Poll

Silaturahim

Popular Posts

Labels

Label

Google +

Latest Post

SK KWARNAS NOMOR: 002 TAHUN 2012 TENTANG PP SATUAN KOMUNITAS PRAMUKA

Written By Admin on Selasa, 08 Mei 2012 | 01.47

Meski masih belum mampu mengakomodir kebutuhan-kebutuhan dalam Satuan Komunitas Pramuka, terutama SAKO Pramuka SIT, Alhamdulillah, telah dikeluarkan Surat keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka nomor: 002 tahun 2012 tentang petunjuk penyelenggaraan Satuan Komunitas Pramuka.
Di antara yang belum terakomodir bagi Satuan Komunitas Pramuka SIT adalah mengenai Seragam. Dalam BAB V NAMA DAN ATRIBUT nomer 2. Mengenai Atribut, pada huruf b. dinyatakan bahwa Pakaian Seragam Sako sama dengan pakaian seragam yang berlaku bagi anggota Gerakan Pramuka sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Kwartir Nasional.


Sako Pramuka SIT sepakat untuk mengikuti aturan tersebut dengan beberapa penyesuaian di antaranya :
Penggunaan Jilbab bagi peserta didik putri digunakan sesuai dengan nilai-nilai dan keyakinan di lingkungan SIT yaitu menjulur keluar menutupi dada (bukan di masukkan ke dalam blous sebagaimana diatur dalam PP seragam)
Terkait dengan hal tersebut di atas maka pemasangan setangan leher bagi putri dipasang di luar jilbab tersebut
Blous yang digunakan menjulur keluar menutupi bagian pinggul hingga batas atas lutut (bukan dimasukkan sebagaimana diatur dalam PP seragam)
Selama ini, karena dianggap tidak sesuai dengan PP seragam tersebut, para peserta didik di lingkungan SAKO Pramuka SIT mengalami kendala, manakala mengikuti event-event resmi di lingkungan Gerakan Pramuka. Di mana mereka harus menyesuai dengan PP seragam tersebut padahal tidak sesuai dengan keyakinan dan kebiasaan yang selama ini ditanamkan di lingkungan internalnya. Seperti, di saat terpilih sebagai peserta JAMNAS, maka seragam yang mereka kenakan, bagi putri harus memasukan blousnya ke dalam rok atau celana panjang, jilbabnya juga harus dimasukkan ke dalam blous mereka, untuk anak putra harus menggunakan celana tiga perempat, bukan celana panjang yang selama ini biasa mereka kenakan.

Semoga pihak Kwartir Nasional dapat mengakomodir penyesuai seragam pada peserta didik dan pembina putri di pangkalan SAKO Pramuka SIT ini.

Donlod PP tentang SAKO di sini

FOOD for Somalia from SMPIT TBZ

Written By Admin on Selasa, 28 Februari 2012 | 20.52


Lebih dari 29.000 anak-anak di bawah usia lima tahun telah tewas akibat kekeringan dan kelaparan di Somalia, perkiraan dari AS menunjukkan. Nancy Lindborg, asisten administrator dari USAID, mengatakan kepada sebuah komite kongres di Washington pada hari Rabu lalu bahwa banyak anak-anak telah tewas dalam 90 hari terakhir di Somalia selatan. Angka baru ini didasarkan pada survei gizi dan kematian yang diverifikasi oleh Pusat AS untuk Kontrol dan Pencegahan Penyakit. Pada hari Rabu lalu, PBB menyatakan ada tiga daerah baru zona kelaparan di Somalia, yang menjadikan jumlah total lima daerah yang terkena bencana kelaparan. PBB mengatakan 3,2 juta warga Somalia sangat membutuhkan bantuan segera untuk menyelamatkan nyawa mereka. Somalia menjadi wilayah paling parah yang terkena dampak bencana kelaparan di Tanduk Afrika, tetapi bagian dari Kenya, Uganda, Ethiopia dan Djibouti juga terkena dampak dari bencana tersebut.

Bencana tersebut membuat SMPIT Thariq Bin Ziyad turut peduli terhadap musibah yang menimpa saudara-saudara muslim di Somalia. Bersama ACT, penggalangan dana untuk Somalia pun dilakukan pada Jum’at 24 Februari  2012. Dengan memaparkan kondisi terkini disertai gambar dan video yang disajikan melalui proyektor, Alhamdulillah dari siswa-siswi SMPIT Thariq Bin Ziyad terkumpul dana sebesar Rp. 4.860.000 dan beberapa ringgit (dari siswa SMPIT TBZ peserta PRINT’11). Semoga dana tersebut dapat membantu saudara-saudara muslim kita di Somalia dan menjadi kebaikan bagi kita semua. (SS)

RIVA, SANG PRATAMA YANG GAGAH

Written By Admin on Senin, 27 Februari 2012 | 15.35



Siaaaaap… Grak…!!!. Demikian aba-aba panjang yang dilantangkan oleh pemimpin upacara pada pembukaan KEMNAS 2 Pramuka SIT di Bumi Perkemahan Cibubur pagi itu. Riva Aprilliana Fauzan, Pramuka penggalang gagah yang sudah memiliki 11 buah TKK (Tanda Kecakapan Khusus) di selempangnya itu ternyata berasal dari Gugus Depan Sekolah Islam Terpadu Thariq Bin Ziyad Bekasi Jawa Barat. Siswa kelas 8E RSBI SMPIT Thariq Bin Ziyad itu terpiih dan dipercaya menjadi Pratama (Pemimpin Regu Utama) setelah melewati seleksi yang dilakukan oleh KorNas Pramuka SIT untuk memimpin upacara pembukaan dan penutupan KEMNAS 2 Pramuka SIT. Ucapan selamat dan jabat tangan dari Ka.Kwarnas beserta petinggi Pramuka SIT menjadi motivasi tersendiri bagi sang Pratama.


Sebuah kebanggaan bagi Gugus Depan 06.215-06.216 Pangkalan Thariq Bin Ziyad bisa mengantarkan salah satu anak didiknya berprestasi dengan menjadi pemimpin upacara di tingkat nasional. Karena prestasi bukan hanya diukur dari kemenangan dalam sebuah lomba namun prestasi juga bisa diukur dari keberhasilan penanaman nilai dan karakter yang tercermin dalam sikap dan perilaku peserta didik. Mungkin demikian salah satu sudut pandang tentang prestasi yang tercermin pada Riva sang Pratama.

Siswa yang lahir di Bandung 19 April 1998 dari pasangan Yana Mulyana dan Nina Herlina ini memang belum pernah diikutsertakan dalam lomba-lomba yang bersifat akademis walaupun dikelasnya selalu meraih peringkat 3 besar. Namun pengalaman dan semangat untuk senantiasa belajar dan berlatih memupuk karakternya. Kak Adi, Pembina Pramuka SMPIT TBZ pernah bilang, “Lomba dan kemenangan itu bukan tujuan tapi untuk mengukur keberhasilan latihan kita. Pembentukan karakter lebih penting karena menjadi basic core dari Pramuka”. Oleh karenanya lomba adalah salah satu sarana diantara banyak sarana termasuk berlatih dan menggali sebanyak mungkin pengalaman. Itu pula yang dialami siswa yang memiliki motto “Be your self” ini. Pengalamannya mengikuti kegiatan dan proses pembinaan di Pramuka SIT telah membentuk dirinya. Sebut saja serentetan pengalamannya yang sesungguhnya juga merupakan sebuah prestasi :
-          Kelas RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional)
-          LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa)
-          English Outing Program di Kampung Inggris Pare – Kediri
-          Persami (Perkemahan Sabtu Minggu) Pramuka SMPIT TBZ di Gunung Bunder
-          LKTM (Latihan Kepemimpinan Tingkat Menengah) OSIS-Pramuka-PMR
-          TSO (Thariq Student Outbound) di Curug Panjang, Mega Mendung – Bogor
-          Jambore Nasional IX Pramuka di Teluk Gelam, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan
-          Gladian Nasional Pramuka SIT di Pusdiklatnas Pramuka, Cibubur
-          Perkemahan Internasional (PRINT) 2011 di Hutan Lipur Ulu Bendul, Kuala Pilah – Malaysia
-          Wisata IPTEK Pramuka SIT di Kuala Lumpur, Malaysia
-          Kemah Nasional Pramuka SIT di Bumi Pekemahan Cibubur

Pramuka telah memotivasi semangatnya. Kemandirian, kedisiplinan dan kemampuan leadership adalah sebagian manfaat yang menurutnya sudah ia rasakan. Dimata sang kakak, Reza Aprilliana Fauzi, Riva adalah adik sekaligus sahabat baginya. Dimana ada Riva selalu ada Reza karena memang mereka saudara kembar. Reza sang kakak yang bercita-cita menjadi drummer ini memang memiliki hobi yang berbeda dengan Riva, namun mereka sama-sama memiliki semangat yang sama di Pramuka. Pramuka telah memupuk kekompakkan dua saudara kembar ini.

Selain menjadi Pratama di KEMNAS 2 Pramuka SIT, Riva adalah Pratama di pasukan putra Pramuka SMPIT TBZ dan juga ketua kelas di kelasnya. Menurut sahabatnya yang akrab dipanggil Kidut, “Riva itu orangnya tegas, disiplin, sabar dan murah senyum”. Mungkin itu juga yang membuat teman-temannya mempercayakan dan memberikan amanah kepemimpinan di pundak siswa yang hobi berenang ini. Pratama yang bercita-cita menjadi pengusaha ini diwaktu senggangnya juga menyalurkan kegemaran memasaknya, Zupa Soup adalah masakan favoritnya. TKK memasak pun telah ia sandang sebagai de jure keahliannya memasak.

Bukan hanya itu, TKK khotib/kultum tingkat purwa telah melatih dirinya untuk bisa memberikan taushiyah didepan orang banyak. Oleh karena itu ketika diamanahkan untuk memberikan kuliah Shubuh mewakili kontingen Indonesia dihadapan seluruh peserta Perkemahan Internasional (PRINT) 2011 di Malaysia ia langsung menyatakan siap. Dan itupun merupakan sebuah prestasi yang patut dibanggakan.


Sebagai “anak thariq”, Riva telah membuktikan pada kita semua bahkan pada teman-teman dari Malaysia dan Thailand bahwa predikat Shaleh dan Cerdas telah mulai melekat pada dirinya. Siswa yang tengah menyelesaikan hafalan Juz 29nya ini tetap tampil sederhana dalam kesehariannya. Prestasi dan pengalaman yang dilaluinya telah membentuk jiwanya makin matang, tidak sesederhana penampilannya.

Menjadi Pratama (pemimpin regu utama) memang bukanlah tujuan atau puncak dari kesuksesan dan kepemimpinan di Pramuka. Namun ia merupakan salah satu proses pembentukan karekter dan kepribadian. Akan terus lahir pratama-pratama berkualitas di Pramuka TBZ sebagai calon-calon pemimpin dimasa mendatang. (SS)

Banner "Thariq Bin Ziyad" di depan gerbang Tol Bekasi Timur

Written By Admin on Jumat, 17 Februari 2012 | 22.06


Sebuah banner besar sudah satu bulan ini terpampang di depan gerbang tol Bekasi Timur bertuliskan Open New Registration bersanding dengan banner-banner raksasa lainnya. Banner-banner besar tersebut saling berlomba mempromosikan produk-produknya termasuk LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM TERPADU “THARIQ BIN ZIYAD” yang mem”produksi” generasi Sholeh dan Cerdas. Keseriusan lembaga ini dalam membangun generasi-generasi Islam yang tangguh terbukti dengan keseriusannya mempromosikan lembaganya melalui banner raksasa. Dalam bahasa Al-Qur’an “fastabiqul khairat” , maka saat ini ada banner besar yang sedang mempromosikan kebaikan-kebaikan melalui LPIT Thariq Bin Ziyad.

Keberadaan banner tersebut juga sebagai bentuk pembuktian eksistensi salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di Bekasi ini. Thariq Bin Ziyad ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa semua bentuk media juga harus bisa dijadikan sarana penyebar kebaikan.

Selain eksistensi didunia nyata, Thariq Bin Ziyad juga berusaha eksis di dunia maya dengan adanya www.thariq.com. Eksistensi didunia maya menjadi penting karena gaya hidup masyarakat kini cenderung dan sudah mengarah ke era dunia digital. Orang tua di era digital tidak lagi perlu berkeliling mencari sekolah bagi anaknya. Namun cukup berada di depan komputer, searching, ketemu yang cocok baru sekolah itu dihubungi dan dikunjungi. Bahkan jika tidak ingin direpotkan bisa langsung melanjutkan duduk didepan komputer dan registrasi secara online. Kata anak zaman sekarang, “Hari gene masih manual ???... capeee deeeeh…”.

Walaupun era digital memiliki kekurangan dan kelebihan, eksistensi di dunia maya kini seakan menjadi keharusan. Jejaring sosial yang berkembang demikian pesat bahkan diluar dugaan sebagian pengamat IT menjadikan sebuah lembaga seperti Thariq Bin Ziyad juga harus (baca : wajib) memiliki alamat website, jejaring sosial, e-mail dll dengan diiringi informasi yang lengkap dan up to date.

Tuntutan itu pula yang menjadikan www.smpit-thariq.com lahir kembali setelah beberapa tahun mati suri. (SS) 

Profil : Nabilla Elsaphira Putri, maestro lukis SMPIT TBZ

Written By Admin on Kamis, 16 Februari 2012 | 01.12



Gadis belia kelahiran Jakarta, 2 Desember 1998 ini bernama Nabilla Elsaphira Putri. Anak kedua putri dari pasangan Ponco Surio dan Tiwi Pawitasari ini adalah maestro lukis di SMPIT Thariq Bin Ziyad. Kepiawaiannya melukis sudah tidak diragukan lagi. Mulai dari SD sudah gemar melukis. Prestasi gadis penyuka pudding ini ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar adalah menjadi Juara 2 lomba lukis tingkat provinsi. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan bagi dirinya dan kedua orang tuanya. Oleh karenanya  bakat tersebut sangat di support oleh sang ayah dengan mendatangkan guru les privat melukis ke rumah.

Vira, demikian panggilan akrab siswa yang suka warna coklat dan merah ini. Warna pilihannya cukup menggambarkan kepribadian dan aktifitasnya. Warna coklat menurutnya adalah warna yang elegan. Mungkin juga karena ia ikut aktif di Pramuka SMPIT Thariq Bin Ziyad. Bahkan memiliki peran penting di Pramuka yakni sebagai Pratama (Pemimpin Regu Utama) di pasukan putri. Karena kemenanganya diberbagai lomba lukis, Pembina Pramuka SMPIT Thariq Bin Ziyad Kak Adi berjanji akan menyematkan TKK (Tanda Kecakapan Khusus) melukis tingkat utama. 


Warna kesukaannya yang lain adalah merah. “Warna merah itu warna yang mencolok”, ujarnya. Memang dikelas sang Pratama yang juga suka menulis ini adalah siswa yang mencolok. Gelar ranking 1 di kelasnya belum pernah tergantikan semenjak duduk di bangku SMP. Kecerdasan dan kecemerlangannya membawa hatinya bercita-cita tinggi yaitu ingin menjadi pejabat Bank Indonesia. Semoga Allah memberi jalan agar menjadi pejabat yang jujur dan dapat mensejahterakan rakyat. Amin.

Siswi yang sedang menyelesaikan hafalan Juz 29-nya ini juga menjadi salah satu siswa binaan yang sedang dipersiapkan untuk mengikuti Olympiade Matematika. Disela-sela pembinaan Olympiade ia juga tetap mengasah bakat melukisnya dan ikut dalam lomba-lomba melukis. Prestasinya ketika duduk di kelas 7 adalah menjadi Juara 1 tingkat kabupaten pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) dan Juara Harapan 2 tingkat provinsi pada ajang yang sama. Dan baru saja pekan ini ia meraih Juara 2 lomba lukis se-Jawa Bali. Sungguh prestasi yang sangat syarat dengan perjuangan.


Vira yang kini duduk di kelas 8 juga pernah merasakan beberapa hari belajar di Madrasah Al-Junaid Singapura dalam English Program SMPIT TBZ. Pengalamannnya bukan hanya menambah khazanah bahasa inggrisnya tapi juga khazanah tentang kehidupan. Gadis cantik penyuka Matematika ini memiliki motto, “Kalau yang lain bisa pasti kita juga bisa”. Sebuah motto yang mencerminkan jiwa yang pantang menyerah. (SS)

Profil : Dadan, terinspirasi Steve Jobs

Written By Admin on Senin, 13 Februari 2012 | 21.59

Mendengar siswa SMPIT TBZ menang lomba sudah menjadi hal yang biasa. Karena memang banyak sekali siswa-siswa yang yang memiliki potensi luar biasa senantiasa di-upgrade setiap harinya disini. Mulai dari lomba science, IT, olahraga, seni apalagi lomba-lomba yang bernuansa Islami.

Satu lagi nama siswa berprestasi yang muncul bulan ini ada adalah Putra Perdana Haryana. Salah satu generasi digital SMPIT TBZ ini baru saja memenangkan lomba IT bertajuk Lomba Pengguna Komputer Pelajar (LPKP)  ke-8 tingkat kota dan kabupaten. Juara 1 yang diraih sekaligus mempertahankan gelar Juara Umum bukanlah proses semudah membalikan telapak tangan. Kemenangan yang diraih merupakan proses panjang dan dari ketekunan yang dijalani selama ini. Tiga tahun yang lalu, Dadan demikian sapaan akrab siswa berbadan gempal ini sudah diikutsertakan dalam LPKP ke-6. Saat itu ia masih duduk di kelas 7, dengan harapan dapat melatih mental dan mengenal medan lomba. Alhasil peringkat ke-4 dapat diraihnya dan hanya selisih satu tingkat dibawah kakak kelasnya yang pulang membawa piala Juara 3. Ikhwan yang suka twitter-an ini juga kembali diikutsertakan di LPKP ke-7 dan berhasil meraih Juara 3 mengikuti jejak kakak kelasnya, sementara sang kakak kelas menggondol piala Juara 1 sekaligus Juara Umum. Dan baru saja jejak-jejak keberhasilan ia lakoni dengan berhasil mempertahankan gelar Juara Umum tahun ini.

Memang dunia digital sudah menjadi kesehariannya. Twitter-an, Facebook-an, blogging dan segala hal yang berbau IT sangat ia gemari. Hobi digitalnya ia salurkan dengan mengikuti ekstrakurikuler IT Club. Eksistensi di dunia nyata dan dunia maya sudah jadi bagian hidupnya. Namun syukur Alhamdulillah, dunia digital membawa dirinya kearah yang positif dengan senantiasa mendapatkan bimbingan dari orang tua, serta guru-gurunya. Segudang prestasi sudah diraihnya, karena memang siswa penyuka ketoprak ini selain dibina disekolah ia juga di-overclock dengan menjadi siswa binaan MIPA UI bidang studi Fisika, KPM (Klinik Pendidikan MIPA) dan siswa binaan PP-IPTEK. Pembinaan di PP-IPTEK membawanya menginjakkan kaki di Negeri Gajah Putih sebagai peserta AYSF (APEC Youth Science Festival) yang berlangsung selama sepekan di Pathum Thani, Thailand.



Selain bidang akademis siswa yang bercita-cita menjadi pengusaha ini juga memiliki jiwa kepemimpinan dengan terpilih sebagai Ketua OSIS  SMPIT TBZ periode 2010-2011, disamping berjiwa seni dengan pernah meraih Juara Favorit pada Pentas Seni Islami ketika duduk di kelas 7 dan menjadi MC di acara yang sama tahun berikutnya. Anak pertama dari pasangan Cecep Haryana,SH yang seorang polisi dan Siti Rohani seorang guru TK ini juga pernah menjuarai (Juara 1) cerdas cermat PAI dalam kegiatan Thariq Festival. Keterpaduan bidang akademis dan religi atau dalam bahasa sehari-hari kita kenal dengan istilah Sholeh & Cerdas menjadi nyata pada diri siswa yang sedang menyelesaikan hafalan juz 29-nya ini.

Olahraga atau lebih tepat hobi yang menjadi temannya berpetualang adalah bersepeda. Atribut lengkap termasuk helm selalu menemaninya menjelajah jalan-jalan di Bekasi. Jika ada aktivitas di luar kegiatan rutin sekolah maka ia memilih sepeda sebagai alat transportasinya.  Maka sangatlah tidak berlebihan kiranya jika siswa yang selalu tersenyum dan senantiasa berpakaian rapi ke sekolah ini dalam dirinya terdapat sepenggal lirik dalam nasyid “Pejuang Sejati” yaitu,
Fisik kuat itu sudah pasti
Pikiran cemerlang wajah berseri
Akidah mantap tetap terpatri
Akhlaq terpuji hiasan diri

Segudang prestasi tidak menjadikannya sombong. Kesederhanaan selalu tercermin dalam kesehariannya walaupun selalu menjadi ranking 1 dikelasnya. Prestasi-prestasi yang telah diukir menambah motivasinya untuk terus melakukan hal-hal yang luar biasa, termasuk hal-hal yang mustahil. Sebagaimana sebuah kalimat yang menjadi inspirasinya kini mengenai Steve Jobs (pendiri Apple Computer) dalam buku biografinya yang disampaikan oleh rekan kerjanya, Debi Coleman, “Steve dapat melakukan hal yang mustahil karena dia tidak menyadari bahwa hal itu mustahil.”

Dari seorang Putra Perdana Haryana mari kita belajar, mampukah kita mengikuti jejak-jejak prestasinya atau bahkan melampauinya. Pasti bisa, tidak ada yang mustahil…iya kan ? (SS)

Lomba IT, Juara lagi ...

Written By Admin on Minggu, 12 Februari 2012 | 20.23


Malam kian larut mengantarkan siswa-siswa SMPIT Thariq Bin Ziyad terlelap di selasar Masjid Al-Faruq. Suara-suara binatang malam dan angin semilir menjadi alunan nina bobo yang indah mengiringi tubuh-tubuh lelah yang sudah rebah. Malam itu adalah agenda MABIT putra yang baru saja usai penyampaian materi ruhiyah dan dilanjutkan dengan tidur malam sekitar pukul 22.30 WIB.  Agenda rutin yang dilaksanakan untuk menjaga dan meningkatkan ruhiyah para peserta didik dan merupakan salah satu program unggulan di SMPIT Thariq Bin Ziyad.

Namun ada 5 orang siswa yang masih terjaga. Di Lab komputer. Tiga orang sibuk menekan tombol-tombol keyboard tanpa irama sambil sesekali memegang dahi menahan kantuk dan rasa bingung menghadapi soal didepan layar monitor. Dua orang lagi bergumam menyusun kata menjadi kalimat yang rapi, mengusir rasa gugup layaknya khotib yang baru pertama kali naik mimbar Jum’at. Mereka adalah para peserta LPKP-8 dari SMPIT TBZ yang sedang menjalani proses finishing sebelum berlaga di Lomba IT tingkat Kota & Kabupaten yang diselenggarakan keesokan harinya.  Tiga orang (Dadan, Ezza & Renzo) lomba Office dan 2 orang (1 team, Aji & Ulhaq) lomba Blog.

Ahad pagi yang cerah, jarum jam hampir menyentuh pukul 07.30 WIB, namun 5 orang siswa SMPIT Thariq Bin Ziyad sudah berada di SMANTAS. Segar bersemangat. Tak berbeda jauh dengan kisah tahun sebelumnya hanya saja terlihat siswa-siswi berseragam putih abu-abu ikut serta dalam lomba kali ini. Lomba blog memiliki tantangan lebih berat karena harus bersaing dengan tingkat SMA. Namun lolos 10 besar dengan meraih peringkat 5 (dari 32 tim) untuk melakukan presentasi isi blog di final lomba kali ini sudah merupakan prestasi tersendiri yang cukup membanggakan bagi tim peserta lomba blog SMPIT TBZ karena disejajarkan dengan siswa-siswa tingkat SMA.

Untuk lomba office juga tidak kalah ketat dan menantang. Kompetitor utama kami tahun ini membawa 1 pleton peserta atau dalam ukuran jumlah matematis sama dengan 30 orang. Sementara kami hanya membawa 3 orang. Pertarungan kali ini 1 berbanding 10, sebuah perbandingan yang sangat menantang.

Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB ketika TOA SMANTAS berbunyi, berisi pengumuman untuk kembali berkumpul di aula guna mendengarkan hasil dari semua lomba. Sebelum menuju aula Pak Adi sudah menjabat tangan Putra Perdana Haryana walaupun dengan sedikit bercanda, dengan kalimat, “Selamat Anda Juara 1”, meski belum sedikitpun bocoran dari dewan juri siapa pemenangnya. Pak Adi yakin betul dengan kemampuan siswa yang biasa dipanggil Dadan ini. Tiga tahun telah dikader dan dipersiapkan untuk bisa meraih dan mempertahankan juara. Pengumuman dewan juri pun akhirnya memang tidak meleset dari prediksi. “Juara Pertama Lomba Office LPKP ke-8 jatuh pada nomor peserta 031 atas nama Putra Perdana Haryana dari SMPIT Thariq Bin Ziyad”, ucap dewan juri diiringi riuh tepuk tangan para peserta lain sebagai applause penghormatan yang membanggakan.

  
Yang harus jadi pertanyaan buat kita semua, walaupun setiap hari bertemu dengan Dadan adalah….
Siapa sesungguhnya sosok Sholeh dan Cerdas bernama Dadan ini ???


Mau tahu tentang Dadan ? Bisa dibaca disini ...

CUMA MAKAN MIE BISA JADI JUARA



Artikel ini dimuat di Tabloid Intajiyah 1 tahun (Maret 2011) yang lalu, diposting kembali sebagai cerita awal untuk melanjutkan kisahnya ...

SECANGKIR KOPI
(Sebuah pengantar dari penulis)

Beberapa pekan yang lalu saya mendapatkan surat undangan Lomba Pengguna Komputer Pelajar (LPKP) Ke-7 yang diselenggarakan di SMAN 1 Tambun Selatan (SMANTAS). Surat yang memang ditunggu setiap tahunnya, karena terus terang event-event lomba komputer semacam ini jarang sekali terdengar di wilayah kabupaten Bekasi. Mulai dari saat itu pula kisah ini ditulis.

Alasan paling utama kenapa saya menulis adalah agar moment ini terdokumentasikan secara tertulis sebagai gambaran perjalanan lomba mulai dari persiapan hingga mencapai kemenangan disamping terdokumentasikan secara visual. Sebenarnya beberapa tahun yang lalu saya sempat menulis kisah semirip ini dengan moment yang sama yaitu pada saat mendapatkan juara 2 & 3 pada LPKP ke-4 tahun 2008 dan terdokumentasikan dialamat www.smpit-thariq.com. Namun justru dokumentasi tersebut hilang terkubur bersama wafatnya website tersebut 2 tahun lalu dan saya belum sempat mem-backup-nya.

Cara penulisan yang akan saya sajikan adalah dengan perspektif (sudut pandang) saya sendiri. Ini dimaksudkan agar jalan ceritanya mengalir sesuai dengan angle yang saya dapatkan walaupun dengan alur maju mundur. Di sini akan sangat terkesan ke-egois-an dari penulis. Saya yakin akan ada banyak kritikan dan kekurangsukaan dan saya telah siap menerimanya dengan besar hati dan bertanggung jawab. Justru itulah yang jadi feedback nilai tambah untuk saya sendiri sebagai “penulis amatir”. Saya butuh koreksi, kritik, dan saran semua.


SURAT CINTA ITUPUN DATANG

“Assalamu’alaikum Pak Adi, ada Pak Faisal?”, tanya seorang berseragam SMA dengan badge SMAN 1 Tambun Selatan. “Oo kamu Gus, ada apa?”, jawab saya. “Ini Pak mau ngasih surat”, lanjutnya. Seorang alumni SMPIT TBZ yang masih saya kenal dan ingat namanya, Bagus Wilar Nugroho mengantarkan amplop putih yang ternyata berisi surat undangan lomba komputer yang akhirnya langsung diserahkan kepada saya karena kebetulan saya guru TIK-nya. Sepucuk surat yang bagi saya bagaikan “surat cinta” yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Rasa penasaran dan semangat yang menggeloralah yang membuat saya mensetarakan itu seperti surat cinta karena setiap tahun surat itu sampai dan setiap tahun event lomba ini kami ikuti, kami hanya bisa puas dengan juara 2 atau juara 3.

Sejarah LPKP bagi saya adalah “eksis”, jargon yang sering digunakan anak-anak jaman sekarang. Eksistensi seorang guru yang ingin sekali mengantarkan anak didiknya berprestasi dan berada di puncak kemenangan dalam sejarah pengabdiannya. Sejarah itu dimulai dari tahun pertama LPKP diselenggarakan. Secara singkat dapat dideskripsikan sebagai berikut. LPKP pertama tahun 2005, tahun ketiga saya mengajar, SMPIT Thariq Bin Ziyad hanya bisa jadi partisipan, sebuah pelajaran berharga untuk memupuk mental juara. LPKP ke-2, SMPIT TBZ tidak ikut serta karena tidak ada undangan yg kami terima, entah apa sebabnya. LPKP ke-3, sejarah menjadi partisipan kembali terulang, namun kali ini lebih terencana. Di tahun ini 2 orang peserta yang kami kirim adalah 2 orang yang akan saya bina selama 1 tahun setelahnya untuk dapat meraih juara ditahun berikutnya. LPKP ke-4, sejarah pertama terukir. Rencana dan strategi yang telah dibuat berbuah, juara 2 dan juara 3  diraih sekaligus. Kisah inilah yang saya tulis dan saya gunakan sebagai motivasi bagi para calon-calon juara selanjutnya. Namun sayang tulisan tersebut kini sudah terkubur (sedih -> mode ON). Mari kita lanjutkan, LPKP ke-5, SMPIT TBZ meraih Juara 3. LPKP ke-6, sama, Juara 3. Maka jadilah rasa penasaran itu muncul dan menggunung, penasaran untuk bisa menjadi JUARA 1. Itu sebabnya kabar kedatangan surat undangan LPKP menjadi surat cinta bagi saya.


RAHASIA YANG INGIN SAYA UNGKAP

Sebenarnya ini adalah rahasia, makanya jangan bilang siapa-siapa. Tapi sesungguhnya ini adalah hal sederhana yang bisa dilakukan siapa saja namun memang butuh kesabaran. Dari mulai LPKP ke-4 sampai sekarang SMPIT TBZ langganan membawa pulang piala juara, ini rahasianya. Mulai dari saat itu saya mengirimkan peserta lomba dari semua level, kelas 7, 8 dan 9 yang sudah saya bina dan persiapkan secara khusus. Mental juara harus disiapkan sejak dini. Maka jadilah semua peserta yang saya ikut sertakan memiliki tugas yang berbeda-beda. Kelas 7 bertugas menyiapkan mental juara, mengamati medan tempur, merasakan pertempuran, menyerap sebanyak-banyaknya pengalaman, dan siap kalah. Kelas 8 bertugas mengokohkan mental juara, bertempur semaksimal mungkin, menjadi kompetitor bagi rekannya sendiri kelas 9, namun harus siap menang dan siap kalah. Kelas 9 bertugas menjadi pemenang, dengan tetap ksatria jika ada lawan yang lebih tangguh dan jadi kalah , karena semua telah tercatat dan menjadi bagian ketentuan Allah SWT.


TEORI ARCHIMEDES

“Hari Ahad Jam 7 teng disekolah !!!, jangan terlambat !”, seru saya kepada siswa-siswa SMPIT TBZ yang akan ikut serta dalam LPKP ke-7 pada Jumat siang itu.
 “Hari ini sengaja tidak ada materi pembinaan lagi, terakhir Kamis kemarin. Hari ini, besok dan Ahad adalah masa INKUBASI dan ga usah bawa buku pada saat hari H nanti”, perintah sekaligus nasehat saya pada mereka.

Apa itu INKUBASI ? mari kita bahas sedikit.
Sekitar abad 3 SM, Archimedes diminta oleh raja Hiero II untuk menentukan apakah mahkotanya 100 % terbuat dari emas murni atau ada campuran logam lain. Archimedes berada dalam kondisi kritis. Ia berpikir, sel-sel otak mulai mengorganisasi diri. Menurut Fisikawan abad 19 Hermann von Helmholtz, dalam menyelesaikan suatu masalah sulit otak kita bekerja dalam tiga tahap: saturasi (pengumpulan ide), inkubasi (pengeraman ide), dan iluminasi (pencerahan). Otak akan mengalami tahap saturasi ketika ia menerima banyak input-input untuk menyelesaikan masalah ini. Input-input ini bisa berupa pengalaman-pengalaman berbagai orang, bisa berupa buku-buku, teori-teori dan sebagainya. Setelah menerima input-input itu otak akan mengalami masa inkubasi. Di masa inkubasi ini, aktivitas otak terus berlangsung tetapi hanya di alam bawah sadar. Setelah lewat masa inkubasi muncullah ide kreatif yang memberikan pencerahan untuk pemecahan masalah tersebut.

Suatu hari Archimedes berendam di bak mandi, dia melihat ada air yang tumpah. Tiba-tiba ia mendapat pencerahan. Ia melihat bahwa air tumpah karena ada benda yang lebih ringan dari air masuk dalam bak tersebut.

Ya, benda ringan volumenya lebih besar! Inilah jawaban dari persoalan mahkota raja Hiero! Di depan Raja Hiero, Archimedes mengambil suatu bongkahan emas asli yang beratnya sama dengan berat mahkota. Ia menaruh bongkahan tersebut dalam sebuah mangkok. Kemudian mangkok tersebut diisi air hingga penuh. Selanjutnya, emas bongkahan dikeluarkan dari dalam mangkok dan tempatnya digantikan dengan mahkota yang akan diuji keasliannya. Jika permukaan air tepat di bibir mangkok (tidak ada air yang tumpah) berarti emas pada mahkota itu adalah emas utuh, artinya, tidak ada campuran logam di dalamnya. Tetapi jika ada air yang tumpah berarti ada campuran logam ringan di dalam mahkota itu, karena logam ringan volumenya lebih besar. Konon, begitu menemukan solusi ini, Archimedes melompat dari bak mandinya dan berteriak-teriak "eureka... eureka!" (saya sudah temukan!) di jalan raya tanpa mengenakan pakaian (bagian ini jangan ditiru, BAHAYA).

Begitulah saya berpesan kepada mereka. Saya tidak ingin mereka terbebani dan masih pusing dengan soal-soal dan materi lomba. Pembinaan sudah selesai pada H-3, dan inkubasi itu menjadi penting bagi saya untuk mereka. “Santai aja, istirahat, jaga kondisi. Ga usah belajar lagi”, kata saya mengakhiri pesan dan nasihat terakhir pada Jum’at siang itu tanpa lupa menitipkan saran agar bisa Qiyamullail untuk mohon petunjuk dan pertolongan Allah SWT.
Jadi Teori Archimedes lahir lewat proses inkubasi juga. Dan mereka mengerti apa yang saya maksud.


EMPAT LAWAN TUJUH BELAS

Pukul 08.00  tepat kami tiba di SMANTAS. Anak-anak SMPIT TBZ kebetulan diantar ayahnya Firell dengan Panther yang kebetulan juga memang tidak ada mobil yang mengantar mereka karena tadinya akan ada 4 motor yang sedianya membawa 4 orang ini menuju medan tempur. Sebenarnya 4 motor yang sudah direncanakan, awalnya jadi bagian dalam membangun mental pejuang yang tidak mengeluh saat  perjuangan menghadapi rintangan. Tapi, Panther lumayan juga supaya mereka bisa aman dan nyaman sampai tujuan (kebetulan.com).

Rupanya kami adalah peserta terakhir yang tiba ditempat lomba. Seluruh peserta telah hadir dan menempati ruangan yang akan digunakan untuk acara pembukaan. Tapi memang suasananya sedikit berbeda dengan pesan yang saya sampaikan ke anak-anak TBZ. Pagi itu sebagian besar peserta tengah sibuk dengan buku-buku dan contoh-contoh soal ditangan mereka sesaat sebelum acara pembukaan dimulai. Lomba yang tinggal beberapa menit lagi dimulai belum menjadi fokus mereka, tapi kertas-kertas berisi tulisan dan angka-angka yang memusingkan kepala justru jadi sarapan pagi mereka. Itu yang tidak boleh terjadi pada siswa-siswa binaan saya.

Sepuluh menit acara pembukaan berlangsung. Ketika ketua panitia melaporkan jumlah peserta, ada hal yang membuat saya kaget. SMP yang menjadi juara umum dua tahun berturut-turut mengirimkan siswanya sebanyak 17 orang. Ini angka fantastis dan terbanyak sepanjang kegiatan LPKP diselenggarakan, satu sekolah mengirimkan 17 orang sekaligus dan hal ini sempat membuat saya agak khawatir juga kalau-kalau pulang dengan tangan hampa tahun ini. Namun kekhawatiran itu segera saya tepis agar tidak menular kepada siswa-siswa binaan saya. Walaupun kami hanya mengirimkan 4 orang dan  2 diantaranya benar-benar pemula namun tidak boleh menyurutkan api semangat kemenangan yang telah disulut dan tengah berkobar. Bagi saya ini adalah pertarungan 4 lawan 17. Jumlah sisanya tidak masuk hitungan, karena saya yakin kemampuan siswa-siswa binaan saya.


BABAK PENYISIHAN

Semua peserta LPKP sudah masuk ke ruangan tes untuk babak penyisihan. Babak penyisihan menggunakan metode soal teori tertulis pilihan ganda 60 soal. Jawaban benar dikali 2 dan jawaban salah dikurang 1 dengan menggunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK). Ketika semua peserta sudah siap dengan segala amunisinya dan beberapa saat lagi panitia membagikan soal, saya justru meminta anak-anak TBZ untuk keluar ruangan tes. “Tadi Pak Adi sempet kasih tahu kalian, jangan buru-buru masuk ruang tes, kita ke Masjid dulu sholat Dhuha, eehh Dadan buru-buru masuk semangat banget”, ujar saya setelah mereka keluar ruangan. Saya hanya ingin menyampaikan disaat-saat terakhir ketika lomba akan dimulai untuk dapat menyerahkan segalanya kepada Allah SWT . Shalat Dhuha juga bukan ingin berdoa memperolah kemenangan, tapi untuk tetap menjaga kebiasaan baik yang sudah dilakukan setiap harinya sebagaimana disekolah.

Lima menit cukup bagi saya untuk mengokohkan semangat dan mempersiapkan mental mereka. Dan dengan yakin mereka masuk kembali ke ruang tes dan memulai babak penyisihan. Tinggal saya harus sabar menunggu dengan perut yang belum terisi sama sekali semenjak pagi karena ba’da Shubuh sudah harus berangkat menghadiri agenda pekanan. Akhirnya Opera Mini dan semangkuk mie instan jadi teman menunggu dikantin sekolah itu.


MAKAN MIE

Dua jam telah terlewati, babak penyisihan usai. Sambil sedikit membahas soal, kami menuju kantin. Siang itu saya “terpaksa” makan mie instan dua kali. Satu kali untuk sarapan 2 jam yang lalu, dan sekarang untuk makan siang. Anak-anak TBZ juga ikutan terpaksa makan mie instan karena pilihan makanan yang terbatas  dikantin itu. “Ayo pesan saja, sama minumnya sekalian, Pak Adi yang bayar”, ujar saya bersemangat. Baru kali ini LPKP tidak memberikan makan siang bagi peserta, biasanya minimal nasi padang. Allahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar … Semoga doa makan bisa juga jadi doa kemenangan dan juara walau cuma makan mie.


UPDATE FACEBOOK

“Sesuai prediksi, 2 masuk final, berharap dengan sangat Juara 1 dan 2 dapat disabet/dipecut/dicambuk, apa aja deh yg penting JUARA. Selamat Berjuang nak...”
Demikian kalimat yg terupdate di account facebook saya melalui telepon selular pada pukul 13.27 Ahad siang itu, disertai sejumput harapan dan doa buat mereka. Dua orang kelas 7 SMPIT TBZ harus duluan pulang karena nilai dibabak penyisihan kurang dari angka TUJUH. Peraturan dari juri yang berhak masuk ke babak final adalah yang hasil tes teori tertulis minimal nilai tujuh. Hanya lima belas orang yang berhak bertempur di final. Maka jadilah Farhan Pradika dan Aghnizar Nafirell harus gugur ditengah pertempuran dan langsung dijemput oleh malaikat bermobil panther yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayahnya Firell.

DADAN YANG CEMERLANG

“Gimana ?”, tanya saya penasaran sesaat setelah Dadan dan Saqfi keluar ruang Lab Komputer. Saya khawatir mereka berdua banyak menemukan kesulitan. “Tenang Pak … saya sudah upload ke internet”, jawab Dadan dengan santai. Sebuah jawaban yang diluar konteks pertanyaan saya tapi bisa langsung saya tangkap maksudnya. Ternyata disela mengerjakan soal final Microsoft Word dan Excel, Dadan sempat mengupload hasil pekerjaannya ke internet karena kebetulan komputer yang digunakan terkoneksi internet. Ide yang saya yakin tidak terpikirkan peserta lain karena sibuk berkutat menyelesaikan soal. “Ok, kita download lagi !”, ujar saya bersegera. Dengan berbekal Acer Aspire One 10inch yang Dadan bawa serta Nokia 3120 Classic ponsel kesayangannya koneksi internet dapat tersambung tanpa perlu menggunakan kabel apapun. Bluetooth + GPRS. Setelah sukses mendownload langsung saja kami bertiga membahasnya secara singkat. Tak ada kesulitan berarti yang mereka hadapi. “Semua hampir sama dengan latihan Pak !”, jawab Dadan yakin. Namun Saqfi sedikit mengkoreksi hasil pekerjaan Dadan yang menurutnya kurang sempurna dan terdapat kesalahan walaupun Dadan sedikit membela diri. Saya menyimpulkan berarti salah satu diantara mereka betul-betul mengerjakan dengan betul.



BUAH KESABARAN

Jam digital di tangan saya menunjukkan pukul 16.10 WIB. “Kalo jam setengah lima belum dimulai, kita pulang aja yuk, Pak Adi udah bete nih…”, ucap saya dengan wajah yang sudah mulai kusut. Bagaimana tidak, dari pukul 9 pagi setelah peserta mulai lomba sampai jam 4 sore pekerjaan utama saya hari itu adalah menunggu. Tapi pengumuman pemenang baru diumumkan dan dimulai pukul 16.15 WIB.

Dari mulai MC membuka acara pengumuman sekaligus penutupan saya sudah bersikap agak santai, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang harap-harap cemas. Mungkin faktor keletihan dan kebetean membuat saya tidak begitu antusias lagi dengan kata-kata yang yang mengalir dari mulut MC. Tapi kesabaran memang tidak ada batasnya, makanya sebete apapun saya menunggu tetap harus sabar.

Tanpa banyak basa-basi ketua panitia LPKP ke-7 langsung to the point membacakan hasil final karena waktu yang sudah semakin petang. ”Juara ke-3 dengan total nilai 504 diraih oleh peserta dengan nomor 001 atas nama Putra Perdana Haryana dari SMPIT Thariq Bin Ziyad”, ujar ketua panitia disertai gemuruh tepuk tangan peserta lomba yang lain. Entah kenapa hati saya tidak terlalu surprise dengan kalimat tersebut, mungkin karena bukan Juara 3 yang saya targetkan walaupun tetap bersyukur karena minimal pulang tidak dengan tangan hampa. Memang Juara 3 tidak lagi special karena sudah jadi langganan sebagaimana saya ceritakan sebelumnya. Ketua panitia melanjutkan dengan juara 2 yang ternyata diraih oleh SMPN 1 Tambun Selatan yang jadi Juara Umum 2 tahun berturut-turut sebelumnya. Hati dan otak saya langsung bekerja sepersekian detik menganalisa kejadian-kejadian sebelumnya untuk lalu mengambil kesimpulan sederhana. Allah SWT memang sungguh menakjubkan menciptakan manusia yang dilengkapi dengan akal pikiran yang juga luar biasa sehingga otak manusia mampu merefresh kejadian-kejadian sebelumnya dengan sangat cepat. Analisa sederhana saya dalam sepersekian detik itu adalah, kalau saat diskusi ringan pasca keluar Lab Komputer Saqfi sempat mengkoreksi pekerjaan Dadan yang menurutnya kurang sempurna, maka secara logika pekerjaan Saqfi lebih baik dari Dadan. Dadan sudah positif Juara 3, dan Saqfi bukan Juara 2. Secara reflek pula saya langsung memukul pundak Saqfi dengan bergumam, “Saqfi kamu Juara 1 !”. Saqfi Ahmad Rabbani, salah seorang siswa terbaik diantara banyak siswa terbaik di SMPIT Thariq Bin Ziyad lainnya hanya bisa tertegun bingung mendengar vonis dari saya. Pengalamannya menang diberbagai kompetisi bahkan sampai menginjakan kakinya di negeri ginseng Korea tetap membuatnya belum bisa rileks mendengarkan pengumuman pemenang. Dari Juara 3 dan Juara 2 yang telah dibacakan sangat terlihat jelas wajahnya pucat pasi dan keringat dingin ditambah deg-degan dikali salah tingkah dibagi grogi pangkat  gelisah. Kemudian, ”Juara Pertama dengan total nilai 562 diraih oleh peserta dengan nomor 004 dan berhak atas Trophy Juara sekaligus JUARA UMUM LPKP ke-7 se-Jabodetabek tahun 2011 atas nama … Saqfi Ahmad Rabbani … dari SMPIT Thariq Bin Ziyad”, ujar ketua panitia bersemangat disertai lagi dengan gemuruh tepuk tangan peserta lomba yang lain. Bagi saya gemuruh tepuk tangan itu seperti bernada dan berirama melantunkan lagu “We Are The Champion” dari grup band aslinya Queen. Selama TUJUH tahun kalimat ini saya tunggu dan ingin sekali saya dengar semenjak LPKP ke-1 tahun 2005 diadakan, dan sekarang seakan nyaring terdengar di gendang telinga saya sekaligus meluluskan rasa penasaran saya akan Juara 1 sekaligus JUARA UMUM pada event tahun ini.

Alhamdulillah … Kesabaran itupun akhirnya berbuah. Selain Trophy Juara, kami pun berhak membawa pulang piala bergilir yang ukuran tingginya sepinggang orang dewasa dan dibingkai kaca, padahal cuma ada motor yang saya siapkan untuk pulang dan tidak mungkin dibawa menggunakan motor tersebut. Masalahnya sekarang adalah, bagaimana membawa piala sebesar itu ???...

Kamus istilah :

LPKP
:
Lomba Pengguna Komputer Pelajar
SMANTAS
:
SMAN 1 TAmbun Selatan
Backup  
:
Membuat cadangan data
Angle     
:
Sudut pandang, posisi pandangan
Eksis
:
istilah yang diambil dari kata Eksistensi
Inkubasi
:
Pengeraman ide
Archimedes
:
Seorang matematikawan, astronom, filsuf, fisikawan, dan insinyur berbangsa Yunani penemu Hukum Archimedes
Panther                 
:
Macan Kumbang yang dijadikan tipe mobil merk Isuzu
Opera Mini           
:
Aplikasi browser internet yang digunakan di telepon selular
Upload                  
:
Mengirimkan file dari komputer kite ke internet
Download             
:
Mengambil file dari internet ke komputer kita
Microsoft Word   
:
Aplikasi pengolah kata
Microsoft Excel     
:
Aplikasi pengolah angka
Acer Aspire One   
:
Jenis Netbook buatan Acer
Bete                       
:
BT = BoringTerus = Bosan
MC         
:
Master of Ceremony / Pembawa Acara
To the point
:
Langsung ke pokok persoalan
Surprice 
:
Kejutan
Refresh                  
:
Menyegarkan kembali
                               


Penulis :
Syahruddin Setiadi
Guru TIK (Teknologi Informasi & Komunikasi)
SMPIT Thariq Bin Ziyad

Ternyata Facebook sudah “Diramalkan” sejak 14 Abad Silam

Written By Admin on Rabu, 08 Februari 2012 | 20.12

palingseru.com - Suatu ketika selepas Ashar di Masjid Al Hikam. Di salah satu pojok masjid tersebut terdapat Ranid dengan dua orang temannya yakni Ahmad dan Ilmi yang terlihat sedang mendiskusikan sesuatu. Kali ini tema yang diangkat seputar masalah I’jazul Quran (Mukjizat Al Quran). Diskusi yang berjalan cukup santai namun sarat akan ilmu.

Ahmad adalah seorang mahasiswa salah satu PTS di Jakarta dengan program studi Matematika. Seorang calon pengabdi masyarakat dengan ilmunya. Ahmad selalu berupaya mengaitkan Al-Qur’an dengan bidang studinya matematika. Ahmad sering berkutat dengan angka-angka dalam Al-Qur’an.


Ahmad pun memulai diskusi. “Subhanallah alquran itu bener-bener mukjizat. gw pernah baca di Internet bahwa ternyata kata Yaum (hari) di dalam alquran sebanyak 365 kata sama seperti jumlah hari dalam satu tahun, kata syahr (bulan) disebutin 12 kali sama kayak jumlah bulan dalam satu tahun, sab’u (minggu) disebutin 7 kali sama dengan jumlah hari per minggu. Belum lagi kata-kata yang berlawan kata. Misalnya ad dunya 115 kali, al akhiroh juga 115 kali. Malaikat 88 kali sedangkan asy syayathin 88 kali juga. Al hayat 145 kali begitupun dengan Al Maut yang juga 145 kali. Belum lagi angka 19 yang disebutin dalam alquran surat Al Mudatsir ayat 30. Sebetulnya masih banyak tapi mending antum liat di internet aja nafsi-nafsi, tinggal tanya mbah google ketik key word nya keajaiban angka dalam alquran,” Celoteh Ahmad sekaligus mengakhiri presentasinya.

[IMG]

Tiba giliran Ranid memaparkan pengetahuannya seputar masalah mukjizat Quran. Ranid memang sangat menyenangi diskusi-diskusi tentang kajian Islam berhubung program studi Ranid adalah bahasa Arab yang ia geluti di salah satu Ma’had Lughoh di Jakarta. Maka ia akan memaparkan sepengetahuannya tentang I’jazul Quran dari sudut pandang bahasa.

Setelah mengucapkan basmalah seraya memuji Allah dengan hamdalah, serta sholawat kepada Nabi SAW. Ranid pun mulai berkata “Mumtaz! ustadz Ahmad mantep dah penjelasannya, giliran ane ya? Gini jadi mukjizat kalo diliat dari segi bahasa maka secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘senjata’ untuk melemahkan terhadap tantangan dakwah yang ada. Contoh di zaman nabi Musa AS berhubung waktu itu sihir sedang ngetrend-ngetrendnya maka Allah kasih mukjizat nabi Musa AS ‘menyerupai’ sihir, tapi bukan sihir, dengan tongkatnya yang terkenal. Bisa berubah jadi ular, ngebelah lautan, dsb. Trus di zaman nabi Isa AS berhubung waktu itu ilmu kedokteran lagi maju-majunya maka Allah kasih kepada nabi Isa AS mukjizat yang berhubungan dengan dunia pengobatan. Nah, di zaman Rasul SAW pada masa itu kaum jahiliyyah terkenal akan syairnya yang luar biasa Indahnya. Maka Allah pun memberikan kepada Nabi SAW berupa alquran sebuah mukjizat yang begitu sangat tinggi dan sarat akan nilai sastranya.”

Ranid masih melanjutkan pemaparannya “bahkan Allah nantangin mereka kaum kafir untuk buat satu surat saja yang semisal dengan alquran. Coba ente berdua buka Al-Baqoroh ayat 23
‘dan jika kamu meragukan Al-Quran yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) maka buatlah satu surat semisalnya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang yang benar,’
dan dilanjutan ayatnya, bahwa Allah sudah kasih garansi, mereka pasti gak akan mampu ngebuatnya. Pernah ada kisah tentang Musailamah Al-Kadzdzab yang coba-coba buat alquran tandingan. Salah satu suratnya niru-niru al-fiil. Dan surat gadungan itu ditertawakan banyak orang karena diliat dari sisi bahasa dan maknanya betul-betul jelek. Dan satu hal lagi cuma alquran kitab suci yang bisa dihafal oleh jutaan manusia walaupun manusianya itu sendiri pun tidak mengetahui arti alquran. Bahkan uniknya juga, hafalannya tersebut lengkap sampai titik dan komanya. Subhanallah maha benar Allah dalam firmanNya ‘dan sungguh Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan’ Al-Qomar ayat 17,” Ranid pun mengakhiri makalah yang dibawakannya.

Selanjutnya giliran Ilmi yang mendapat giliran menjelaskan mukjizat quran berdasarkan studi yang ia geluti. Ilmi adalah seorang mahasiswa IT di salah satu PTS di Jakarta. Berbeda dengan kedua orang sahabatnya tadi, Ikhwan lajang ini tengah mengerjakan tugas akhir dalam perkuliahannya. Hal ini dikarenakan Ilmi terlebih dahulu kuliah selepas SMA daripada Ahmad dan Ranid yang sempat menunda jenjang akademisnya.

Lengkap dengan stelan kacamata khas para hacker di film Hollywood, Ilmi pun memulai pembicaraannya. “sebenernya ane belum mau mengatakan ini mukjizat atau gak? terus terang ane gak berani. Tapi salah satu point yang pernah ane dengar dalam seminar Qur’an bahwa kenapa Qur’an disebut mukjizat tak lain dan tak bukan adalah karena kebenarannya dalam ‘meramal’ masa depan. Betul gak Ran?” Ilmi bertanya pada Ranid. Ranid pun mengiyakan pernyataan Ilmi dengan mengaggukan kepala, seolah tak mau kehilangan pemaparan dari Ilmi sahabatnya.

Ilmi melanjutkan “surat al-lahab contohnya, di situ Allah memastikan bahwa Abu Lahab bakalan tetep kafir dan masuk neraka. Dan ketika surat itu turun di Mekkah, Abu Lahab ternyata masih hidup. Sekarang coba antum bayangin kalo seandainya Abu Lahab itu tergerak hatinya untuk masuk Islam atau pun pura-pura masuk Islam maka Al-Quran akan dipertanyakan kebenarannya dari dulu sampai sekarang. Ataupun di surat Ar-Rum di situ dijelaskan bahwa Romawi bakalan menang melawan Persia. Dan itu subhanallah terjadi beberpa tahun kemudian. Setelah pada peperangan yang sebelumnya Romawi kalah maka pada peperangan selanjutnya Romawi menang telak.

Dan satu lagi peristiwa fathul Mekkah di surat Al-Fath. Allah memastikan kaum Muslimin akan memasuki Mekkah setelah sekian lama hijrah ke Madinah. Dan subhanallah hal itu terbukti.”

Fenomena Al-Fisbukiyyah dalam Al-Qur’an

“Ah itu mah dari aspek sejarah Mi, coba dari aspek IT sesuai sama studi ente?” Tanya Ranid seolah menantang Ilmi. “Weitss, tenang-tenang ane kan belum selesai jelasinnya, ana lanjut ya!” Jawab Ilmi. “Nah berhubung tadi ane bilang ana gak berani nyebut ini mukjizat atau nggak, maka ane akan bilang ini kehebatan Quran.” Ilmi masih melanjutkan, sementara kedua rekannya Ahmad dan Ranid masih terus diam dan menyimak kata per kata yang akan terlontar dari mulut Ilmi. “ente berdua tau gak, bahwa sejak 1400 tahun yang lalu alquran sudah menyinggung tentang Facebook dan kawan-kawannya?!” Ahmad sang Cagur (Calon Guru) tertegun diiringi dengan tertawa kecil seolah tak percaya statmen Ilmi. Lain lagi dengan Ranid yang masih berpikir dan mencari-cari bahwa apakah benar kata Facebook ada di dalam alquran. Dengan mencoba mentashrif pola-pola fi’il.

Ilmi meneruskan kembali pemaparannya “Ahmad, coba ente berdua buka surat Al-Ma’arij ayat 19-21

“‘Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan dia jadi kikir.’

Ayat ini menjelaskan fenomena jama’ah “Al-Fisbukiyyah” secara umum. Coba ente-ente liat wirid-wirid mereka.

Kebanyakan isinya keluh kesah. Temanya udah mirip sinetron mendayu-dayu sampai bikin air mata keluar. Sakit dari mulai bisul, cantengan, jerawat, sampai ayan di update di status. Cuaca juga gak ketinggalan. Dikasih hujan, ngeluh gak bisa kemana-mana. Dikasih panas ngeluh kepanasan. Segala maksiat juga disebarin di muka umum. Masalah duit abis, rezeki seret terus dan terus di suguhkan. Ibadah juga ada beberapa yang dipublikasikan puasa, sedekah, tapi alhamdulillah ane belum menemukan ada orang yang lagi sholat update status ‘lagi roka’at dua nih’ naudzubillah kalo sampai ada!” canda Ilmi.

Ahmad dan Ranid pun tertawa dan mengaminkan ucapan Ilmi. “Terus di ayat setelahnya dikatakan ‘apabila dapat kebaikan maka ia kikir.’ Ane rasa betul ayat tersebut. Coba ente berdua hitung ada beberapa orang yang update status semisal alhamdulillah dapet rezeki, buat yang mau ditraktir harap tunggu di depan masjid. Kira-kira ada gak status kayak gitu. Giliran dapat rezeki yang melimpah pada pelit gak mau orang lain pada tau, tapi giliran ditimpa musibah di share kemana-mana.”

“Ah, lo iri aja kali jangan sok jaim deh?!” Kali ini Ahmad yang bertanya kepada Ilmi. Ilmi pun menjawab “ane rasa jaim itu perlu, dalam konteks JAIM, Jaga-Iman berkaitan dengan hal malu, ane tidak mengharamkan update status, akan tetapi alangkah baiknya update-nya itu yang baik-baik pokoknya temanya mengajak kebaikan dari quran, hadits, sahabat, ataupun salafush sholih. Inget akh dalam hadits riwayat Bukhori dikatakan Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu. Ulama bilang bahwa jika kita udah gak malu sama Allah dan tidak merasa diawasinya maka tunaikan saja hawa nafsumu dan lakukan apa yang kau inginkan.” Jawab Ilmi.

Ranid tak menyangka sahabatnya Ilmi dapat menarik dan mengaitkan surat Al-Ma’arij ayat 20-22 dengan fenomena Facebookers yang bergentayangan di dunia maya. Alhamdulillah bertambah satu lagi pengetahuan Ranid pada hari itu. Sungguh Ranid sejatinya sudah sering membaca atau bahkan menghafalkan surat ini. Namun dikarenakan kurang men-tadabbur-i ayat ini maka alangkah kagetnya ia mendengarkan penjelasan yang dipaparkan oleh sahabatnya Ilmi.

Diskusi kali ini pun berakhir seiring dikumandangkannya adzan maghrib sebagai pertanda masuknya waktu sholat maghrib.

Valentine’s Day; Ritual Cinta Yang Membodohi Remaja

Written By Admin on Selasa, 07 Februari 2012 | 19.24


dakwatuna.com – Tanggal 14 Februari telah menjadi hari special yang ditunggu-tunggu oleh para remaja di dunia, tak terkecuali remaja di Indonesia. Mereka terlanjur meyakini hari ini sebagai hari kasih sayang yang harus diisi dengan perayaan istimewa. Mulai dari saling tukar kado, menyatakan cinta, ciuman, sampai seks bebas merupakan aktivitas yang turut mewarnai valentine’s day.



Sejarah Valentine’s Day

Valentine’s Day yang kini dimaknai sebagai hari kasih sayang, tidak muncul dan diperingati begitu saja. Terdapat beberapa versi tentang asal-usul lahirnya Valentine’s Day. Versi pertama, menurut catatan The World Book Encyclopedia (1998) disebutkan bahwa sejarah Valentine’s Day bermula dari sebuah kepercayaan di Eropa. Kepercayaan kuno ini menyebutkan bahwa cinta burung jantan dan betina mulai bersemi pada tanggal 14 Februari. Burung-burung memilih pasangannya pada hari itu. Berdasarkan kepercayaan kuno di kalangan masyarakat Eropa kala itu, lalu kemudian mereka menganjurkan agar pemuda-pemudi memilih pasangannya di hari yang sama seperti berseminya cinta burung jantan dan betina. Apalagi dalam bahasa Perancis Normandia terdapat kata Gelantine yang berarti cinta. Persamaan bunyi antara Gelantine dan Valentine inilah yang dijadikan dasar penetapan hari kasih sayang.

Versi kedua, menghubungkan Valentine’s Day ini dengan seorang pendeta. Menurut beberapa ahli sejarah bahwa Valentine’s Day diadopsi dari nama seorang pendeta bernama Saint Valentine. Dia ditangkap oleh kaisar Claudius II karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih. Dia juga menolak menyembah Tuhan-Tuhan orang Romawi. Kaisar lalu memerintahkan agar dia di penjara dan pada akhirnya dijatuhi hukuman gantung. Orang-orang yang bersimpati kepadanya, lalu menulis surat tentang kecintaan mereka kepada doa sang pendeta. Surat itu kemudian dipajang dan diikatkan di terali bekas penjaranya.

Sementara versi ketiga mengacu pada sebuah pesta yang dilakukan orang-orang Romawi kuno yang disebut Lupercalia. Inilah versi terkuat yang diyakini kebenarannya hingga saat ini. Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian pensucian di masa Romawi kuno. Upacara yang khusus dipersembahkan untuk mengenang dan mengagungkan dewi cinta (Queen of Feverish Love) yang bernama Juno Februata. Dalam pesta tersebut, para pemuda mengambil nama gadis di sebuah kotak secara acak. Nama gadis yang diambilnya tadi kemudian menjadi pendampingnya selama setahun untuk bersenang-senang.

Bergesernya Makna Valentine’s Day

Seiring berjalannya waktu, tahun 496 M Paus Gelasius I mengubah upacara ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day. Upacara untuk menghormati Saint Valentine yang mati digantung oleh kaisar Claudius. Dia digantung karena melanggar aturan kaisar yang melarang para pemuda untuk menikah. Kaisar Claudius berpendapat bahwa tentara yang masih muda dan berstatus bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan. Lelaki yang belum beristri lebih sabar bertahan dalam perang dibandingkan tentara yang sudah menikah. Oleh Karena itu, kaisar memerintahkan untuk melarang kaum laki-laki untuk menikah. Namun, Saint Valentine menentang kebijakan itu. Dia berpendapat bahwa pemuda-pemudi tetap harus mendapat ruang yang luas untuk melampiaskan hasrat cintanya. Dia lalu secara diam-diam menikahkan banyak pemuda.

Sejak orang-orang Romawi kuno mengenal agama Nasrani, maka pesta jamuan kasih sayang ini (pesta Lupercalia) lalu dikaitkan dengan upacara kematian Saint Valentine. Setelah Paus Gelasius menetapkan tanggal 14 Februari sebagai tanggal penghormatan buat Saint Valentine, maka akhirnya perayaan ini berlangsung secara terus menerus setiap tahunnya hingga sekarang. Hari ini dijadikan sebagai momen untuk saling tukar menukar pesan kasih dan menempatkan Saint Valentine sebagai simbol dari para penabur kasih. Hari Valentine ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga, coklat, dan gua-gula. Hari Valentine juga diisi dengan acara kumpul-kumpul, pesta dansa, minum-minuman alkohol hingga pesta seks. Singkatnya perayaan kasih sayang ini dipersembahkan untuk mengagungkan Saint Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, kepasrahan, dan keberanian dalam memperjuangkan cinta.

Sikap Seorang Remaja

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kaum remaja khususnya pemuda-pemudi Islam? Haruskah mereka ikut hanyut dalam perayaan itu? Tentu jawabannya tidak. Karena Valentine’s Day bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Valentine’s Day bersumber dari paganisme orang musyrik penyembah berhala. Valentine’s Day justru telah merendahkan dan mempersempit makna cinta. Cinta dihargai sebatas coklat, bunga mawar, greeting card, ciuman dan seks bebas. Valentine’s Day juga menyempitkan kasih sayang hanya sehari saja. Padahal dalam Islam, kasih sayang itu perlu diaktualisasikan setiap saat dan di setiap tempat. Bahkan kita diperintahkan untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh manusia.

Perayaan Valentine’s Day juga menggiring remaja untuk melakukan seks. Hal itu dapat kita saksikan dengan jelas dari propaganda mereka. Seorang pakar kesehatan di Inggris bahkan menganjurkan seks di hari Valentine. Direktur kesehatan British Heart Foundation yakni Prof. Charles George mengungkapkan bahwa seks bebas tidak saja membakar 100 kalori dalam tubuh, tetapi juga sangat baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, dia menganjurkan agar masyarakat di manapun, baik tua maupun remaja, hendaknya mengisi perayaan hari Valentine dengan pesta seks.

Olehnya itu, penulis secara pribadi dan sebagai pendidik mengajak kepada seluruh remaja khususnya pemuda-pemudi Islam untuk menjauhi dan tidak ikut-ikutan dalam perayaan ini. Siapa yang ikut merayakan Valentine’s Day berarti dia telah merusak pribadinya sendiri sebagai muslim dan bahkan menjadi bagian dari mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud)

Strategi Pendidikan Karakter Rasulullah

Written By Admin on Senin, 06 Februari 2012 | 20.39


Maraknya kekerasan di Indonesia membuat banyak kalangan merasakan keresahan yang mendalam. Berbagai konflik, bencana dan masalah lain melanda Republik tercinta. Paling menyedihkan tentunya konflik antar kelompok beragama dan kalangan muda. Budaya tawuran antar kampung, pelajar, mahasiswa dan suku masih terjadi.

Kita pantas bertanya, mengapa Indonesia menghadapi krisis kronis dan mengalami erosi moralitas. Perilaku positif hilang termakan zaman digantikan produksi perilaku negatif yang cenderung destruktif. Harga manusia sangat rendah, penghilangan nyawa dianggap biasa dan budaya kecurigaan antar kelompok sangat tinggi.

Merespon fenomena itu, kita layak bertafakur dan merumuskan kembali sendi kehidupan agama dan kesalehan kolektif yang memudar. Salah satunya mengembalikan kembali posisi ajaran Islam yaitu Al Qur’an dan Hadits. Rasulullah secara proporsional, mengakar kuat dan mampu dirasakan sentuhannya dalam kehidupan masyarakat. Ada baiknya, kita juga kembali belajar membaca ulang bagaimana peri kehidupan teladan terbaik yaitu Rasulullah SAW.



Menumbuhkan Karakter Islami

Dalam kacamata kaum muslimin, gejala merusak yang ada di masyarakat terjadi akibat hilangnya karakter dan kepribadian Islam. Kita kecanduan produk Barat yang hedonistik, serba bebas dan berkiblat pada kesenangan duniawi. Konsep permissif itu berdampak rusaknya tatanan kehidupan sosial, kacaunya moralitas dan mengendurnya nilai kebersamaan antar individu.

Jelas, ini konsepsi yang bertentangan dengan nilai Islam yang mengatur tawazun (keseimbangan) kehidupan dunia dan akhirat. Rasulullah SAW dalam membentuk generasi pilihan sangat mengintensifkan tiga kecerdasan yaitu emosional, spritual dan intelektul. Hasilnya dapat dilihat dan dirasakan, dimana banyak dilahirkan pejuang Islam hebat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat lainnya. Ada beberapa prinsip strategis pembentukan karakter Rasulullah kepada para sahabat sebagai generasi penerusnya.

Pertama, Rasulullah SAW sangat fokus kepada pembinaan dan penyiapan kader. Fakta itu dapat dilihat sejak beliau mulai mendapatkan amanah dakwah. Tugas menyebarkan Islam dijalankan dengan mencari bibit kepemimpinan unggul dan berhati bersih. Dakwah beliau fokus tidak menyentuh segi kehidupan politik Makkah. Selain faktor instabilitas dan kekuatan politik, perjuangan dakwah memang difokuskan nilai pembinaan.

Beliau berusaha menanamkan karakter kenabian yaitu siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan fatonah (cerdas). Rumah Arqam bin Abil Arqam menjadi saksi bagaimana ahirnya kepemimpinan Islam dilahirkan. Point penting pertama pendidikan karakter adalah fokus, bertahap dan konsisten terhadap pembinaan sejak dini.

Kedua, mengutamakan bahasa perbuatan lebih baik dari perkataan. Aisyah menyebut Rasulullah SAW sebagai Al Qur’an yang berjalan. Sebutan itu tidak salah, mencermati Sirah Nabawiyah menjadikan kita menuai kesadaran rekonstruksi pemikiran dan tindakan Rasulullah SAW. Beliau berbuat dulu, baru menyerukan kepada kaumnya untuk mengikutinya. Keshalihan individu berhasil membentuk keshalihan kolektif di masyarakat Makkah dan Madinah.

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah saw. terdapat contoh tauladan bagi mereka yang menggantungkan harapannya kepada Allah dan Hari Akhirat serta banyak berzikir kepada Allah” (QS 33 : 21)

Ketika berdakwah di masyarakat Thaif dirinya mendapat perlakuan buruk dilempari kotoran. Pada saat itu datanglah Malaikat Jibril menawarkan jasa. “Hai muhammad jika engkau kehendaki gunung yang ada dihadapanmu ini untuk aku timpahkan kepada penduduk Thaif, niscaya sekarang juga aku lakukan.” Nabi menjawab “Jangan Jibril, semua itu dilakukan mereka karena ketidaktahuan mereka” kemudia nabi berdo’a “allâhumahdî qaumî fainnahû lâ ya’lamûn” “Ya Allah berikanlah hidayah kepada kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui” Alhamdulillah, Allah SWT mendengar doanya, masyarakat Thaif banyak menjadi pengikut Islam. Point penting kedua, berikan keteladanan baru mengajak orang lain mengikuti apa yang kita lakukan.

Ketiga, menanamkan keyakinan bersifat ideologis sehingga menghasilkan nilai moral dan etika dalam mengubah masyarakatnya. Beliau meluruskan kemusyrikan mereka dengan mengajarkan kalimat tauhid yakni meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Karakter tauhid menghasilkan pergerakan manusia yang dilandasi syariat Islam dalam menjalankan kehidupan. Mengutip Nur Faizin (Republika, 13/10) Pendidikan karakter yang terpenting adalah pendidikan moral dan etika. Rasulallah SAW sendiri pun menegaskan hal itu dalam sabdanya, “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak karimah.” (HR Ahmad dan yang lain). Menumbuhkan kembali akhlak karimah haruslah menjadi kompetensi dalam proses pendidikan karakter setiap bangsa.

Akhirnya karakter itu harus memadukan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Rasulullah SAW sudah memberikan teladan itu dengan membangun pendidikan berbasis moral dan etik. Pembangunan pendidikan dapat dimulai dari Pesantren, Kampus dan Sekolah sebagai tempat subur pembinaan sekaligus pemberdayaan karakter generasi muda. Karena dengan moral yang baik dan etika yang berlandaskan ideologi yang benar akan membentuk komunitas masyarakt bangsa yang rahmatan lil alamin.


Oleh: Inggar Saputra
Pengurus Pusat KAMMI dan Peneliti Institute For Sustainable Reform (Insure)

Pendidikan Karakter Ala Rasululloh


Pada dasarnya manusia dilahirkan memiliki karakter yang fitrah. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah.” (HR Bukhari Muslim). Allah SWT juga menegaskan bahwa setiap jiwa manusia telah berjanji untuk beriman kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. Firman Allah: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): `Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: `Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’.”(QS al-A`raf [7]: 172)


Namun, fitrah manusia tidak selamanya dapat dijaga sehingga setiap Muslim dapat menjadi pribadi-pribadi yang bersih dan jujur serta berakhlak karimah. Kemurnian fitrah manusia dapat dengan mudah terkontaminasi oleh pendidikan yang diberikan orang tua, masyarakat sekitar, dan bahkan sistem yang mendukung seseorang menjadi pribadi yang kehilangan karakternya.

Pribadi-pribadi yang kehilangan fitrahnya akan membentuk komunitas yang tidak berkarakter; mereka akan menjadi masyarakat jahiliyah dan cenderung plagiasi. Dalam konteks seperti itulah Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW kepada orang-orang jahiliyah yang hidupnya hanya mengikuti nenek moyang mereka yang tersesat dan menyembah berhala.

Rasulullah SAW mulai mendidik karakter jahiliyah masyarakat Arab waktu itu dengan meluruskan ideologi atau keyakinannya. Beliau meluruskan kemusyrikan mereka dengan paradigma tauhid, yaitu meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan yang berhak disembah dan menjadi tujuan hidup seluruh manusia di muka bumi. Karakter tauhid inilah yang menjadi landasan pendidikan karakter yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam seluruh ajaran-ajarannya. Syariat atau aturan serta undang-undang tidak serta-merta diterapkan oleh Rasulallah SAW. Undang-undang atau sistem yang tidak dilandasi oleh ideologi atau paradigma yang lurus pasti tidak efektif. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW baru mendirikan suatu komunitas setelah beliau mampu mendidik generasi Muhajirin dan Anshar yang berkarakter di Madinah.

Pendidikan karakter yang terpenting adalah pendidikan moral dan etika. Rasulullah SAW sendiri pun menegaskan hal itu dalam sabdanya, “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak karimah.” (HR Ahmad dan yang lain). Menumbuhkan kembali akhlak karimah haruslah menjadi kompetensi dalam proses pendidikan karakter setiap bangsa.

Strategi Rasulullah SAW tersebut patut dijadikan teladan oleh bangsa kita. Tanpa paradigma yang tepat tentang hidup dan tujuannya, undang-undang dan sistem apa pun yang dibuat menjadi sia-sia belaka. Kita semestinya mampu menjaga kemurnian karakter, meluruskannya jika salah, membentuk sistem yang tidak merusaknya, serta mengawasinya dengan sebaik-baiknya. Wallahu a`lam.

Sebelumnya pendidikan karakter yang bakal gencar dilaksanakan di dunia pendidikan Indonesia semestinya dilaksanakan dalam rangka membentuk dan memperkuat karakter bangsa. Karena itu, pendidikan karakter perlu dipersiapkan dengan matang dan dilaksanakan secara bertahap supaya tidak menjadi sekadar pengetahuan atau indoktrinasi.

Selain itu, pendidikan karakter yang dikembangkan sudah seharusnya berakar dari budaya bangsa Indonesia yang menyepakati Bhineka Tunggal Ika. Pendidikan karakter yang ditanamkan pada anak-anak lewat pendidikan formal meliputi nilai-nilai yang khas Indonesia dan nilai-nilai universal.

kata HAR Tilaar, Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dalam diskusi terbatas sejumlah pemerhati masalah pendidikan di Jakarta. “Tidak bisa pemerintah mau gampang saja soal pendidikan karakter. Harus dipersiapkan dulu dasarnya dan bagaimana nanti bisa melaksanakannya dengan baik. Jangan sampai pendidikan karakter yang sebenarnya bagus itu nasibnya sama seperti Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) di masa Orde Baru yang bentuknya indoktrinasi,”

Tilaar juga mengatakan, Bhineka Tunggal Ika mampu menjadi keunikan negara dan bangsa Indonesia di tengah arus globalisasi. Keberhasilan Indonesia membentuk karakter anak-anak bangsa yang mampu hidup berdampingan dalam beragamnya suku bangsa, agama, ras, dan antargolongan akan menjadi kontribusi terbesar bangsa ini di kancah global.

Charlotte K Priatna, Direktur Sekolah Athalia, menjelaskan mudah saja untuk menyampaikan pendidikan karakter dalam teori atau mata pelajaran. Namun, sekolah yang memang berkomitmen untuk membentuk anak-anak yang cerdas dan berkarakter justru harus mampu membudayakannya di dalam diri anak-anak yang didukung semua anggota komunitas sekolah.

“Jangan pendidikan karakter itu cuma letupan-letupan saja. Seperti kantin jujur yang bagus, kini hampir tak lagi terdengar gaungnya. Kita harus komitmen untuk menjalankan pendidikan karakter di setiap sekolah,” kata Charlotte.

Sekolah yang terdiri dari prasekolah hingga SMA tersebut selama 15 tahun menerapkan pendidikan karakter yang berkesinambungan. Di SD, misalnya pendidikan karakter untuk menjadikan siswa yang mandiri bertanggung jawab, sedangkan di SMP membentuk siswa yang peduli dan berbagi. Sementara di SMA diperkuat dengan pembentukan karakter yang mampu memberi pengaruh pada orang lain lewat kepemimpinan serta berkontribusi pada lingkungannya.

Menurut Charlotte, pendidikan karakter untuk anak mesti dibangun dengan memperkuat komunitas sekolah. Orang tua atau keluarga juga mesti terlibat dengan adanya program parenting class yang diadakan di sekolah.

media.kompasiana.com
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN
Copyright © 2011. Adi Scout - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger