentang bagaimana sebuah perubahan diusung oleh elit terpelajar yang disebutnya sebagai “thullaby.” Kisah tentang bagaimana sifat-sifat kenabian itu diwariskan melalui sebuah manajemen dakwah di kalangan generasi muda terpelajar. Buku ini mengukuhkan amal thullaby (dakwah kampus) sebagai lingkaran dakwah pertama yang menjadi inti harakah islamiyah — kemudian amal mihany (dakwah profesi) dan akhirnya amal siyasi (dakwah partai politik). Urut-urutan amal ini seolah telah menjadi khittah perjuangan dunia Islam yang tengah mengalami keterpurukan semenjak runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani di awal abad 20.

Tesis tentang elit terpelajar sebagai anashirut taghyir (agent of change) memang bukan hanya milik dunia Islam. Perubahan di berbagai negeri di seganjang abad 20 telah menjadikan kaum terpelajar secara historis sebagai dalil perubahan. Meski bukan satu-satunya kekuatan perubah namun elit dari sebuah pergerakan mestilah kaum terpelajar. Di Indonesia, fenomena lahirnya kaum terpelajar di berbagai perguruan tinggi telah mendorong lahirnya organ-organ pergerakan kemerdekaan di awal abad 20. Tokoh-tokoh penting pergerakan itu kemudian menjadifoundingfathers Republik Indonesia.

Seorang Indonesianis menyebut lahirnya kaum terpelajar di perguruan tinggi-perguruan tinggi itu sebagai elit modern. Istilah elit modern sesungguhnya menandai pengaruh gelombang modernisasi di dunia Islam. Kepemimpinan tradisional yang semula dipegang oleh kaum bangsawan dan kaum ulama bergeser ke model kepemimpinan baru yang berasal dari perguruan tinggi-perguruan tinggi modern. Seiring dengan itu wacana kenegaraan pun berubah di dunia Islam. Ketika satu per satu dunia Islam membebaskan diri dari penjajahan Barat dan kemudian memerdekakan diri, bermunculanlah negara-negara modern dengan warna Barat yang sekuler.

Sepintas penjajah Barat telah berhasil menyapih negeri-negeri jajahannya untuk merdeka dengan model kepemimpinan dan negara modern ala Barat yang sekuler. Namun wacana kemoderenan di sisi lain ternyata mengandung sunnah-sunnah kehidupan yang objektif, yang apabila ditafsirkan sebagai hukum-hukum kekuatan dan kemajuan sebuah peradaban menjadi sesuatu yang bisa diadopsi dan diadaptasi ke dalam dunia Islam. Perdebatan tentang wacana ini misalnya telah melahirkan berbagai pendapat di seputar islamisasi science. Di Indonesia perdebatan ini dijembatani dengan memadukan iptek (ilmu pengetahuan teknologi) dan imtaq (iman dan taqwa). Diam-diam dunia Islam seperti menyepakati adanya nilai-nilai objektif dari kemoderenan. Bak mutiara yang hilang, nilai-nilai itu harus direbut kembali sebagai syarat-syarat yang tak terelakan dari sebuah supremasi peradaban.

Dalam konteks inilah strategi harakah islamiyah dapat mengambil manfaat dari tumbuh berkembangnya perguruan tinggi-perguruan tinggi dan bahkan negara modern yang dirancang Barat. Meski warna perguruan tinggi-perguruan tinggi dan negara di dunia Islam terimbas oleh sekularisme Barat, namun ada yang tetap tak mampu dijarah oleh Barat; aqidah. Dengan kekuatan aqidah kaum muslimin bahkan dapat “menikmati” perguruan tinggi dan negara rancangan Barat itu sebagai semata-mata sarana dakwah. Dengan kekuatan aqidah itu pula kaum muslimin dapat membangun kembali peradabannya tanpa harus menjadi sekuler atau menjadi Barat.

Bagi harakah islamiyah tidak semua yang datangnya dari Barat serta merta haram dan tidak pula serta merta halal. Mungkin saja permasalahannya bukan soal halal dan haram, tapi lebih merupakan hal-hal yang bersifat taktis. Dengan moderasi semacam itu harakah islamiyah dapat menuai hasil dakwahnya dari waktu ke waktu. Perlahan tapi pasti satu jenjang marhalah ke jenjang marhalah berikutnya ditapaki. Dari satu mihwar ke mihwar yang lebih luas cakupannya pun diraih.

Kembali pada buku ini, sungguh di dalamnya sarat berbagai pengalaman dakwah di negeri-negeri Islam dalam mengelola ruang-ruang yang semula seperti sempit menghimpit gerak dakwah menjadi peluang yang mendatangkan gelombang dakwah. Kiat-kiat praktis amal thullaby dipaparkan dengan sangat detail satu per satu. Buku ini seolah-olah ingin merangkum seluruh pertanyaan seputar amal thullaby dan seperti tidak merasa perlu banyak uraian lagi karena pembacanya sudah sangat ingin berkerja. Kumpulan gagasan yang terhimpun di buku ini bagai sebuah juklak yang tersusun secara sistematis mulai dari problem filosofis hingga teknis. Para aktivis dakwah terutama di kampus-kampus dan sekolah dapat menjadikannya sebagai buku pegangan dalam mengelola amal thullaby.

Sukses dakwah kampus yang ditandai oleh gelombang-gelombang perubahan ke arah cita-cita Islam pada gilirannya akan membangun kekuatan di masa depan. Semakin massif dan intensifnya dakwah Islam di kalangan terpelajar akan menciptakan kelas menengah yang siap mengusung perubahan secara mendasar dan menyeluruh. Dunia Islam sepertinya harus bersiap-siap menuai sebuah revolusi global yang akan menggusur rezim otoriter pewaris feodalisme pra Islam yang masih bercokol di negeri-negeri Islam; mungkin lebih dramatis dari Revolusi Prancis. Dunia Islam sepertinya juga harus bersiap-siap untuk menuai sebuah revolusi peradaban yang akan mengejar ketertinggalannya dari Barat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi; mungkin lebih spektakuler dibanding Revolusi Industri. Bila semua itu benar-benar terjadi, atas izin Allah segenap dunia Islam satu per satu akan menapak ketinggian peradabannya di era pasca modern; di mana dunia benar-benar menjadi tanpa tapal batas, ummat menjadi guru peradaban, dan Islam menjadi rahmatan lil alamin.

Jakarta, 14 Agustus 2002

Mustafa Kamal

Belajar Pendidikan Karakter Dari Sepak Bola

Pendidikan karakter itu bukanlah sesuatu yang muluk-muluk atau sulit. Pendidikan
karakter sebenarnya sudah ada dimana-mana. Sudah ada dikeluarga, dilingkungan
sosial, sekolah, tempat hiburan dan lainnya. Tapi kali ini kita akan belajar
sesuatu inti yang penting tentang pendidikan karakter dari sepak bola.

Ya, kenapa sepak bola karena kondisi atau contoh ini akan sangat mudah di
analogikan (disamakan) dengan kondisi dan bagaimana mendidik karakter di dalam
sekolah dan rumah. Pada dasarnya pendidikan karakter adalah memberikan aturan
main dalam kehidupan dan lingkungan sosial disertai dengan konsekuensi yang
berlaku didalamnya. Lalu hubungan dengan sepak bola? Mudah, dalam sepak bola
sudah berlaku aturan yang sangat baku dan jelas. Ada aturan main dan konsekuensi.
Jika melanggar ada kartu kuning (peringatan), kartu merah (keluar dari permainan),
free kick, penalty, corner kick, bahkan denda uang bagi pemain dan team. Bahkan
yang lebih “sadis” lagi jika team tersebut harus turun kasta ke liga yang lebih
rendah lagi.

Sebagai pecinta sepak bola, saya sangat senang dan berulang kali menggunakan
contoh ini kepada guru dan orang tua yang ingin tahu tentang bagaimana mendidik
karakter anak dengan menggunakan contoh ini. Seorang anak perlu mengembangkan
pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja, mempelajari “aturan
main” segala aspek yang ada di dunia ini dan “hidup” didunia ini. Nah,
masalahnya anak pada saat lahir dia tidak memiliki “konsep sosial” didalam
kepalanya, oleh karena itu anak perlu tahu bagaimana aturan – aturan yang ada
didalam dunia ini. Inilah Pendidikan Karakter, mudah kan?

Supaya tidak kena kartu kuning, jangan melanggar. Jika melanggar lagi ya kartu
merah. Sehingga banyak dari pemain sepak bola jika kesal terhadap team lawan
selalu berusaha menjaga sikap dengan berusaha menghormati wasit dan tetap
mengeluarkan uneg-uneg nya. Ya inilah dunia manusia, terkadang ada yang sesuai
dan tidak tetapi diperlukan aturan untuk membuat semuanya teratur.

Dalam permainan sepak bola pemain inti dalam sebuah pertandingan adalah wasit.
Banyangkan jika bermain tidak ada wasit maka kemungkinan besar bukan
pertandingan sepak bola lagi yang kita lihat. Tetapi UFC (Ultimate Fighting
Championship) di lapangan sepak bola, alias tarung bebas dilapangan sepak bola.
Sama dalam dunia pendidikan di sekolah perlau ada figure yang berperan seperti
wasit dalam pertandingan sepak bola yang menjadi “penjaga” aturan di sekolah.
Dan seringkali hal inilah yang menjadi kelemahan, wasit di sekolahnya tidak
berfungsi dengan baik. Sama halnya dirumah, orang tua kurang dapat menjadi wasit
dengan baik. Sehingga pendidikan karakter kurang dapat berjalan dengan maksimal.

Perlu kita ketahui semua, pendidikan karakter bukan semata-mata memberikan
pengetahuan semata tetapi menetapkan aturan dan konsekuensi dilingkungan sekolah
dan dirumah. Dalam peraturan sekolah misal: anak tidak bawa buku pelajaran maka
konsekuensinya mendapatkan tugas tambahan. Ini harus jelas dan konsisten, serta
dikomunikasikan kepada semua pihak termasuk orang tua.

Jika kita melanggar aturan lalu lintas maka jelas kita kena tilang, dan kita
bisa pilih mau slip merah atau biru. Merah bayar di tempat, jika biru kita bayar
di tempat yang ditunjuk untuk mengurusi tilang (Bank BRI). Dan ini konsisten dan
semua masyarakat Indonesia yang menggunakan kendaran bermotor sudah tahu. Inilah
dasar dari pendidikan karakter. Ada aturan yang jelas dan konsekuensi.

Berikutnya, memang sebaiknya seorang yang bertanggung jawab dibidang pendidikan
karakter adalah seorang yang memiliki minat, dalam dunia “kemanusian” tidak
mesti psikolog. Kenapa sebab ini berkaitan dengan menata aturan dan konsekuensi
bagi anak didik. Tentunya aturan ini harus ditata berdasarkan jenjang dan usia
dan skala pelanggaran. Misal: hukuman anak yang mencuri atau merusak dengan
sengaja property sekolah tentunya akan berbeda dengan anak yang lupa membawa
alat tulis, atau tidak membawa catatan.

Nah, yang terpenting bagi kita semua bahwa pendidikan karakter bukanlah sesuatu
yang rumit. Ini sangat mudah dan ada banyak sekali contohnya disekitar kita,
tinggal kita mau apa tidak. Perlu upaya untuk menerapkan ini, kita perlu
mengetahui dan belajar tentang seluk beluk manusia dan bagaimana mengatasinya.
Sebab manusia saat dilahirkan tidak disertai manual book-nya, lain seperti Black
Berry yang kita beli dan sudah disertakan manual book-nya dan ada petunjuk
bagaimana menggunakannya. (pendidikankarakter.com)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN
Copyright © 2011. Adi Scout - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger